Keroncong Jantung Hati 1
H. Yoyo Muchtar, Tokoh Budayawan Betawi/Foto: LKB

Keroncong Jantung Hati Oleh Yoyo Muchtar

Keroncong Jantung Hati 1
H. Yoyo Muchtar, Tokoh Budayawan Betawi/Foto: LKB

kebudayaan betawi – Keroncong Jantung Hati. Usia Si Jantung Hati ini sudah tidak muda lagi, namun perjuangannya mempertahankan musik keroncong Betawi tidak pernah surut. Sang Babe Yoyo Muchtar, pria kelahiran 70 tahun silam ini terus mempertahankan eksistensi Keroncong Betawi melalui Keroncong Bandar Jakarta.

“Masyarakat harus tahu bahwa keroncong di Jakarta masih ada”

Keroncong Jantung Hati
Klik Tullisan Ini Untuk Melihat Film Keroncong Jantung Hati

Keroncong Bandar Djakarta berdiri sejak tahun 1978. Band ini biasanya beroperasi di Kompleks Perumahan DKI, Blok M3, No. 1, Pondok Kelapa, Jakarta Timur.
Yoyo mengatakan kepada Peritajakarta baru-baru ini: “Saya telah mengenal musik keroncong sejak saya masih muda. Selain itu, orang tua saya juga menyukai musik keroncong. Saya telah mempelajari musik keroncong sejak saya berusia 12 tahun.”
Ia melanjutkan, dalam memainkan musik keroncong tidak bisa sembarangan, tetapi harus memiliki jiwa untuk menghasilkan irama yang indah dan syahdu.
“Anda tidak bisa hanya memainkan instrumen yang Anda gunakan,” katanya.

Yoyo menegaskan bahwa kesetiaannya pada musik keroncong tidak sebatas cinta. Tapi karena saya sangat ingin menyimpan musik ini.
“Masyarakat harus tahu bahwa keroncong di Jakarta masih ada. Meski banyak yang menilai jenis musik ini sudah ketinggalan zaman,” katanya.
Berbagai alat musik yang digunakan dalam Kerokong Betawi adalah biola, suling, cello, pino, gitar dan bass. Sementara itu, sejumlah lagu yang sering dimainkan antara lain Stanbul Betawi, Melayu Hilang Tak Kenangan dan Renungan.
“Musik keroncong sendiri sudah ada sejak abad ke-16. Keroncong Betawi dulunya membawakan ketukan dalam pencak silat Betawi, dan menjadi musik pengiring penari Malaysia,” katanya.
Di akhir perbincangan, Yoyo berharap pemerintah bisa membuka kreativitas dalam pagelaran seni Betawi di Jakarta dan mengundang pihak swasta untuk turut serta dalam pelestariannya.
“Kami ingin bisa lebih sering tampil di hotel, bisnis dan restoran, serta di destinasi wisata di Jakarta,” ujarnya.

Sementara itu pada sebuah pagelaran disaksikan Ratusan pengunjung HUT ke-19 Kampung Budaya Betawi Situ Babkan (PBB) di Jagakarsa, Jakarta Selatan, menikmati alunan musik Keroncong Betawi karya Orkes Keroncong Bandar Jakarta.
Orkestra yang didirikan pada tahun 1978 ini menampilkan total enam lagu, lagu Hilang Tak Berkesan dan Renungkanlah karya Mashabi; Keroncong Setu Babakan dan Bercinte Tempo Dulu karangan Ridwa Saidi; Minta Kawin dari Benyamin Sueb; dan Juwita Malam ciptaan Ismail Marzuki.

Keroncong Betawi ini berbeda dengan jenis keroncong lainnya, kata Yoyo Muchtar, konduktor Orkes Keroncong Bandar Jakarta. Meskipun mayoritas alat musik yang dimainkan sama, cara memainkannya berbeda.
Yoyo yang juga Kepala Bidang Pelestarian dan Penguatan Lembaga Kebudayaan Betawi mengatakan,  “Kalau Keroncong Soloan nomor satu krung atau kencrung  lainnyapendamping. (15/9) Minggu Malam.

Yoyo menilai Keroncong Betawi lebih dinamis dalam hal ritme. Jadi lagu-lagu yang dibawakan biasanya beberapa sentuhan dan irama Malayu, kekhasan lain kekhasan lain terdapat pada cengkoknya..

“Ada beberapa jenis keroncong seperti Keroncong Langgam, Keroncong Pop, Keroncong Stambul dan Keroncong Asli, sedangkan lagu Keroncong Betawi kebanyakan pantun. Perbedaan itu mempengaruhi pendengar dan cara memainkannya,” jelasnya.

Ia menambahkan, saat ini ada sekitar empat sanggar keroncong Betawi di Jakarta. Yoyo berharap pemberdayaan seniman Betawi, khususnya musik Betawi, terus digalakkan sebagai upaya melestarikan budaya Betawi.

Check Also

LAGU JALI – JALI DARI BETAWI

LAGU JALI – JALI DARI BETAWI

Lagu Jali-jali – Daerah Khusus Ibukota Jakarta adalah sebuah provinsi sekaligus berstatus sebagai ibu kota …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *