
Team Penyintas Budaya Betawipolitan menggelar acara peluncuran buku “Filosofi Orang Kampung” karya Harry Tjahjono dilaksanakan di Lantai 4, Balai Sastra H.B Jassin, Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki Jln. Cikini, Jakarta Pusat. Peluncuran buku diadakan pada Jumat, 11 September 2026, menghadirkan narasumber Rano Karno, Yahya Andi Saputra, Kurniawan Junaedhie, dan Fanny Jonathan Poyk dan peserta yang hadir mulai dari sastrawan, budayawan, penulis, hingga pihak media penerbitan.

Berangkat dari obsesi Rano Karno untuk membuat film si Doel pada tahun 80-an, penulis buku Filosofi Orang Kampung, Harry Tjahjono, berhasil menulis 2 buku tulisan mengenai si Doel dan hal-hal yang berkaitan dengan Betawi hanya dalam jangka waktu 1 tahun.
Di sisi lain, Fanny Jonathan Poyk, seorang sastrawan yang sudah menghasilkan ratusan karya—cerpen, novel, dan buku-buku motivasi—menjelaskan rangkuman buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono yang berisi perpaduan antara intelektualitas dan keresahan keluarga Betawi melalui para tokohnya. Pada latarnya, kaum terpinggirkan dengan berbagai strata ekonomi terwakili melalui budaya dan keseharian masyarakat Betawi, sebagaimana rakyat jelata didorong untuk membayar pajak demi memenuhi kepuasan kelas atas.
Buku Filosofi Orang Kampung sendiri merupakan buku yang membedah serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. Serial yang kerap kali ditunggu oleh pemirsanya karena—selain menghibur—juga menggambarkan masyarakat Betawi yang hidup dengan kesederhanaan, serta mewakili kehidupan kelas bawah secara umum.
Dalam serial Si Doel Anak Sekolahan, berbagai masalah kelas bawah tergambar dengan jelas, seperti keterbatasan pangan, tingginya harga pokok, ketidakstabilan ekonomi, biaya pendidikan yang tinggi, dan berbagai masalah sosial ekonomi lainnya. Absurditas kehidupan itu sendiri menjadi rangkaian peristiwa yang terstruktur, serta perjalanan manusia dari awal muncul hingga pergi dari meninggalkan bumi untuk selama-lamanya. “Eksistensi manusia sebagai rakyat jelata dalam buku Filosofi Orang Kampung mencerminkan bagaimana upaya manusia untuk menemukan makna intrinsik atau sesuai yang berasal dari dalam diri sendiri yang menjadi sebuah pengalaman dan pengertian bahwa kehidupan manusia selalu akan berakhir dengan beragam kegagalan dan ketidakmustahilan,” ungkap Fanny Jonathan Poyk.
Buku Filosofi Orang Kampung adalah ilustrasi dari kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah, yang menderita akibat berbagai masalah ekonomi yang melanda akibat kemiskinan. Penulis, Harry Tjahjono, merefleksikan berbagai problema kelas masyarakat ke dalam tulisan dan menghasilkan buku dengan berbagai riset dan penelitian di lapangan. Perpaduan itu sendiri membuatnya mengerti bahwa di berbagai kehidupan, manusia tidak selalu selalu berada di dalam kondisi yang baik-baik saja.

Lebih lanjut, Yahya Andi Saputra membedah karya Harry Tjahjono dengan melihat aspek-aspek di dalamnya, seperti suasana kampung, kebudayaan Betawi, tumbuhan, hewan, hingga kegiatan sosial yang biasa dilakukan oleh masyarakat Betawi. “Yang ditulis mas Harry ini ideologi betawi yaitu cinta kasih, akhlak, dan kehormatan. Di situlah cinta kasih rumah penuh cahaya. Cahaya cinta, cahaya kesabaran, cahaya cinta manusia di kampung, nggak kalah dimensinya dengan orang-orang luar biasa,” jelas Yahya Andi Saputra. Ia juga melihat adanya mutilasi perkotaan, bahwa dulu di kampung ini (Buku Filosofi Orang Kampung) semua filosofi orang kampung sudah tumbuh di situ, saat terjadi mutilasi semuanya berubah menjadi rumah mewah, mall, dan sebagainya.
Yahya menutup penjelasan dengan mengatakan bahwa, “Sunyi atau kesunyian bukan menjadi penghabisan. Bagi para pencari, kesunyian mampu dijadikan perenungan untuk pengenalan dan keleluasaan diri. Artinya kesunyian adalah Jalan, bukan kesedihan, untuk selalu hidup.”
Kegiatan peluncuran buku Filosofi Orang Kampung di Taman Ismail Marzuki juga menampilkan pembacaan puisi oleh Fanny Jonathan Poyk karyanya sendiri.