MAEN DI BULAKAN

GESAH ANAK BETAWI

Assalamualaikum warahmatullahwi wabarakuh

Tabè…!

Kite bersyukur kepada Allah yang telah memberika rezeki tiada terhingga, shalawat dan salam kepada junjungan nabi cemerlang, Muhammad SAW. Kami munajat semoga nyak, babe, abang, mpok, encang, encing senantiasa berada dalam lindungan dan ridla Allah azza wajalla. Amin ya mujibassailin…

Laman www.kebudayaanbetawi.com menurunkan artikel dengan tema besarnya GESAH ANAK BETAWI. Gesah itu bahasa Betawi dari bahasa Arab. Bahasa Indonesia menjadi kisah. Gesah Anak Betawi berarti kejadian, cerita atau riwayat dan sebagainya dalam kehidupan sehari-hari yang dialami anak Betawi. Gesah ditulis oleh Yahya Andi Saputra, Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi. Kami berharap tulisan ini dapat menambah informasi tentang kebetawian. Paling tidak menjadi ruang belajar bagi penulisnya. Saling berbagi dan mengisi, itulah misi Gesah Anak Betawi.

Semoga ikhtiarkan ini mendapat tanggapan positif dari pembaca dan peminat kebetawian. Atau menjadi ruang dikusi dan jika berkenan berilah kritik dan saran konstruktif dan mencerahkan. Kami munajat kepada Rabbul Izzati agar ikhtiar ini mendapat keberkahan dan ridlaNya. La haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.

Wassalamualaikum

Tabè…!

MAEN DI BULAKAN

Bagi anak-anak Betawi yang lahir tahun 1960-an, masa kecilnya dihabiskan pada tiga tempat utama, tentu saja selain rumah, yaitu bulakan, langgar, dan madrasah. Bulakan adalah tanah lapang namun masih ditumbuhi segalam macam tumbuhan baik perdu maupun pohon-pohon besar. Sering kontur pada bulakan tidak rata, ada yang landai atau miring dan pada bagian tertentu mengunduk atau meninggi seperti poncol. Bulakan yeng terkenal antara lain bulakan Haji Keman, bulakan Wak Juwalid, bulakan Wak Nenen, bulakan Wak Ipin.

Pada bulakan-bulakan itulah kita biasa menghabiskan hari-hari tertentu untuk main segala macam permainan, baik permainan beregu maupun perseorangan. Beteng, gala asin, kasti, gebog, dampu, tok kadal, wak-wak gung, anggar, perang-perangan, jangkungan, dan lain-lain adalah permainan beregu. Meskipun jangkungan, anggar, perang-perangan, dapat dikelompokkan permainan beregu, tetapi unsur keahlian individualnya sangat kuat, sehingga sering ditonjolkan keahliannya. Kelompok permainan perseorangan antara lain gelindingan, gundu, yoyo, peletokan, perotokan, layangan, selepetean, silem-sileman, jibrut, dan banyak lagi jenis lainnya. Perlu ditegaskan di sini, arena bermain bagi anak -anak tidak hanya bulakan. Banyak tempat dijadikan arena bermain tergantung jenis permainannya. Sungai bahkan pohon-pohon besar dapat dijadikan tempat bermain. Jadi semua arena di kampung dapat dijadikan arena bermain.

Sebagai anak-anak, kita gembira jika ada waktu main bersama. Kami tidak memahami jika ternyata permainan anak-anak, yang oleh pakar humaniora dikatakan permainan tradisional, ternyata bukanlah permainan yang tanpa makna. Ia permainan yang sarat nilai dan norma. Permainan itu mengarahkan anak-anak untuk memahami dan mencari keseimbangan dalam tatanan kehidupan. Permainan tradisional Betawi yang sudah dimainkan turun-temurun didasarkan atas banyak pertimbangan dan perhitungan. Hal ini karena leluhur masyarakat Betawi mempunyai harapan agar nilai-nilai itu dapat dipahami dan dilaksanakan anak-anak dengan penuh kesadaran tanpa paksaan. Di sinilah salah satu kearifan lokal masyarakat Betawi dapat diperlihatkan ke ranah publik. Publik diharapkan memahmi dengan benar sehingga tidak memaksakan pemahaman berdasarkan diri sendiri untuk memamahami orang lain. Saya sendiri pun baru beberapa waktu kemudian memahami bahwa permainan itu mengajarkan kompak, bersahabat, teliti, sabar, sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, transparan, saling percaya, kerja sama, dan cinta lingkungan. Itulah karakter pemainan traisional yang harus diserap. Yaaahhh… namanya juga anak-anak, beberapa di antara mereka ada saja yang curang. Tetapi biasanya yang suka maen curang, sering enggak diajak maen. Emang enak enggak diajak maen…!

Karakter itu mengarahkan untuk memulia sesuatu sesuai tahapnya. Dalam permainan tradisional, mengenal tahap-tahapan. Pertama tahap prapermain, kedua tahap permainan, dan ketiga tahap pascapermainan. Tahap prapermainan pada umumnya berupa persiapan dan menentukan jenis permainan. Membuat arena permainan dan mempersiapkan properti yang digunakan (jika jenis permainannya menggunakan alat, sepeti bambu, batu, karet, daun-daunan, dan sebagainya).

Tahap kedua yaitu pelaksanaan permainan. Untuk memulai suatu permainan, harus ditentukan pengundian. Tata cara pengundian dilakukan dua cara, yaitu hompimpah dan suit atau suitan. Penggundian dilakukan agar permainan tertib, lancar, dan dipahami oleh peserta permainan. Tahap ketiga atau pascapermainan yaitu akhir dari permainan. Di sini pemain yang menang mendapatkan hadiah dalam tanda petik dan yang lalah menerima secara sportif kekalahannya. Hadiah disebut dalam tanda petik karena tidak selalu hadiah yang didapat pemain dalam permainn tradisional memperoleh barang atau material tententu. Biasanya lebih bersifat nonmateri yaitu ada kepuasan atas keberhasilan meraih kemenangan.

Hompimpah

Hompimpah dilakukan untuk menentukan siapa atau kelompok mana yang pertama melakukan start. Atau kelompok mana yang jalan, kelompok mana yang jaga. Disebut hompimpah karena syair pertamanya hompimpah dan selalu disenandungkan. Berikut syairnya : Hompimpah alaihim gambreng, Mak Ipah make baju rombeng, Rombeng rombeng rombeng.

Hompimpah dilakukan dengan cara menggerak-gerakkan atau mengibaskan seperti ngipas telapak tangan ke kiri kanan secara bersama-sama, lalu diangkat ke atas dan diturunkan dengan menelentangkan (menghadap ke atas) atau menelungkupkan telapak tangan (menghadap ke bawah). Jika semua tangan berada di posisi yang sama, misalnya semua telentang, berarti semua seri, dan hompimpa diulangi kembali sampai ada yang berbeda.

Jika ada beberapa tangan yang hadapannya berbeda, dicari hadapan kelompok tangan yang jumlahnya paling sedikit. Kelompok/pemain ini dinyatakan lolos dan tidak perlu melanjutkan pengundian. Aturan ini terus berulang sampai hanya tersisa dua orang saja, dan penentuan selanjutnya akan memakai cara suitan atau gansit.

Suitan

Suit atau suitan biasanya dilakukan oleh dua orang yang mewakili masing-masing kelompok. Cara pengundian ini biasa dilakukan dengan cara mengacungkan jari untuk menentukan siapa yang menang. Jari yang dipakai adalah jempol atau ibu jari (sebagai simbol gajah), telunjuk (simbol manusia), dan kelingking (simbol semut). Aturannya adalah : dua jari yang sama berhadap-hadapan (jempol dengan jempol, kelingking dengan kelingking atau telunjuk dengan telunjuk), undiaan dinyatakan seri, dan harus diulang. Jempol bila berhadapan dengan telunjuk, maka jempol menang. Telunjuk bila berhadapan dengan kelingking, maka telunjuk menang. Kelingking bila berhadapan dengan jempol, maka kelingking menang.

Beberapa teman waktu kecil memiliki salah satu jens permaian unggulan. Pokoknya kita selalu kalah dengannya dalam permainan itu. Awih jarang kalah jika bermain keleci alias gundu atau kelereng. Bahkan ketika dia hanya punya gacoan (modal sebuah gundu dan tidak memiliki taroan (tarhan) atau pasangan), di akhir permaian pasti menang banyak. Jentilannya atau sentilannya baik menggunakan jari tengah maupun jempol sangat kuat dan tidak pernah diontod. Arah jentilan sangat akurat. Gepeng atau Muhammad piawai maen selepetan dan peletokan. Romlih sangat  jago bermain tok kadal. Sukandi membuat kita kagum karena jago naek sepeda lepas angan dan ngetril (bersepeda dengan ban belakang saja). Basir paling berani maen cubar-cubaran (lompat dari cabang pohon tertinggi ke sungai) dan cebabangan (berenang) di kali betapapun daerah airnya. Buasan selalu menang lomba lari. Beberapa anak perempuan sebaya pun punya keahlian masing-masing. Munaya temasuk paling unggul jika maen lompat karet. Nunung hebat jika maen samse dan cutik.

Ayo ke bulakan dan maen sepuas-puasnya (Yahya Andi Saputra)

Check Also

Memilih Permainan Rakyat Betawi

MEMILIH PERMAINAN RAKYAT BETAWI

Memilih Permainan Rakyat Betawi – Emang udah dari sononye bahwa beberapa permaian tradisional mengandalkan keahlian …

Leave a Reply

Your email address will not be published.