Hikayat Marakarma (Bagian 10)

Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli. Hikayat Marakarma disebut pula dengan Hikayat Si Miskin merupakan karya sastra tulis melayu klasik Betawi, buah karya Muhammad Bakir. Beliau dan ketiga saudaranya dan Sapirin—yang sering juga disebut Guru Cit, adalah anggota keluarga Fadli yang aktif dalam proses menerjemahkan, menyadur dan penulisan. Mari kita baca Hikayat Marakarma.

Ajakan Raja Indera Dewa melakukan serangan mendadak ke keRajaan Marakarma mendapat sambutan dari keRajaan-keRajaan lain. Pertemuan singkat dilaksanakan. Semua persenjataan dipersiapkan.

“Esok hari kita ke padang perjuangan Beram.” kata Raja Indera Dewa. Keesokan harinya Raja-Raja, punggawa, menteri, hulubalang, dan seluruh rakyat sudah bersiap siaga dengan senjata masing-masing. Beberapa waktu kemudian berangkat berangkatlah pasukan ke luar kota dengan menabuh bunyi-bunyian. Sesaat saja penuh sesaklah padang perjuangan Beram, siap tempur menghancurkan keRajaan Marakarma.

Persiapan Raja Indera Dewa untuk menyerbu Marakarma, diketahui punggawa yang bertugas memeliharan keamanan. Punggawa langsung melaporkan kepada Marakarma. Marakarma bersama dengan Raja Mangindera Sari menghadap ayahandanya.

“Marilah anakda duduk dekat ayahda.” Pinta ayahandanya.

“Ya, tuanku, syah alam, patik berdua datang memohon ke bawa duli yang diper­tuan, patik hendak mengusir Raja Indera Dewa yang telah menanti di luar kota.” Ucap Marakarma.

“Janganlah anakda melawan maharaja Indera Dewa. Ia Raja besar. Banyak keRajaan takluk kepadanya. Lagipun ia Raja yang pandai ilmu hikmat dan ilmu perang. Biarlah ayahda yang melawan dia. Jika ayahda mati, terserah apa yang akan anakda lakukan.”

“Tidak tuanku syah alam. Jangan baginda, jika anakda berdua telah mati, barulah tuanku boleh ke medan perang. Jika tidak, bunuh hamba berdua.”

Baginda tidak berdaya mendengar sembah kedua anaknya. Lalu dipeluk dan dicium keduanya. “Pergilah tuan, berhati-hatilah.” Marakarma dan Mangindera Sari menyembah memohon restu.

Raja-Raja, menteri, hulubalang, punggawa, dan rakyat hadir menunggu Maharaja Marakarma dan Raja Mangindera Sari. Melihat kedua anak Raja sudah ke luar, berdirilah semuanya masing-masing sesuai dengan tugasnya. Berbunyilah genderang perang (serunai, nafiri, serdam, nakara, mendali, dandi, muri, ceracap) riuh-rendah memilukan hati bagi yang mendengarnya.

Maharaja Marakarma dan Raja Mangindera Sari berjalan diarak ke luar kota sampai ke tengah padang, berhadap-hadapan dengan maharaja Indera Dewa. Dikibarkanlah tunggul, panji-panji kedua pihak, seperti bunga lalang rupanya. Lembing dan perisai hulubalang yang diacung-acungkan seperti ranggas di tengah padang. Maharaja Indera Dewa mengirim suluh (utusan) bertanya berapa banyakah bala tentara, Raja-Raja, menteri, hulubalang, dan punggawa maharaja Marakarma. Utusan itu diperkenan masuk oleh Marakarma. Maka suluh itu masuk lalu sujud pada kaki maharaja Marakarma.

“Ya, tuanku syah alam Raja Marakarma dan Raja Mangindera Sari, berapakah jumlah prajurit tuan, pahlawan dan hulubalang yang akan turun di medan laga. Baginda Maharaja Indera Dewa itu Raja besar dan banyak raja yang tunduk di bawahnya.”

Maharaja Marakarma tertawa mendengar suluh itu sambil memandang kepada Raja Mangindera Sari. “Tentu ia raja besar, ingin menunjukkan keperkasaannya kepadaku. Dalam pandangannya aku ini orang celaka, di mana aku mendapatkan balatentara dan rakyat seperti dia. Dengarlah kau, suluh. Bala tentaraku hanyalah tiga laksa empat ribu, Raja-Raja lima puluh, tiga orang menteri, hulubalang duaratus lima puluh Sembilan. Pergi­lah dan katakana kepada Raja Indera Dewa. Tanyakan pula kepadanya di negeri mana sepantasnya aku menjadi raja, karena negeri Puspa Sari sangat bertuah, tiada layak aku diam di sana. Tolong­lah ramalkan oleh Raja Indera Dewa, supaya aku tahu tempatku.”

Suluh itupun menyembah, lalu kembali menghadap Rajanya. Semua perkataan maharaja Marakarma disampaikan tanpa dikurangi atau dilebihkan. Raja Indera Dewa amat murka mendengar laporan suluhnya. Muka­nya merah padam seperti api menyala-nyala, seraya bertitah, menyuruh memukul genderang perang. Keluar dan bersiapalah seluruh bala tentara berlompat-lompatan di tengah padang perjuangan Beram berteriak menantang musuh.

Maharaja Marakarma pun menyuruh memukul genderang perang. Seluruh bala tentaranya maju ke tengah medan perang. Raja Rumsyah memohon ke­pada Marakarma untuk maju lebih dahulu.

”Hai, Marakarma, jikalau engkau ingin mati, marilah maju ke medan ini, jikalau engkau masih ingin hidup, datanglah menyembah minta nyawa kepada Raja kami.” Teriak komandan pasukan Raja Indera Dewa.

“Jangan kau sebut nama Raja kami, akulah yang akan menantang Rajamu.” Teriak Raja Rumsyah langsung memasuki medan perang. Maka kedua belah pihak tentara itu berhadapan dan berperang gegap-gempita bunyi­nya. Cuaca menjadi kelam karena debu mengepul ke udara. Darah pun tumpah ke bumi. Bangkaipun bergelimpangan tertimbun-timbunan. Maka mundurlah Balatentara Raja Rumsyah, tidak mampu menahan serangan balatentara Indera Dewa. Melihat itu Raja Umsyah memecut kudanya masuk ke medan perang mengusir pasukan Raja Bahrum Dewa. Melihat Rajanya masuk ke medan perang, maka kembalilah seluruh pasukan dan tentara Raja Rumsyah meraksek pasukan Raja Bahrum Dewa. Pasukan Raja Bahrum Dewa tidak dapat menahan serangan itu, lalu lari ke segala arah masing-masing membawa diri­nya.

Tiba-tiba Raja Rumsyah sudah berada di hadapan Raja Bahrum Dewa. Raja Bahrum Dewa terkejut dan ingin lari namun malu pada Raja-Raja yang menyaksikannya, karena ia pahlawan gagah berani dan sakti. Lalu ia memalingkan kudanya berhadapan dengan Raja Rumsyah. Kedua Raja yang sakti itu saling memanah, namun keduanya tidak terluka karena sama-sama kebal (lut).

Raja Bahrum Dewa lalu memanah ke udara, anak panahnya berubah menjadi api sebasar bukit jatuh menimpah Raja Rumsyah. Melihat anak panah Raja Bahrum Dewa yang berubah api sebasar bukit, Raja Rumsyah segera memanah ke udara. Anak panah Raja Rumsyah berubah menjadi angin ribut, taupan, guruh, kilat dan petir sambung-menyabung, lalu turun seperti halilintar memanah balaten­tara Raja Bahrum Dewa. Bakatentara Raja Bahrum Dewa banyak yang terluka dan mati oleh panah halilintar itu. Api yang berasal dari panah Raja Bahrum Dewa pun padam tertiup angin ribut anak panah Raja Rumsyah.

Raja-Raja kedua belah pihak berdiri di tengah padang menyaksikan kedua Raja itu berperang, gagah dan sakti, sama-sama tidak mau mundur. Haripun petang. Maka genderang dipalu sekaras-kerasnya sebagai tanda penghentian peperangan. Kedua belah pihak tentara kembali ke masing-masing pasukannya. Raja menyambut mereka dan menjamu serta menghibur balatentara dengan makanan dan minuman serta bunyi-bunyian ramai.

“Ya, kakanda, sebaiknya kita memberitahu ayahanda keadaan kita ini. Ayahanda berpesan kepada kakanda jika ada sesuatu, segera memberitahu ayahanda. Lihatlah Raja-Raja beberapa keRajaan datang membantu Raja Indera Dewa. Sedangkan tidak seorang Raja pun datang membantu kita.” kata Raja Mangidera Sari kepada Raja Marakarma.

Setelah diam sejenak, Raja Marakarma menyahut. “Baiklah, tuan berkirim surat kepada ayahanda.” Tanpa banyak berkata, Raja Mangidera Sari menulis surat yang ditujukan kepada ayahandanya. “Sembah sujud anakda maharaja Marakarma kepada duli tuan syah alam baginda dan permaisuri. Mohon ampun beribu ampun, anakda belum dapat datang meng­hadap ke bawah duli syah’alam, karena maharaja Indera Dewa menyerang anakda dari negeri Anta Beranta. Supaya jangan ayahda nantikan.” Lalu Raja Mangindera Sari menyuruh­kan seorang hulubalang yang tangkas dan lincah pergi mengantarkan surat itu kepada baginda.

Setelah menerima surat dari Raja Marakarma, hulubalang menyembah memohon izin, lalu berangkat menuju negeri Pa­linggam Cahya. Siang dan malam hulubalang itu berjalan tidak pernah berhenti. Maka sampailah hulubalang itu ke negeri Palinggam Cahya. Ia disambut menteri yang langsung membawanya menghadap baginda. Saat itu baginda sedang melakukan pertemuan membahas keadaan Raja Mangindera Sari, mengapa anaknya itu belum juga pulang.

Hulubalang sampai di hadapan baginda dan sujud kepada kaki baginda, seraya menyerahkan su­rat dari Raja Marakarma. Bentara (pembantu raja) menerima surat itu dan memohon izin kepada baginda untuk membacakannya. Baginda mendengarkan dengan seksama isi surat itu. Baginda amat murka mendengar isi surat itu, seperti ular berbelit-belit seraya bertitah kepada Perdana Menterinya. “Hai perdana menteri, aku perintahkan kepadamu, kumpulkanlah seluruh rakyat, balatentara, menteri, punggawa, hulubalang, dan suruh datang raja-raja yang takluk ke­padaku, menghadap hari ini juga.”

Perdana menteri memahami apa yang diperintahkan kepadanya. Tanpa banyak bicara dihimpunkannya semua kekuatan berkhidmat di depan baginda. Setelah semua berkumpul baginda dan permaisuri pun berangkat diiringi oleh raja-raja, menteri, hulubalang, balatentara, dan rakyat agar cepat sampai. Hanya Perdana Menteri tinggal di negeri Palinggam Cahya.

Wallahu ‘alam bissawab.

Check Also

Hikayat Marakarma (Bagian 6)

Hikayat Marakarma (Bagian 6)

Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *