Kuliner Betawi

Kuliner Betawi Tradisi Dan Ekspresi Lisannya

kebudayaan betawi – Kuliner Betawi Tradisi Dan Ekspresi Lisannya, Kuliner atau makanan khsusnya, diproduksi sesuai dengan waktu, kebutuhan, dan orang yang mengkonsumsinya. Baik harian, hari-hari tertentu, maupun upacara tertentu. Makanan yang dibuat untuk pagi tentu berbeda dengan siang, malam, sahur, buka puasa, dan lainnya.

Makanan jga dibuat berbeda-beda tingkat usianya. Ada yang dibuat khusus untuk bayi, anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, dan kakek nenek. Begitu pun pada kondisi-kondisi tertentu, makanan dibuat untuk disuguhkan kepada orang sakit, sehat, kondisi tertentu, dan upacara.

Maka kuliner Betawi dapat memperjelas keberadaannya pada tradisi dan ekspresi lisan, menjadi bagan integral pada bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda, termasuk cerita rakyat, naskah kuno, permainan tradisional.

Pun mempertegas adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan, sistem ekonomi tradisional, sistem organisasi sosial, upacara tradisional. Paling jelas sebenarnya mengungkapkan bentuk-bentuk kemahiran kerajinan tradisional, pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta.

Masyarakat Betawi membuat masakan yang diperisapkan untuk berbagai keadaan. Berikut macam-macam Istilah  pada kuliner Betawi :

  1. Kiro yaitu masakan yang disuguhkan untuk berdua.
  2. Tuhfah yaitu masakan yang disuguhkan untuk pengunjung.
  3. Harsu yaitu masakan untuk wanita yang melahirkan.
  4. Makdubah yaitu masakan untuk undangan. Walimah, masakan untuk perayaan akad nikah.
  5. Akekah yaitu masakan untuk perayaan anak yang lahir.
  6. Godiroh yaitu masakan untuk meramaikan acara sunatan/khitan.
  7. Wadimah yaitu masakan untuk upacara kematian.
  8. Nakibah yaitu masakan untuk orang yang pulang mukim (menuntut ilmu dll), dan
  9. Wakiroh yaitu masakan untuk memulai membangun dan selamatan pindah rumah.

Tanah Jakarta merupakan tanah yang subur, karena daerahnya yang terletak di daerah tropis, dilewati aliran sungai, puluhan setu, rawa, dan diperindah dengan pegunungan di bagian selatan. Suburnya tanah Jakarta, menjadikan pertanian dan perkebunan sektor yang penting bagi orang Betawi. Hal ini dapat diartikan, tanah Jakarta sebagai kawasan agraris.

obyektifnya saat ini sudah sangat berbeda, karena fungsi tanah atau lahan pertanian sudah berganti.

Dengan mudahnya tumbuh Padi (Oryza sativa), Gandum (Triticum spp), Jagung (Zea may), Jawawut (Pennisettum hyphoides), Gadung (Dioscorea hispida dennest), Ganyong (Cannaedulis kar), Kentang Kembili (Dioscorea aculeate L), Kacang Hijau (Phaseolus vulgaris), Kacang Tanah (Arachic spp), Kacang Tunggak (Vigna unguiculata), Kedelai (Glycine spp), Kimpul (Xantosoma violaclum schott), Kacang Merah (Vigna anglaris), Kacang Bogor (Vigna Subterranea L) 16 Kacang Kara (Mucuna Pruriens), Suweg (Amorphophallus campanulatus b.i.), Tales Bogor (Colocasia gigantean Hook), Ubi Jalar (Ipomea spp), Ubi Kayu (Manihoi spp), dan lain sebagainya.

Dalam buku yang ditulis oleh GJ. Fillet, Plaaantkundig Woordenboek van Nederlandsch – Indiet (Amsterdan, J.H. de Bussy, 1888), hampir semua tumbuhan yang tumbuh di nusantara dikumpulkannya. Buku ini lebih sebagai kamus tumbuh-tumbuhan dan dapat dilihat sebagai tanda kesuburan tanah nusantara.

Data tanah partikelir yang dihimpun oleh G. de Beus, Ambtenaar Ned. Ind. Spoorweg- Mij., Plaatselijk Woordenboek van  Java en Madoera, Bevattende Apphabetische Naamlijst van  de Voornaamste Plaatsen en van alle Landbouwondernemingen op Java en Madoera, met Gegevens Betreffende den Post-, Telegraaf-en Telefoondienst, Ligging ten Opzichte van Spoor en Tramwegen, Logeergelegenheden, Vervoermiddelen, enz. (1e Uitgave, Amsterdam : Uitgever J.

de Bussy, 1912), menjelaskan bahwa pada tanah-tanah partikelir yang ada di Batavia en Ommelanden (Batavia dan sekitarnya – sekarang Jabodetabek) berjumlah tidak kurang dari 270-an lokasi. Artinya ada sekitar 270-an tuan tanah yang mengelola atau bahkan memiliki tanah partikelir. Pada tanha-tanah itu ditawajibkan menanam tanaman komoditas internasional, khususnya kopi, pala, lada, pada, kelapa, teh, kina, singkong, rempah-rempah, dan sebaginya. Dengan petunjuk itu jelaslah bahwa bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat masakan tidak kurang-kurang.

Kesuburan dan ijo royo-royo tanah Jakarta dengan hasil tanaman pertanian dan perkebunan, baik tanaman yang dibudidayakan maunpun yang tumbuh liar di lahan-lahan itu merupakan anugerah. Orang Betawi memanfaatkan kasil pertanian dan perkebunannya atau hasil ngeramban (memetik) tanaman liar di kebunnya menjadi bahan kuliner. Maka ratusan jenis kuliner diciptakan. [RudyAlbdr]

 

Sumber Bacaan : LKB

Check Also

SAMBEL GODOG

CERITA PUASA ANAK BETAWI Pengantar Ahlan wasahlan syahri Ramadan. Bulan puasa ini, laman www.kebudayaanbetawi.com menurunkan …

Leave a Reply

Your email address will not be published.