Hikayat Marakarma (Bagian 5)

Hikayat Marakarma (Bagian 5)

Hikayat Marakarma (Bagian 5)

Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli. Hikayat Marakarma disebut pula dengan Hikayat Si Miskin merupakan karya sastra tulis melayu klasik Betawi, buah karya Muhammad Bakir. Beliau dan ketiga saudaranya dan Sapirin—yang sering juga disebut Guru Cit, adalah anggota keluarga Fadli yang aktif dalam proses menerjemahkan, menyadur dan penulisan. Mari kita baca Hikayat Marakarma.

“Baiklah, kakanda. Aku ikut apa yang kakanda perintahkan.” Marakarma disembunyikan oleh isterinya di bawah tempat tidur, ditutupi dengan kawah besar.

Sampailah raksasa di rumahnya. Dia hempaskan tubuhnya, mengakibatkan rumah seolah-olah terbongkar dan rubuh.

“Hai, cucuku, aku mencium bau manusia lain. Dimana ada manusia?” Tanya raksasa. Hidung raksasa telah mengendus ada manusia lain di sekitar rumahnya.

“Nanekku, mana ada manusia lain, selain aku seorang? Lagi pula mana berani manusia datang ke sini?” jawab puteri.

Raksasa diam mendengar ucapan puteri. Lalu menghidupkan api untuk masak dan menyiapkan perlengkapan memasak. Kata hikayat, semua binatang di hutan, di sekitar rumah raksasa pergi berlari takut melihat api yang begitu besar seolah-olah membakar sebuah negeri. Api sebesar itu dibuatnya memasak nasi serta lauk-pauknya. Api yang besar berasap tebal sehingga rumah raksasa itu menjadi gelap karena asap. Digelarnya tikar yang lebarnya kira-kira sepuluh depa. Setelah nasi masak, diangkat dan diangi. Tampaklah nasi itu bercampur  segala binatang seperti kalajengking, lipan, cecak, bengkarung, tokek, tikus, kelelawar, dan lain sebagainya. Belum lagi binatang kecil seperti lalat, nyamuk, semut, cacing dan adas sehingga nasi itu kelihatan seperti timbunan sampah dengan bangkai. Sementara binatang lain yang tidak tertangkap, berhamburan melarikan diri ke berbagai arah.

Raksasa duduk makan sambil berdahak dengan suara gemuruhnya yang dahsyat. Sehabis makan ia minum, keringlah sebuah telaga. Sambil duduk dicabutnya sebatang pohon sebesar betis untuk mencucuk giginya, jikalau kiranya ada daging terselit pada giginya. Berselonjor ia pun lalu berbaring sambil bernyanyi dan berpantun. Gemuruh suaranya seperti halilintar menyambar-nyambar.

Maka Marakarma terkejut mendengar nyanyian raksasa itu. Sementara puteri tidak terkejut sama sekali karena sudah terbiasa dengan tingkah raksasa itu. Begitu pula binatang yang ada di dalam hutan rimba belantara berlari-larian menjerit-jerit sabil berak dan kencing sepanjang jalan. Binatang yang sedang bunting, segera beranak dan matilah anaknya diinjak oleh binatang yang berlarian. Binatang yang sedang berkicau atau bersuara serta menyanyi berhentilah suaranya mendengar suara raksasa.

“Hai, cucuku, merdukah suaraku bernyanyi?” Tanya raksasa kepada puteri.

“Sungguh sangat merdu, suara nenek bernyanyi, seperti buluh merindu bunyinya, halus manis, sedap bunyinya. Sering aku mendengar orang menyanyi, tiadalah semerdu suara nenek. Orang yang baru melahirkan lupa pada anaknya. Air yang mengalir ke hilir, berhenti mengalir. Sebab ia mendengar suara nenek bernyanyi terlalu sangat merdu. Bernyanyilah, nek, terlalu senang aku mendengarnya.” Ucap puteri.

Raksasa tertawa terbahak-bahak mendengar pujian puteri. Suara gelak tawanya bergemuruh seperti suara gunung meletus. Ia pun menyanyi lagi, kali ini bersama suaminya. Gempita-gempita suaranya. Dahsyuat seperti langit akan runtuh.

Marakarma tertawa menahan lucu dalam hatinya. Selain Marakarma dan puteri, tidak ada yang sanggup mendengar nyanyian suami-istri raksasa itu. Karena sangat dahsyat bunyinya, segala margasatwa di dalam hutan makin jauh larinya. Sejauh dan sekuat binatang itu berlari  karena takut. Di tempat yang tidak terdengar suara raksasa, di sanalah binatang itu berhenti dan beristirahat.

Sudah makan kenyang, lalu menyanyi menghibur diri, raksasa pun tidur lelap. Tidurnya mendekur dan bunyi nafasnya bergemuruh seperti ombak memecah tebing karang. Keesokan harinya, ketika raksasa bangun dari tidur, ia mencium bau manusia.

“Cucuku, dimana bau manusia ini, sangat keras bahunya?” Tanya raksasa.

“Nenek, dimana ada manusia, akulah seorang. Jikalau nenek hendak makan aku, makanlah!” Gemetar ketakutan puteri berkata begitu.

“Sudah besar hatimu cucuku?”

“Belum nenek. Jika ingin cepat besar, carikanlah aku hati segala binatang, seratus jenis, untuk aku makan. Dengan memakan hati binatang sebanyak itu, hatiku cepat besar. Jika tidak demikian, seratus tahun lamanya nenek memelihara aku, niscaya hatiku tiada akan besar.“

“Baik, nanti akan kucarikan. Sekarang cari kutu di kepala nenek, gatal benar kepalaku ini.” Perintah raksasa.

Segeralah Tuan Puteri mengambil kacang dan jagung, yang sudah digoreng bersama jepitan dan palu dari besi. “Baiklah, nenek, marilah aku carikan kutu nenek.”

Puteri mencari kutu di kepala kedua raksasa. Ternyata kepala raksasa bukan hanya didiami kutu, bahkan ular, kalajengking, halipan dan kecoa hidup di situ. “Jika ketemu, tindaslah cucuku, terlalu gatal kepalaku.” Kata raksasa dengan mata merem-melek.

Puteri menemui ular, maka dijepitnya kepala ular itu dan dipukulnya denga palu sekeras-kerasnya. “Ah, cucuku, pandai benar mencari kutu.” Kata raksasa. Sesudah memukulkepala ular, puteri mengambil kacang dan dimakanya.

“Hai, cucuku, apa yang kau makan?”

“Telur kutu, nek.”

Tiga hari lamanya raksasa tinggal di rumahnya. Ia bersiap ingin pergi. “Tunggulah cucuku baik-baik, aku hendak pergi mencarikan cucu, hati segala binatang.”

“Baiklah, nenek, cepatlah nenek kembali.”

“Baiklah cucuku.” Maka kedua raksasa pergi ke hutan, mencari binatang. Tetapi jangan kan bertemu kijang, menjangan, monyet atau kambing, seekor lalat pun tidak ditemuinya. Tentu saja raksasa penasaran. Ia terus masuk hutan keluar hutan namun tidak satu pun binatang dilihatnya. Kenapa begitu? Karena semua binatang yang mendengar raksasa menyanyi atau mendekur, sudah lari dan pergi sejauh-jauhnya, takut akan keganasan raksasa itu. Tidak ada suara binatang. Hutan menjadi sunyi. Tetapi raksasa itu terus saja berjalan mencari binatang, mungkin akan ditemuinya. Sudah terlalu jauh ia berjalan, berhenti di tengah padang, sambil menoleh kanan-kiri, seekor binatang tidak  ada.

Kata hikayat, sepeninggal raksasa, Marakarma keluar dari persembunyiannya. Bersama puteri ia membuat lubang jebakan di tempat biasanya raksasa pergi dan pulang. Pada lubang itu ditaruhnya ranjau, ditutupi dengan dedaunan kering.

Selesai membuat jebakan, Marakarma mengeluarkan perkakas yang mungkin dapat digunakannya. Sebelum meninggalkan rumah raksasa, Marakarma membuat tali ijuk  dilumuri minyak. Tali itu ditariknya sampai ke pantai lalu ujungnya dibakar. Perlahan tapi pasti, tai ijuk itu terbakar dan pada saatnya akan sampai di rumah raksasa. Tentu rmah itu akan terbakar.

Kemudian Marakarma mengajak puteri pergi meninggalkan rumah raksasa menuju pantai. Ia berharap ada kapal liwat dan bersedia membawanya pergi dari pulau itu. Setelah sampai di tepi pantai, dilihatnya ada sebuah kapal berlayar, jatuh dan belum jelas terlihat orangnya. Setelah kapal semakin dekat, Marakarma dan puteri melambai-lambai tangan dengan kain putih. Lambaian tangan Marakarma dan puteri dilihat oleh nahkoda kapal.

”Hai, jurubantu, jurumudi dan kelasi, aku lihat ada orang melambai di pulau itu, apa sebaiknya kita singgah di pulau itu?” ucap nakhoda.

“Tidak ada salahnya jika kita singgah, tuan. Supaya kita tahu kenapa ada orang di pulau itu. Setahu saya, tidak ada manusia yang berani singgah di pulau itu, karena pulau itu ditempati raksasa yang ganas.” Jawab jurumudi.

“Jika demikian, baiklah kita singgah.” Ucap nakhoda. Maka kapal itupun singgah. Nakhoda melihat terlalu banyak perkakas di tepi pantai itu. Marakarma dan puteri senang bukan main melihat kapal singgah di pulau itu. Terlalu suka cita, di dalam hatinya berkata, “Selamatlah aku dari tangan raksasa jahat itu.”

Nakhoda dan seluruh anak buah kapal turun ke darat. Marakarma segera mendatangi nakhoda dan bersalaman.

“Bagaimana ceritanya tuan muda diam di pulau ini?”

Marakarma menceritakan asal-muasal kenapa dia dan puteri sampai tinggal di pulau ini. Nahkoda dan semua anak buah kapal pun menangis menaruh belas kasihan mendengar cerita Marakarma.

“Sekarang ini jikalau ada belas kasihan tuan nahkoda, hamba hendak minta tolong kepada tuan nahkoda.”

“Apa yang tuan kehendaki, katakanlah.”

“Izinkanlah kami menumpang di kapal tuan, supaya kami dapat keluar dari pulau yang seram ini.”

Nakhoda merasa kasihan mendengarkan kata permohonan Marakarma. “Baiklah, hai orang muda, naikkanlah semua barangmu. Kita harus segeralah berlayar, karena aku takut raksasa mengetahui kita di sini.“ Marakarma terlalu suka cita mendengar ucapan nakhoda. Segera saja semua barang dimasukkan ke kapal. Kapal itupun berlayarlah.

Sudah tiga hari tiga malam kapal yang membawa Marakarma dan puteri berlayar di tengah lautan. Diceritakan bahwa tali ijuk yang ujung dibakar Marakarma akhirnya sampai ke timbunan yang sudah diminyaki. Tent api membakar sampah dan rumah raksasa pun ikut terbakar. Karena apinya terlalu besar seperti bukit tinggi lidah api, cahayanya terlihat dari jauh. Asapnya  pun menyebar ke segala penjuru tertiup angin.

Api yang besar itu dilihat oleh raksasa dan menyadari jika api itu membakar rumahnya. Kedua raksasa bergegas pulang. Kedua raksasa berjalan melewati jalan seperti biasa. Tentu saja dia tidak tahu jika di jalan itu sudah dibuat jebakan. Jatuhlah kedua raksasa itu ke dalam lubang jebakan yang dibuat Marakarma. Jatuhnya raksasa itu berdentum keras sehingga rumahnya yang terbakar rubuh dan menutupi lubang jebakan. Terbakarlah kedua raksasa itu dan mati.

Dikisahkan bahwa nahkoda kapal mempunyai niat yang jahat terhadap Marakarma. Nakhoda bermufakat dengan anak buahnya untuk membunuh Marakarma. Tetapi tidak satu pun anak buah kapal mau mengikuti ajakan nakhoda. Nakhoda mempunyai niat jahat, karena melihat istri Marakarma terlalu amat elok parasnya, juga banyak hartanya.

Lima hari lima malam sudah kapal berlayar di tengah lautan. Nakhoda berpikir keras bagaimana dapat membunuh Marakarma. Pada malam kelima itu, badai berkecamuk dengan hebatnya. Angin ribut, taupan, halilintar, kilat sambung-menyambung tengah malam gelap gulita. Kapal terombang-ambing.

Pada saat badai dan gelap gulita seperti itu, nakhoda melihat Marakarma berdiri ditepi perahu. Nahkoda mendatangi Marakarma. Tanpa berbicara apa-apa, nakhoda mendorong Marakarma dengan sekuat tenaga. Maka Marakarma jatuh ke laut. “Matilah engkau dimakan hujan badai. Engkau hidup di dasar laut.” Ucap nakhoda.

Beberapa waktu kemudian, badai pun reda. Laut tenang tidak bergelombang. Perahu berlayar seperti biasa. Tuan Puteri mencari-cari suaminya, Marakarma, ke semua sisi kapal, tapi tidak ditemuinya. Putus asa tidak bertemu suaminya, iapun menangis berseru-seru memanggil suaminya. “Wah, kakanda, sampai hati kakanda pergi seorang diri tiada mengajak adinda bersama-sama. Apa gunanya aku hidup, lebih baik mati.” Seraya berkata seperti itu, puteri hendak terjun ke laut. Sebelum sempat terjun  tangannya ditangkap oleh jurubatu.

“Tenanglah tuan jangan menangis. Nanti juga pasti bertemu dengan kakanda tuan. Dahulu waktu diikat orang, ia tiada mati. Sekarang ini tidak diikat, pasti selamat. Masuklah ke kamar tuan, istirahat saja.” Ucap jurubatu.

“Benar apa yang diucapkan oleh juru batu itu.“ Pikir tuan Puteri.

Rupanya nakhoda melihat peristiwa itu, ia berlari-lari menemui Tuan Puteri. “Diamlah tuan jangan menangis. Masa orang mati dapat hidup lagi. Jang tuan, kuatir, kakanda akan menggantikan memelihara dan merawat tuan. Usah bersusah hati.”

Melihat kelakuan dan mendengar kata-kata nahkoda seperti itu, puteri justru menjadi benci bukan main. Diambilnya piasu hendak membunuh diri. Nahkoda melihat gelagat kurang baik dari tuan Puteri yang hendak menikam dirinya, mundurlah ia. Di dalam hatinya ia berkata, “Kau sudah di tanganku.”

Puteri itu masuk ke dalam kamarnya. Dikuncinya pintu rapat-rapat. Ia tidak pernah keluar dari kamarnya. Begitulah tuan Puteri sehari-hari. (Bersambung)

Check Also

Hikayat Marakarma (Bagian 6)

Hikayat Marakarma (Bagian 6)

Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *