
Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli. Hikayat Marakarma disebut pula dengan Hikayat Si Miskin merupakan karya sastra tulis melayu klasik Betawi, buah karya Muhammad Bakir. Beliau dan ketiga saudaranya dan Sapirin—yang sering juga disebut Guru Cit, adalah anggota keluarga Fadli yang aktif dalam proses menerjemahkan, menyadur dan penulisan. Mari kita baca Hikayat Marakarma.
Maka pasukan balatentara kerajaan Palinggam Cahaya bersiap berangkat. Semua berada pata tempatnya masing-masing. Baginda dan permaisuri naik ke atas bangunan tinggi menyaksikan rakyatnya bersiap berangkat.
Perdana Menteri memacu kudanya mengatur pasukan. Raja Rum Syah berjalan paling depan, karena ia Raja tua, pandai tipu daya perang, gagah berani, dan sakti menunggang kuda sembrani. Pelana kudanya bernama ‘aina’lbemat, merah keemasan bertatahkan ratna mutu manikam berpanjikan cempaka warna. Diikuti seluruh pasukannya yang gagah.
Di belakangnya menyusul pasukan Raja Syah Pri lengkap dengan segala menteri, hulubalang, dan rakyat. Raja Syah Pri berkuda merah, berpelana emas dipahat dengan permata panca warna, tungkulnya merah keemasan, berjalanlah ia dengan suara bunyi-bunyian yang membahana. Diikuti oleh pasukan Raja Gerdansyah. Raja Gerdansyah menunggang kuda terbang dilengkapi dengan panji-panji dewangga keemasan juga dengan bunyi-bunyian riuh rendah. Baru kemudian pasukan maharaja Marakerma diikuti dengan Raja-Raja, menteri, punggawa, hulubalang dan rakyat yang mengibarkan tonggak panji keemasan lambing kerajaan.
Umbul-umbul keemasan terkembang ditiup angin. Sesegala macam alat bunyi-bunyian ditabuh. Bergemalah suara genderang arak-arakan lengapa dengan dandi (gendang kecil), muri (serunai), serdam (suling), bangsi (suling kecil), nakara (gendang besar), medali (suling besar), ceracap (canang kecil) dan sebagainya. Gegap-gempita suaranya. Barisan panjang itu serta kereta kencana berkaca berjalan terkibar-kibar seperti merak mengigal rupanya. Gemerlapanlah rumbai-rumbai mutiara gerincing bunyinya dan gemencak gegetarnya. Memancar-mancarlah cahaya kemala berpadu dengan cahya permata panca warna.
Raja Mangindera Sari menaiki walmana (kendaraan burung besar tebang) diikuti Raja-Raja, menteri, punggawa, hulubalang, dan rakyat. Disusul pasukan panji kerajaan dengan panji-panji keemasan. Terkembanglah payung ubur-ubur beremas berapit kiri dan kanan. Berbunyilah bunyi-bunyian berbagai jenis ragamnya, seperti rebab, kecapi, dandi, muri, serdam, nakara, nafsiri, kopok (rebana kecil), ceracap (angklung kayu) dan sebagainya.
Di belakang pasukan Raja Mangindera Sari, pasukan Raja Dewa Ramsa berjalan tidak kalah ramai dan meriahnya dengan tunggul, panji-panji serta segala bunyi-bunyian sepuluh mata ditatah dengan pudi (inta kecil-kecil) maknikam. Ia diiringi oleh segala menteri, hulubalang, rakyat sekalian seperti rupa angkatan perangan terlalu ramai gagak gempita. Pakaian yang dipakai anak Raja-Raja memancar-mancar seperti kilat cahya kena sinar matahari terbit, rupanya seperti kembang setaman. Setelah seluruh pasukan tidak lagi kelihatan, baginda dan permaisuri masuk sambil ia menyapu air matanya, duduk menanti dengan perasaan gundah.
*****
Alkisah kata hikayat, sepanjang perjalan itu, Marakerma senantiasa memperhatikan tempat yang dilewatinya. Ketika sampai pada tempat sejuk dengan tumbuhan buah dan bunga-bunga, di sanalah ia berhenti beristiraha menajak atau menghibur isterinya. Dayang-dayang pergi memetik bunga dan mengambil buah-buahan. Bunga dan buah itu dipersembahkannya kepada Tuan Puteri Nila Kesuma.
“Nenek, kemarilah, bawa alat merangkai bunga, aku ingin belajar merangkai bunga.” Seru Puteri Nila Kesuma. Nenek Kebayan tertawa dan datang mendekati Tuan Puteri Cahya Khairani, sambil tersenyum karena dipanggil nenek.
“Lalat sudah menjadi kumbang, mau cari dimana lagi.” Sambut Raja Mangindera Sari sambil tertawa.
Marakerma pun ikut tertawa dan memandang nenek Kebayan. “Ajarilah cucumu, nek!”
Nenek Kebayan tertawa dan berkata, “Alat merangkai bunga nenek sudah hilang tuan.” Maka dayang-dayang pun datang mendukung anak kancil. “Jika lalat tidak ada, ini kami bawakan anak kancil.” Semua yang menyaksikan dayang membawa kancil tertawa bersamaan. Setalah beberapa saat istirahat, pasukan kembali berjalan ditandai dengan pukulan gong yang keras.
Syahdan, sampailah rombongan pasukan Marakerma di sebuah tempat lapang. Dari kejauhan terlihat samar-samar sebuah negeri terlindung awan.
Kakanda, negeri apakah yang tertutup awan itu? Apakah memang sebuah negeri?” Tanya Raja Mangindera Sari.
“Itulah negeri Anta Beranta, negerinya maharaja Indera Dewa.” Jawb Marakerma.
Sampailah Marakerma dan pasukanya dipadang bernama Tajam Maya. Jaraknya kira-kira tiga hari perjalanan dari negeri Puspa Sari. Riuh rendah suara berbagai tetabuhan terdengar sampai ke istana negeri Puspa Sari. Perdana menteri negeri Puspa Sari menyuruh punggawa memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Pungawa dengan lincah berkuda menyuju pada Tajam Maya.
“Dari manakah tuan datang dan hendak kemana? Siapa pemimpin pasukan ini?” Tanya punggawa kepada menteri.
“Pemimpin kami bernama maharaja Marakerma. Datang dari negeri Palinggam Cahya ingin menemui ayah bundanya di negeri Puspa Sari.”
Setelah mendengar jawaban menteri, punggawa langsung menaiki kudanya mengadap baginda. “Ya, tuanku Syah alam anakda padukan telah datang tuanku.”
Mendengar laporan punggawa, baginda dan permaisuri turun dari istana, berjalan keluar kota, tanpa sempat memanggil Perdana Menteri. Perdana Menteri kelimpungan melihat baginda keluar kota tanpa kendaraan kebesaran. Ia pun berlari memerintahkan punggawa mengeluarkan gajah dan kebesaran kerajaan dan menyusul baginda.
“Ya, tuanku syah alam, silakanlah tuanku naik gajah ini, tidak pantas dilihat orang, duli yang dipertuan berjalan di tanah. Akan membawa malu.” Perdana menteri memohon.
“Benar katamu.” Baginda dan permaisuri naik ke atas gajah. Perdana Menteri pun memerintahkan Raja-Raja naik ke kudanya, mengiringi baginda. Maka jogan (tombak lambang kebesaran Raja) beserta tunggul, panji-panji dikibarkan. Sementara Marakerma memerintahkan pasukannya berhenti, karena punggawa melapor bahwa baginda menuju ke padang Tajam Maya.
“Sebaiknya kita tunggu kedatang baginda, karena baginda sudah keluar menuju ke sini.” Perintah Marakerma. Sampailah baginda di padang itu da turun dari gajahnya. Melihat kedatangan baginda, Raja Marakerma dan Raja Mangindera Sari datang menyembah kaki baginda dan permaisuri. Mereka berpeluk cium kemudian
diikuti anak Raja-Raja. Setelah itu baginda berjalan menemui Tuan Puteri Puteri Nila Kesuma dan Puteri Cahya Khairani, diiringi Marakerma dan Mangindera Sari dan segala anak Raja-Raja.
Tuan Puteri Cahya Khairani keluar dari dalam mungkur (tandu) lalu menyembah baginda dan permaisuri. Mereka berpeluk-pelukan seraya bertangis-tangisan. Raja Mangindera Sari pergi ke mungkur isterinya. “Keluarlah tuan, sambutlah ayah bunda kita ini. Tidakkah tuan kasihan melihatkan baginda dan permaisuri. Baginda sendiri yang datang menemui tuan.” Tuan Puteri Nila Kesuma pun keluarlah dari dalam mungkurnya pergi menjumpai bundanya, lalu menyembah di kaki bundanya sambil menangis.
“Ya, bunda senyampang (kebetulan) ada orang yang berbaik hati melihara ananda, maka dapat ananda bertemu dengan bunda lagi. Jika tidak ada matilah ananda dimakan binatang buas di tengah hutan, tidak bertemu dengan bunda lagi.”
“Ibundalah yang sepatutnya tuan salahkan, sebab bunda Tuan Puteri menderita.”
“Anakku, engkau sudah besar.” Ucap ayahandanya.
“Bagaimana tidak besar, karena kenyang makan umbut kayu berebut dengan anak kera.” Jawab puteri dengan ketus.
Mendengar ucapan putrinya, baginda dan permaisuri seketika itu juga rebah pingsan. Tuan Puteri Cahya Khairani mencari air dan membasuh muka baginda dan permaisuri sambil menangis.
“Pergilah tuan menyembah ayahda, tiadakah tuan kasihan melihatkan baginda seperti itu?” ucap Mangindera Sari kepada istrinya. Nenek Kebayan pun datang menyembah baginda.
“Janganlah tuan marah pada ayahda.”
“Ini patik tuanku, bukan anakda.” Ucap Nenek Kebayan.
Baginda terkejut. “Siapakah ini?”
“Nenek patik, tuan. Nenek inilah memelihara patik.” Ucap Marakerma.
“Wah, apa yang dapat kubals kepada orang tua ini.”
Tuan Puteri Nila Kesuma pun tertawa melihat kelakuan nenek Kebayan, lalu pergi menyembah kaki baginda. Segera saja dipeluk dicium oleh baginda sambil menangis. “Wah, anakku, jika tiada anakda sekalian yang mengasihani ayahda, orang tua bebal, matilah ayahda di dalam penderitaan.”
Setelah pertemuan orang tua, anak dan menantu yang penuh tangis-tangisan itu, gong pun berbunyi sebagai tanda sudah waktunya meneruskan perjalanan. Raja-Raja, menteri, hulubalang, punggawa, dan rakyat masing-masing mengambil kendaraannya lalu berjalan menuju istana negeri Puspa Sari. Sesampai di istana, semuanya masuk dan baginda pun memberi hadian kepada segala anak Raja-Raja, menteri, hulubalang, punggawa, dan rakyat sesuai dengan tingkat kepangkatannya.
Baginda memerintahkan perdana menteri melaksanakan pesta tujuh hari tujuh malam. Berbagai macam hiburan dan bunyi-bunyian ditabuh sekeras-kerasnya tiada berhenti. Ayam, itik, angsa, kerbau, sapi, kambing, kijang, menjangan, disembilih dijadikan hidangan lezat. Berbagai makanan dan minuman disediakan tanpa habisnya. Wallohu aklam bissawab.
*****
Alkisah, tersebutlah maharaja Indera Dewa Barata. Maharaja Indera Dewa Barata mendengar kabar kehebatan dan kesaktian maharaja Marakerma. Diketahuinya pula Marakerma datang mengunjungi ayah bundanya di negeri Puspa Sari, adiknya menjadi menantu Maharaja Puspa Indera di negeri Palinggam Cahya. Marakerma menjadi menantu Raja jin bernama maharaja Mali Kosna yang kerajaannya besar. Mali Kosna mempunyai dua orang ana, yang tua perempuan, bernama Tuan Puteri Cahya Khairani, yang dilarikan oleh raksasa dan menjadi istri Marakerma. Yang bungsu laki-laki, bernama Raja Bujangga Indera dan menjadi bersahabat Marakerma.
Raja Indera Dewa berpikir dalam hatinya, “Pastila kerajaan Marakerma itu sangat besar, suatu saat pasti akan menyerang negeriku. Jika demikian, sebaiknya aku dului menyerangnya.” Maka Raja Indera Dewa bertitah kepada Perdana Menteri, menyuruh menghimpun segala kekuatan untuk menyerang kerajaan Marakerma. Indera Dewa menulis surat kepada seluruh kerajaan meminta bergabung melawan Marakerma. Perdana Menteri menyembah dan mengerjakan perintah bagindanya itu. (Bersambung)
