
Setidaknya ada tiga tradisi lisan Betawi yang saat ini napasnya Senin-Kamis, kalau tak mau dikatakan dilupakan publik: Sahibul Hikayat, Buleng, dan Gambang Rancag.
Sahibul hikayat adalah cerita berbentuk prosa yang banyak mengambil kisah dari Timur Tengah dan Persia. Tradisi ini berkembang di kalangan masyarakat Betawi tengah. Sedangkan Buleng adalah cerita atau dongeng yang berkembang di kalangan Betawi pinggir, umumnya bertema kerajaan dan legenda lokal. Cerita Buleng banyak dipengaruhi oleh bahasa dan kebudayaan Sunda. Terakhir, Gambang Rancag adalah cerita yang disampaikan lewat pantun berkait, diiringi musik gambang kromong.
Siang ini, Senin (2/11/2026), saya diundang menghadiri Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) “Kajian dan Revitalisasi Tradisi Lisan Buleng” di Jakarta Urban Knowledge Hub, Gedung Nyi Ageng Serang lantai 6. Diskusi yang diinisiasi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) ini menghadirkan sejumlah guru SMA/SMK dari berbagai sekolah di Jakarta. Sasaran kali ini memang para guru, yang diharapkan dapat membantu pelestarian tradisi lisan Betawi di ruang kelas.
Salah satu narasumber, Dr. Siti Gomo Attas bilang, satu hal yang mesti selalu diingat adalah konteks tradisi lisan Buleng dan satra lisan Betawi lainnya adalah bercerita. Ada cerita yang disampaikan dan ada pebuleng atau tukang cerita yang menyampaikan. Pun ada penonton atau pendengar yang menyaksikan – yang kalau perlu – berinteraksi dengan pebuleng. Buleng enggak akan “bunyi” jika kita hanya baca teks ceritanya saja. Buleng murni tontonan.
Soal konteks ini, saya sepakat dengan Siti Gomo. Jika mau berkembang dan diterima anak-anak muda kiwari, tradisi story telling Betawi ini mesti sadar akan konteks tradisi lisan, serta mengembangkan interaksi dengan para penonton. Pola partisipatif kiwari sangat disukai anak-anak muda, karena mereka merasa sebagai bagian dari sebuah seni pertunjukan.
Masih ingat kontroversi “Lenong Rumpi” di tahun ’90-an yang sempat “ditolak” oleh sejumlah tokoh Betawi, lantaran dianggap keluar dari pakem Lenong? Makin dikritisi, Lenong Rumpi malah makin populer. Dalam pertunjukannya, mereka melibatkan penonton untuk mengeluarkan celetukan apa saja, termasuk menceletuki pemain. Interaksi ini justru menjadi salah satu daya tarik Lenong Rumpi.
Tapi sastra lisan ‘kan bukan seni teater seperti Lenong? Yup, benar, dan tidak perlu mengubah Buleng menjadi teatrikal. Yang dibutuhkan adalah support system yang mendukung agar Buleng tidak menjadi sekadar monolog yang membosankan. Support system itu dapat berupa musik yang artikulatif, penonton yang sekadar bertanya: “Jadi Ciung Wanara mati? Kasihannn.” Cahaya lampu warna-warni sesuai alur cerita, atau peran manusia dan alat bantu lainnya.
Tradisi ngebuleng sendiri diyakini lebih tua daripada Sahibul Hikayat dan Gambang Rancag. Ngebuleng mempunyai karakter bahasa, gaya bertutur, struktur cerita, dan latar belakang sosial yang khas di pinggir Jakarta. Dari mana asal kata Buleng? Ternyata ada dua versi. Pertama berasal dari sosok lelaki bernama Pak Buleng yang tinggal di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Versi kedua, di kalangan masyarakat Betawi, Buleng artinya cerita atau dongeng, meski secara etimologi hal ini mesti diperiksa lagi.
Sejumlah daerah di pinggir Jakarta terdokumentasikan sebagai tempat berkembangnya Buleng, antara lain Cisalak, Cijantung, Cililitan, Kali Malang, Bekasi, Depok, Condet, dan sekitarnya. Wilayah-wilayah tersebut memiliki hubungan historis yang sangat kuat dengan kebudayaan Sunda.
Dari FGD hari ini, saya percaya, Buleng dan tradisi lisan lainnya berpotensi mengisi apa yang saya sebut sebagai “ruang sosial” di masyarakat. Ruang yang sangat dibutuhkan dalam pelestarian dan pengembangan budaya Betawi, agar budaya tidak hanya ada di etalase museum dan pertunjukan formal. Ruang yang selama ini kurang diminati anak-anak muda lantaran mereka lebih asyik dengan pola interaktif di media sosial. Buleng baiknya mengikuti zaman, tradisi lisan jangan lagi satu arah.
Kehadiran para guru seni budaya di ruang FGD pun membuat saya optimistis ruang sosial ini dapat terbentuk. Ruang sosial bisa berupa kelas, trotoar di Jalan Thamrin dan Sudirman, taman kota, pinggir kali Ciliwung, hingga lapangan kosong di pelosok kampung. Termasuk tentu saja, ruang digital dan media sosial. Dalam pembelajaran di kelas, siswa bukan saja bisa terlibat sebagai pebuleng, tapi juga komentator atas cerita yang dibawakan, pasukan pencemooh jika pebuleng sedang menceritakan sosok jahat, dan pasukan sorak ketika pebuleng sedang membahas tokoh baik.
Budaya Betawi, khususnya tradisi lisan yang punya potensi interaktif kuat dengan penikmatnya, perlu memanfaatkan lebih banyak ruang sosial. Karena pelestarian budaya tidak bisa lepas dari perkembangan sosial masyarakat. Guru dan kelas dapat menjadi ujung tombak terciptanya ruang sosial ini.
Lantas di mana peran Lembaga Kebudayaan Betawi? Saya mencatat, setidaknya ada “4-Sasi” yang bisa dilakukan LKB. Pertama, inventarisasi ide-ide cerita kekinian yang cocok dengan siswa SMK/SMA. Kedua, regenerasi, mesti ada calon-calon pebuleng masa depan yang dilahirkan, baik lewat lomba maupun nyaba sekolah dan kampus. Ketiga, aktualisasi, memfasilitasi ruang sosial buat para pebuleng dan pelaku seni budaya lisan lainnya. Keempat, digitalisasi, membantu penyebarluasan atraksi Buleng di platform digital, sehingga mudah didapatkan oleh anak-anak muda.
Oh ya, selain Siti Gomo, FGD juga menghadirkan narasumber Drs. Yahya Andi Saputra, M.Hum, Erin Nurwantari, S.Sn., M.Sn, Fadjriyah Nurdiarsih, S.Hum, dan Dr. Gres Grasia Azmin, M.Si sebagai moderator. Semoga kelak Buleng bukan hanya dapat mengisi ruang sosial, tapi juga bermetamorfosis dengan baik di ruang digital. Sehingga tradisi lisan Betawi kian dikenal luas hingga dunia internasional. Aamiin. (icoel)
