Pendekar Kemayoran

Pendekar Kemayoran, Asal-Usul Nama “Macan Kemayoran”

kebudayaan betawi – Pendekar Kemayoran, Asal-Usul Nnama “Macan Kemayoran”. Sejarah awal nama Macan Kemayoran tak lain berasal dari seorang jagoan Betawi bernama Murtado. Meski tak sepopuler Si Pitung maupun Si Jampang, perihal kehebatan bela diri boleh diadu. Bukan tanpa alasan Murtado dijuluki Macan Kemayoran.

Sebagai bukti kehebatannya, tak jarang Pendekar Kemayoran Murtado muncul dalam buku-buku, sehingga banyak di antaranya kisah Murtado direka menjadi cerita rakyat. Sebuah cerita tentang Murtado mengaitkannya dengan keberanian orang-orang Betawi menentang kesewenang-wenangan Belanda. Amanda Clara, dalam buku Cerita Rakyat Dari Sabang Sampai Merauke (2008) menceritakan kisah itu.

Dikisahkan bahwa Pendekar Kemayoran Murtado yang lahir pada 1869 terkenal berani dalam membela rakyat dari segala bentuk kejahatan, baik dari jawara lokal, maupun centeng-centeng Belanda. Atas sifatnya yang sering pasang badan membantu warga Kemayoran, maka Macan Kemayoran semakin kesohor di seantero Batavia.

Pendekar Kemayoran Murtado tak pernah kehabisan semangat membela rakyat. Kelak, saat ada benih-benih kejahatan mulai hadir di Kemayoran, Murtado merupakan orang pertama yang menantang ketidakadilan, entah itu melawan Belanda langsung atau centeng-centengnya. “Tindakan sewenang-wenang ini tak bisa dibiarkan,” ucap Murtado.

Dalam perjalanannya, Murtado banyak mengalahkan jago-jago dari kawasan lainnya. Sampai-sampai, centeng Kompeni pun satu demi satu dikalahkan olehnya, termasuk Bek Lihun. Atas keberaniannya dan tak kenal takut, Belanda pun kepincut. Mulailah lobi-lobi iming-iming harta berlimpah supaya Murtado mau bekerja sama dengan kompeni.

Tapi, Murtado tetap dalam pendiriannya membela warga Kemayoran. Tawaran itu ia abaikan. Bagi Murtado, menjadi alat penjajah untuk memeras keringat rakyat sendiri merupakan suatu penghinaan besar bagi warga Betawi.

Selanjutnya, Murtado pun langgeng menjadi jawara yang ditakuti. Sosoknya ini masuk ke dalam jajaran jago yang memiliki konotasi positif. Sebagaimana yang Margreet Van Till dalam buku Batavia Kala Malam (2000) yang sering kali mengungkap jago dalam konotasi positif.

”Jago merupakan pelindung masyarakat. Dalam hal ini jago tidak menggunakan kekuatannya untuk menundukkan wilayahnya sendiri dari otoritas resmi. Tetapi mereka muncul sebagai seorang kampiun dari orang-orang yang tertindas,” tulisnya.

Tak hanya Margreet, kami juga menghubungi tokoh muda Betawi, Masykur Isnan untuk mendapat gambaran terkait sosok Murtado. Dirinya berucap, Murtado merupakan paket lengkap representasi orang Betawi sesungguhnya: pandai bela diri, rendah hati, sederhana, dan suka menolong yang lemah.

“Orang Betawi pada umumnya dapat belajar banyak pada sosok Murtado. Terutama dalam hal keberanian, konsisten, dan memihak pada yang lemah. Hal itu dibuktikan oleh Murtado yang berani menolak mentah-mentah tawaran Belanda untuk bekerja sama. Macan Kemayoran sadar betul bahwa Belanda sedari awal sudah bertindak sewenang-wenang di Batavia,”

Berkat itulah Murtado langgeng menjadi legenda di tanah Betawi. Keberanian, serta semangatnya membela yang lemah membuatnya mendapat julukan sebagai Macan Kemayoran, sebuah julukan yang menegaskan jiwa Murtado yang tak kenal takut, dapat menerkam siapa saja yang bermaksud jahat kepada warga Kemayoran.

Keberadaan macan di Batavia

Lantas, apakah pernah ada macan dalam artian sebenarnya di Batavia? Jawabannya benar-benar ada. Bukti tersebut hadir dalam sebuah surat kabar Java Bode (1882) yang memuat laporan terkait keberadaan macan yang berkeliaran di hutan seputar Batavia.

‘Tadi malam, harimau, yang kami sebutkan sebelumnya di surat kabar ini, lagi-lagi muncul di Desa Pepango –daerah sekitar Tanjung Priok, di mana harimau ini sekali lagi membuat serangan pada seekor sapi. Oleh karena sapi terluka parah, pemiliknya lalu menyembelih sapi tersebut.”

“Beberapa pemburu terlatih dari Kemajoran, antara lain Mr. Simons akan memburu hewan yang berbahaya tersebut dalam beberapa hari ini, dan kami berharap semoga usaha mereka dapat sukses dengan hasil yang memuaskan,” tertulis dalam laporan.

Pada 1644, Gubernur Jenderal VOC Joan Maetsuijker (1653–1678) memberitakan, dia bersama tiga ratus orang pernah berburu banteng di daerah Weltevreden –-daerah yang sekarang Lapangan Banteng– yang sebagian masih berupa hutan belukar itu. Bukan cuma banteng yang menjadi buruan, ada pula harimau (macan), babi dan berbagai satwa lain yang berkeliaran.

Oleh sebab itu, daerah tersebut sempat dikenal sebagai tempat berburu serdadu Belanda. Alhasil, aktivitas berburu sempat didukung oleh pemerintah kolonial. Hal itu dikarenakan setiap satwa yang berhasil diburu akan digiring menuju pintu gerbang kota Batavia untuk dikenakan pajak sebanyak sepuluh persen. Keberadaan macan di Batavia sesungguhnya pernah ada.

Bukti lainnya juga muncul dari Hendrik E. Niemeijer, dalam buku Batavia Masyarakat Kolonial Abad XVII (2012). Ia menyatakan, saat awal Batavia berdiri, banyak macan berkeliaran di semak-semak. Bahkan, beberapa kali muncul di dekat tembok Kota Batavia.

“Selama kurun waktu 50 tahun pertama tanah jajahan itu, masih banyak harimau berkeliaran di semak-semak, bahkan di dekat tembok kota. Pemburu yang berhasil menangkap atau membunuh ‘kucing besar’ itu biasanya diberi hadiah beberapa puluh uang real yang diambil dari kas Kompeni untuk setiap harimau yang mereka tangkap atau bunuh,” ucap Hendrik. [Rudy_Albdr]

 

Sumber Bacaan : Detha A.T/Y. Mahabarata

Check Also

H. BOKIR : MAESTRO TOPENG BETAWI (Bagian 1)

H. BOKIR : MAESTRO TOPENG BETAWI (Bagian 1)

H. BOKIR : MAESTRO TOPENG BETAWI (Bagian 1)-Tidak dapat dipungkiri, H. Bokir bin Jihun Kelahiran …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *