Pelopor Kesusastraan Betawi, Muhammad Bakir
Manaqib Hikayat Syekh Muhammad Saman

Pelopor Kesusastraan Betawi, Muhammad Bakir

Manaqib Hikayat Syekh Muhammad Saman

kebudayaanbetawi.com, Muhammad Bakir lahir dalam Keluarga Fadli yang aktif dalam penulisan dan penyalinan naskah Melayu di Kawasan Pecenongan. Buyutnya yaitu Pangeran Fadli masih kerabat dekat Sultan Agung. Kemungkinan, Pangeran Fadli inilah yang menurunkan ilmu pengetahuan agamanya pada putra-putranya, termasuk Usman, kakek dari Bakir. Ilmu tersebut kemudian Usman turunkan kepada Syafian (Sofyan/Sapian) ayahanda dari Bakir hingga sampai kepada diri Bakir sendiri. Hal itulah yang membuat Muhammad Bakir dekat dengan ilmu pengetahuan.

Hikayat yang pertama kali disalin oleh Muhammad Bakir adalah Hikayat Syekh Muhammad Saman pada bulan Februari 1884. Ia menulis dengan hati-hati menggunakan huruf yang besar. Pengetahuan menulis huruf Arab ini diajarkan oleh Ayahandanya. Tahun 1885 ayahnya meninggal dunia, ia hidup dalam kemiskinan. Bakir kemudian menyewakan naskah-naskah hasil tulisannya dengan tarif sepuluh sen per hari per buku.

Ada dugaan ia menikah pada tahun 1890 karena ditemukan dalam Hikayat Sultan Taburat (ML 257B, bertanggal Oktober 1893), ia menulis syair yang menyatakan punya istri dan dua orang anak. Ia bergadang menulis buat hidup anak istrinya, karenanya ia memasang tarif sepuluh sen untuk naskah-naskah yang ia sewakan. Beginilah syair yang ditulisnya dalam Hikayat Sultan Taburat,

Saya punya salam takzim pada yang menyewa hikayat ini, dikasih tahu wang sewanya sehari semalam sepuluh sen, lebih-lebih maklum sebab saya sangat berusahakan menulis dan bergadang minyak lampu dan kertas buat anak dan istri saya, boleh dibilang yang saya tiada bekerja dari kecil, menumpang makan dan pakai dari saya punya mama’, maka itu saya minta kasihannya yang sewa ini buat sehari semalam sepuluh sen adanya. (ML 259, Hikayat Sultan Taburat, tertanggal Mei 1894, hlm. 193).

Pada Mei 1897, dalam Hikayat Wayang Arjuna (ML 244, Hikayat Wayang Arjuna, hlm. 205) Bakir menyatakan bahwa ia menjadi tukang ajar mengaji karena tiada pekerjaan. Naskah terakhir yang ditulisnya adalah Syair Ken Tambuhan pada tahun 1897. Pada tahun 1898 ia menjual sebagian perpustakaannya kepada Bataviaasch Genootschap. Hal tersebut mungkin saja disebabkan karena kesulitan ekonomi yang ia alami selama masa hidupnya. Setelah tahun tersebut, tidak ada lagi informasi mengenai Muhammad Bakir.

Dari hasil tulisannya, dapat diketahui bahwa Muhammad Bakir hidup sezaman dengan Pitung. Bakir hidup pada tahun 1884 sampai 1898. Ia dikatakan sebagai pelopor kesusastraan Betawi karena dialah satu-satunya anak Betawi yang diketahui menulis karya sastra Betawi pada zaman kesusastraan klasik. Sezamannya hingga setengah abad setelahnya tidak ditemukan penulis Betawi lain. Terentang masa yang panjang antara dirinya dengan penulis Betawi selanjutnya yaitu SM Ardan dan Firman Muntaco.

Check Also

Ngebuleng: Tradisi Mendongeng dari Betawi yang Harus Tetap Lestari

Ngebuleng: Tradisi Mendongeng dari Betawi yang Harus Tetap Lestari

Ngebuleng berasal dari kata ‘buleng’ yang artinya cerita atau dongeng. Ngebuleng dapat berarti bercerita atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *