Hikayat Marakarma (Bagian 8)

Hikayat Marakarma (Bagian 8)

Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli. Hikayat Marakarma disebut pula dengan Hikayat Si Miskin merupakan karya sastra tulis melayu klasik Betawi, buah karya Muhammad Bakir. Beliau dan ketiga saudaranya dan Sapirin—yang sering juga disebut Guru Cit, adalah anggota keluarga Fadli yang aktif dalam proses menerjemahkan, menyadur dan penulisan. Mari kita baca Hikayat Marakarma.

“Nanti dulu, baginda, patik ingin menyelidik keadaan. Izinkan patik mengajak anakda ini.”

“Jika demikian, bawalah sepuluh orang bersamamu, tidak tega hati ayahanda melepaskan tuan.”

“Iya, baginda. Sungguh baginda sangat memperhatikan patik.”

“Ya, kakanda, mari kita pergi bersama-sama.” Kata Raja Mangindera Sari.

“Ya, adinda, bersiaplah. Tapi tunggulah dulu sekembali patik ini, karena patik hanya ingin memeriksa jalan dan keadaan.” Marakarma memohon izin kepada baginda, pergi ke Taman Nandam Berahi, berpamitan kepada isterinya. Keesokan hari ia pergi berjalan masuk hutan keluar hutan menuju kerajaan Anta Beranta.

Di dalam perjalanan, Marakarma berfikir, sebaiknya ia menggunakan hikmat untuk melihat keadaan negeri Puspa Sari. Sesaat kemudian dia membaca hikmat sambil memejamkan kedua matanya. Konon dilihatnya negeri Puspa Sari sudah menjadi hutan rimba belantara. Maka ia pun menangis terlalu sedih dan duka cita.

“Wah, kemana gerangan perginya ayah bundaku? Apakah telah mati?” selagi berpikiran seperti itu, terdengar bunyi orang mematahkan ranting kayu. Ia berdiri dibawah pohon besar. Ia melihat ada dua orang laki perempuan menjunjung kayu  sambil menangis. Kedua orang itu pun melihat anak muda berdiri di bawah pohon besar, di tengah jalan raya baik parasnya. Segera saja kedua orang tua itu mendatanginya.

“Hai, orang muda, dari mana mau kemanakah tuan ini?” Tanya orang tua.

“Hamba diperintah oleh Maharaja Puspa Indera Dewa, membawa surat.”

“Apa pekerjaan tuan.”

“Hamba tidak tahu.”

Orang tua yang perempuan mendekat datang menjunjung kayu dan menghempaskan kayu itu lalu duduk karena lelah.

“Hai, orang muda adakah engkau bertemu dengan dua anak laki-laki dan perempuan? Yang perempuan masih kecil.” Tanya ibu tua itu.

“Hai, ibu, memang disuruh pergi kemana anak-anak itu?

“Tidak, dia tidak disuruh. Dia diusir pergi sebab fitnah yang dikatakan oleh ahli nujum. Suamiku inilah yang mengusirnya.” Lalu diceritakannya hal-ihwal pengusiran anaknya itu sampai negerinya habis terbakar.

“Jika begitu, bukan anak mamak yang celaka.”

“Benar, tuanku,” jawabnya sambil menangis, “jika ada, entah sudah sebasar apa mereka.”

“Hamba tidak bertemu dengan kedua anak itu, mamak. Tapi hamba bertemu dengan orang yang sudah hilang matanya di tengah rimba belantara.”

Kedua orang tua itu menangis ingin pergi melihat bangkai itu. “Diamlah, mamak, jangan menangis. Mereka bukan anak mamak, karena rambutnya sudah ubanan.” Diam kedua orang tua itu. Hari pun petang dan mulai gelap.

“Hai mamak, bolehkah hamba tinggal di sini sehari dua hari?”

“Silahkan, tuan. Jika ada orang muda sudi pada mamak, sungguh bahagia mamak ini.” Orang tua itu pun mengeluarkan makanan. “Makanlah makanan ini, hanya inilah yang ada!”

Marakarma sedih melihat dan menangis melihat kedua orang tua itu, air matanya berhamburan seperti kaca jatuh di batu. “Sungguh baik, mamak ini. Jika tidak bertemu mamak, entahlah dimana hamba akan tidur dan pastilah tidak dapat makan dan minum.” Ucap Marakarma.

Selesai makan, Marakarma tidak sanggup melihat kedua orag tua itu. Lalu ia membuka ikat pinggangnya, diabillah uang dua puluh rial dan kain dua helai. “Ambillah ini mamak, belilah makanan apa yang mamak inginkan. Hamba ingin tinggal di sini dua hari lagi.”

Kedua orang tua itu mengambil pemberian Marakarma dan langsung pergi berbelanja berbagai makanan. Selesai memasak, sang ibu mempersilakan Marakarma makan.

“Ini, makanlah masakan mamak.”

“Mamaklah yang makan, hamba masih kenyang.” Kedua orang tua itu makan dengan lahapnya.

“Setelah makan, tolong mamak buatkan bedak dan langir.” Pinta Marakarma.

Sang ibu segera mengerjakan apa yang dipinta Marakarma, membuat bedak dan langir. Kedua benda itu langsung diberikan kepada Marakarma.

“Marilah mamak kita mandi!” ajak Marakarma.

“Baik, tuan.” Kedua orang tua itu berjalan mengiringi Marakarma.

“Jangan mamak berjalan di belakang hamba. Hamba ini lagi berobat, tidak boleh diiringi. Jika diiringi, matilah hamba. Berjalan mamak duluan.”

“Wah, maaf tuan, mamak tidak tahu.”

Sesampai di sungai mereka mandi memakai bedak, dan langir. Selesai mandi, mereka berganti pakaian dan pulang. Malampun tiba. Bulan purnama empat belas hari, sinarnya cemerlang. Cuaca terang benderang.

“Jikalau sekiranya ada, apakah mamak masih mengenali anak mamak?” Tanya Marakarma tiba-tiba.

“Entah tuan, karena tatkala pergi masih kecil. Sekarang mamak tidak dapat membayangkannya.” Kedua orang tua itu lalu menangis, “Jika tuan pergi, bolehlah mamak berdua ikut. Mamak akan menghamba kepada tuan. Mamak ini orang sengsara, jika tidak diizinkan, bunuhlah mamak, baru tuan pergi. Mamak tidak kuat menjalani hidup seperti ini.”

Mendengar ucapan orang tua itu, Marakarma pun menangis, tidak tertahan. Lalu ia sujud di kaki kedua orang tua itu. “Ayah bunda inilah anak celaka itu, anak yang tidak boleh ada di istananya sendiri. Seharusnya waktu itu bunuhlah anakda ini supaya tidak sengsara seperti ini.”

Mendengar ucapan anak muda yang sudah beberapa hari bersamanya, kedua orang tua itu pun menangis sejadi-jadi. Tidak mengenali anaknya sendiri lalu pingsan. Marakarma cepat mengambil air dan menciprakan air ke muka ayah bundanya. Ketika sadar dari pingsan, ayah bundanya hendak menyembah kaki Marakarma, seraya meminta ampun.

“Difitnah tidak mati, tetapi mati hamba karena sembah ini.” Ucap Marakarma sambil mengangkat kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya itu lalu memeluk dan menciumi seluruh tubuh Marakarma.

“Oh, dasar aku orang bodoh dan bebal. Tidak memahami maksud jahat dan fitnah orang yang dengki. Ananda pukul atau bunuh pun sekarang ini, relalah ayahanda.” Ucap ayahnya sambl terus menangis.

“Dimana adikmu?” Tanya ibundanya.

“Ada di Negeri Palinggam Cahaya, bunda.” Lalu Marakarma menceritakan semua pengalaannya sejak diusir sampai bertemu ayah bundanya di hutan ini. diterjemahkan, segala hal ihwalnya daripada permulaannya datang kepada kesudahannya.

“Sungguh melarat dan sengsara hidup ananda sebab ayahanda. Mohon maaf dan ampuni dosa hamba, orang tua bebal ini.” Ucap ayahanda Marakarma sambil menangis.

Beberapa saat kemudian, Marakarma mengeluarkan kemala dan membaca jampi mencipta negeri. Seketika itu juga negeri Puspa Sari kembali seperti semula dengan kota parit dan istana bahkan lebih megah, lengkap dengan mahligai 17 tingkat dan kotanya tujuh lapis. Segala Raja, menteri, hulubalang, dan rakyat ramai meriah di kerajaan itu. Bunyi-bunyian dipukul tanda Raja bahagia dan suka cita. Ayah bundanya takjub melihat kesaktian Marakarma.

Maka maharaja Indra Angkasa bersama permaisuri Tuan Puteri Ratna Dewi kembali menduduki singasana di kerajaannya, Puspa Sari. Singgasana keemasan bertatahkan ratna mutu marikam berumbai-umbaikan mutiara. Segala Raja-Raja, para menteri, punggawa, hulubalang, rakyat datang menghadap lalu duduk makan dan minum berpesta tujuh hati tujuh malam. Segala bunyi-bunyian ramai gegap gempita dengan tempik sorak seluruh rakyat. Maka duka bertukar dengan suka. Baginda pun menghadiahi aneka pesalin kepada segala anak Raja-Raja, menteri, punggawa, hulubalang, dan rakyat sesuai dengan kepangkatannya.

“Tuanku syah alam, patik memohon kebawah duli yang dipertuan, patik hendak pergi menyambut Tuan Puteri Nila Kesuma.” Ucap Marakarma. Berangkatlah Marakarma masuk hutan rimba belantara, siang dan malam berjalan tiada berhenti. Wallahu ‘alam bissawab.

 

*****

 

Alkisah, sepeninggal Marakarma, maharaja Puspa Indera, Raja negeri Palinggam Cahya, mentitahkan Perdana Menteri mengumpulkan seluruh Raja-Raja, menteri, punggawa, hulubalang dan rakyat untuk melakukan persiapan peperangan. Perlengkapan persenjata dan pendukung lainnya dipersiapkan atau dibikin yang baru.

Di hadapan Perdana Menteri, Raja-Raja, menteri, punggawa, hulubalang tampak maharaja Puspa Indera gelisah, karena belum mendapat berita dari Marakarma. Namun tiba-tiba suasana menjadi gempar, karena ternyata Marakarma sedang menuju istana Palinggam Cahaya. Raja Mangindera Sari dan segala anak Raja keluarlah menyambut Raja Marakarma itu. Se­telah bertemu, keduanya berpeluk dan menjabat tangan segala anak Raja-Raja perdana menteri menteri, punggawa, hulubalang.

“Mengapa tuan terlambat datang?” Tanya Raja Mangindera Sari.

“Ya, tuanku, patik tersesat. Tiga kali berbalik tiada ketemu jalan.” Jawab Marakarma.

“Syukurlah kau sudah pulang.” Sambut baginda.

“Tiga hari lagi patik berangkat, tuanku.” Jawab Marakarma.  Maka ia pun memohon menemui istrinya di taman Mandam Berahi.

“Marilah, tuan, istirahatlah, kerana kakanda lelah.”

Marakarma duduk berdampingan dengan  Tuan Puteri Cahya Khairani. Santapan disediakan dan mereka menikmatinya bersama-sama.

“Bersiaplah tuan, karena tiga hari lagi berangkat.” Ucap Marakarma.

“Hamba sudah siap kakanda.” Jawab Mangindera Sari.

“Nenek Kebayan jangan diajak, sebab tidak kuat jalan.” Canda Puteri Mayang Mengurai.

Nenek Kebayan menangis, sera­ya katanya, “Wah, putuslah harapan nenek.”

Maharaja Marakarma berkata sambil tertawa, “Diamlah nenek, jangan menangis, ia hanya bergurau.”

“Jikalau nenek mau ikut, sebaiknya nenek kawin dulu, supaya ada yang menggendong!” ucap Mangindera Sari.

“Nenek mau kawin dengan yang muda seperti tuan, supaya kuat menggendong nenek.” Jawab Nenek Kebayan. Ramailah orang mentertawakannya.

“Bukankah nenek pandai merangkai bunga. Buatlah untuk nunangan nenek, supaya jatuh cinta kepada nenek!” ucap Puteri Mayang Mengurai. Nenek Kebayan tertawa tergelak-gelak, ingat waktu berjualan bunga. Terlalu ramailah orang tertawa.

“Adakah yang ahli membuat rangkaian bunga di sini?” Tanya Inang pengasuh dan dayang-dayang sambil tertawa.

“Tuanmulah ahlinya.” Nenek Kebayan menyahut. Gegap gempitalah orang tertawa seperti bunyi batu runtuh.

“Pakailah baju dan kain ini, supaya nenek hangat, karena nenek belum dipinang orang.” Kata Tuan Puteri Mayang Mengurai. Nenek Kebayan menerima pemberian itu dengan gembira.

Setelah genap tiga hari lamanya, masih dinihari, cahaya bintang belum padam dan margasatwa belum keluar mencari makanan, gong pengarah berbunyi keras. Raja-Raja, menteri, punggawa, hulubalang, dan rakyat bangun. Mereka bersiap masing-masing dengan senjatanya. Raja Marakarma dan Raja Mangindera Sari keluar melihati persiapan.

Baginda menyuruh perdana menteri mengeluarkan seluruh alat keRajaan, tunggul panji­-panji, payung iram keemasan bertahtakan ratna mutu manikam, berumbai-umbaikan mutiara berseling dengan nilam pualam dan puspa ragam dengan baiduri dikarang dengan intan kemuncaknya kemala, di pagar dengan intan permata panca warna, maka gemerlapanlah rupanya mungkur gajah dua buah itu. “Maka segala bingkisan itupun dikeluarkan oranglah beriring-iringan seperti di dalam tulisan rupanya.

Marakarma dan Raja Mangindera Sari beserta istri masing-masing masuk ke istana baginda untuk memohon restu kepada ayahanda bundanya.  Setelah bertemu mereka menyembah lalu berpelukan.

“Baik-baiklah ananda. Jika Mangindera Sari salah dan be­bal, ajarilah karena ia belum pernah berpisah dengan ayahanda. Jika ada marabahaya atau sesuatu yang genting, segeralah beritahu ayahanda.” Ucapan baginda kepada Marakarma.

“Baik, tuanku.” Jawab Marakarma seraya berkata kepada isteri dan saudaranya, “Tuan berdua menyembahlah kepada ayah­anda bunda, minta restunya.” Merekapun berpeluk cium dan menangis.

“Wah, anakku, apa yang akan kulakukan sepeninggal kalian? Cepatlah pulang, jangan sampai bunda mati menunggu kalian.” Ucap permaisuri.

“Kami akan segera pulang, bunda.” Sembah Tuan Puteri Nila Kesuma.

Maka pasukan balatentara keRajaan Palinggam Cahaya bersiap berangkat. Semua berada pata tempatnya masing-masing. Baginda dan permaisuri naik ke atas bangunan tinggi menyaksikan rakyatnya bersiap berangkat. (Bersambung)

Check Also

Hikayat Marakarma (Bagian 6)

Hikayat Marakarma (Bagian 6)

Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *