PROSES PEMBUATAN ALAT MUSIK TEHYAN DALAM RANGKA MENUJU PENETAPAN WARISAN BUDAYA TAKBENDA
Muhammad Hasan Azmi (Pembuat Tehyan)

PROSES PEMBUATAN ALAT MUSIK TEHYAN DALAM RANGKA MENUJU PENETAPAN WARISAN BUDAYA TAKBENDA

Muhammad Hasan Azmi (Pembuat Tehyan)

kebudayaanbetawi.com, Tehyan merupakan salah satu alat musik gesek tradisional Betawi, yang merupakan bagian dari kelompok alat musik dalam kesenian gambang kromong. Tehyan adalah alat musik gesek tradisional Betawi yang terdiri dari dua senar dengan batok kelapa sebagai ruang resonansi, menghasilkan suara khas yang ritmis dan bernada tengah. Alat musik ini merupakan hasil dari akulturasi budaya Tionghoa dan Betawi. Sementara di Cina alat musik ini bernama Erhu yang dibawa ke Teluk Naga pada abang ke-17. Oleh masyarakat lokal, kemudian dipelajari dan dibuat semacam replikanya, yang diberi nama Tehyan. Nama Tehyan muncul begitu saja di dalam masyarakat tanpa diketahui siapa yang pertama kali menyebut hal tersebut. Hingga saat ini nama Tehyan menjadi semacam kesepakatan adat Betawi secara bersama-sama untuk menamakan alat musik ini. Alat musik merupakan bagian dari kelompok alat musik dalam kesenian gambang kromong, namun biasa nya digunakan juga untuk mengiringi kesenian tradisional lainnya seperti Ondel-Ondel.

Tehyan umumnya terbuat dari kayu dan batok kelapa. Pada tulisan Ahmad Apriyono menyebutkan Tehyan berukuran panjang sekitar 40-60 cm. Namun, pendapat itu disanggah oleh praktisi musik Gambang Kromong yang menyatakan biasanya ukuran panjang Tehyan adalah 70-75 cm. Batang kayu yang berukuran 70-75 cm itu digunakan sebagai badan dari Tehyan, sedangkan batok kelapa berfungsi sebagai ruang resonansi atau penghasil getaran suara. Ruang resonansi pada batok kelapa tersebut ditutup papan kayu yang terhubung dengan leher (neck). Diatas dari ruang resonansi tersebut terdapat sebuah bridge atau kuda-kuda sebagai tempat untuk dipasangkan dua senar string. Sementara untuk alat penggeseknya (bow) terbuat dari bambu dan benangnya terbuat dari kumpulan nilon tipis. Sebelum ada nilon, dahulu benang bow Tehyan menggunakan buntut kuda.

Tehyan merupakan bagian dari alat musik gesek dalam pertunjukan gambang kromong, namun pada perkembangannya Tehyan juga biasa digunakan sebagai melodi pengiring musik arak-arakan Ondel-Ondel, Tari Cokek,  hingga ke pementasan Lenong. Dalam penampilannya di kesenian Gambang Kromong seringkali Tehyan dibarengi dengan alat musik gesek lain yang memiliki kemiripan yaitu Kongahyan dan Sukong. Ketiga nya memiliki bentuk yang sama persis, yang membedakan hanya ukuran dan karakteristik suara serta penjariannya yang berbeda. Ketika tiga alat musik tersebut dimainkan secara bersamaan akan menghasilkan harmonisasi musik yang ciamik, sama seperti saat Violin, Cello, dan Contra bass dimainkan bersamaan.

Cara memainkan Tehyan yaitu dengan memegang Tehyan dalam posisi duduk serta badan yang tegak, kemudian menggesek senar secara halus, dan menggunakan teknik penjarian untuk menghasilkan nada diatonis. Bermain Tehyan membutuhkan penguasaan posisi, rasa, dan latihan rutin karena kesulitannya terletak pada menyesuaikan tekanan gesekan dan pengaturan nada tanpa ‘tatakan’ senar seperti biola. Proses pembuatan Tehyan terbagi menjadi enam tahapan, yaitu Pembuatan Batang, Pembuatan Tunner, Pembuatan Resonansi, Pembuatan Penggesek, Pewarnaan, dan Perakitan Tehyan. Keenam proses ini tidak memiliki sebutan lokal secara khusus.

Rincian keenam proses itu adalah:

Proses Pembuatan batang
pembuatan ruang resonansi
Proses pewarnaan
bagian-bagian badan Tehyan

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pembuatan Batang. Pembuatan batang utama pada Tehyan menggunakan media dan bahan kayu, kayu yang digunakan pada proses ini menggunakan kayu jati belanda, pemilihan media berdasarkan tingkat kekuatan serta ketahanan kayu yang baik. Pada tahap ini dilakukan pengikisan media kayu tersebut dari bentuk balok menjadi bentuk yang diingkan menggunakan alat serut kayu manual karena lebih mudah digunakan, dan memperkecil kesalahan dalam proses pembentukan. Setelah mendapatkan bentuk kayu yang melingkar atau bulat, Azmi (maestro Tehyan) memberikan batas bawah dengan gergaji besi kecil, guna untuk membatasi penghalusan yang akan dilakukan. Azmi melakukan proses penghalusan dengan alat amplas bambu guna untuk mendapatkan hasil kayu bulat sempurna. Amplas bambu merupakan potongan bambu kuning setengah lingkaran yang diameter 3 cm, lalu pada permukaan bagian dalam bambu tersebut ditempelkan amplas dengan cara dilem menggunakan lem cair. Amplas direkatkan pada bagian dalam bambu tersebut guna untuk mendapatkan hasil melingkar yang baik. Setelah melakukan perekatan amplas dengan bambu, selanjutnya dilakukan penghalusan bada bagian neck dengan alat tersebut. Pada tahapan ini merupakan proses lanjutan setelah melakukan proses pembuatan badan Tehyan, tahapan ini berfokus pada proses pembuatan tuner.
  2. Tunner bersfungsi sebagai pengatur nada pada senar Tehyan. Pada proses pembuatan tunner pertama ialah mempersiapkan balok kayu yang sudah dipotong berukuran panjang 13 cm, dengan diameter 7 cm. Balok kayu yang digunakan untuk membuat tunner didapatkan, proses selanjutnya ialah mengukur dan memberi batas untuk posisi tuas tunner dan pengikat senar. Pengukuran dilakukan dengan memberi garis pada kayu tunner. Pengukuran dilakukan dengan panjang tuas 5cm, sedangkan untuk pengikat senar yaitu 8cm. untuk bagian tuner pada Tehyan diperlukan ukuran panjang yang lebih pada pengikat senar, bertujuan untuk menahan tunner agar tidak mudah berubah atau berputar ketika diberi tekanan pada senar. Setelah tahap pengukuran dilakukan, selanjutnya proses pembentukan dari yang sudah ditentukan. Proses yang dilakukan ialah mengikis kayu tunner dengan pisau laut. Proses pengikisan pengikat senar dilakukan dengan menggunakan pisau laut bertujuan untuk mempercepat pembentukan diameter yang dibutuhkan yaitu 2 cm. Setelah proses pengikisan menggunakan pisau laut, Azmi mencoba mencocokan dengan lubang yang sudah dibuat pada bagian kepala kayu, setelah dilakukan pengecekan pada lubang kapala kayu Tehyan, selanjutnya melakukan pengikisan kembali menggunakan beling. Tahap ini diperlukan untuk meratakan permukaan kayu agar mudah diputar ketika dipasangkan dengan senar, Setelah proses pengikisan permukaan kayu tunner dilakukan dengan beling, selanjutnya memasuki tahap akhir yaitu penghalusan menggunakan alat amplas bambu, hal ini dilakukan setelah melakukan pemeriksaan bertahap pada lubang kepala kayu. Guna untuk memperoleh ukuran yang tepat karena kayu tunner tidak terdapat pengunci untuk menahan senar. Dan cara mengunci senar string tetap pada nada yang dibutuhkan menggunakan ujung pada bagian tunner yang haluskan menjepit kayu tunner pada lubang yang disediakan pada leher Tehyan. Proses penghalusan dilakukan hanya pada bagian pengikat senar. Setelah penghalusan pada bagian senar, dilakukan pemerikasaan pada lubang kayu Tehyan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk keperluan dalam mengoparsikan tunner ketika mengatur senar adanya tersendat untuk memutar tunner atau tidak, dan juga untuk memeriksa apakah tunner bisa mengunci sebagaimana yang dibutuhkan.
  3. Proses pembuatan resonansi Setelah pembuatan kayu utama sebagai badan dan tunner sebagai pengatur senar, proses pembuatan alat musik Tehyan dilanjutkan         dengan pembuatan ruang resonansi yang disebut sipongan menggunakan batok kelapa. Sipongan berfungsi sebagai penghantar suara melalui getaran senar yang       dipantulkan di ruang resonansi dan menghasilkan suara nyaring melalui lubang yang dibuat. Proses ini dimulai dengan memilih batok kelapa yang sudah kering,         kemudian memotong sepertiga bagiannya menggunakan gergaji besi agar tidak pecah, sebab batok kelapa cukup tipis dan rentan retak bila dipotong dengan gergaji   kayu. Pemotongan dilakukan perlahan untuk menghindari panas yang bisa memicu retakan. Setelah pemotongan, permukaan bekas potongan diratakan dengan         amplas kasar agar kayu penutup lubang (tisuk) dapat terpasang rapat. Bagian luar batok yang masih berdebu dan berserabut kemudian dihaluskan dalam dua tahap,  yaitu dengan amplas kasar secara manual, lalu dilanjutkan dengan amplas halus menggunakan mesin bor untuk mendapatkan hasil yang lebih halus dan siap  dipasang.
  4. Pembuatan Penggesek.Pembuatan penggesek alat musik tehyan, menggunakan bahan utama yaitu bambu. Bambu yang akan digunakan memiliki spesifikasi bambu   yang masih basah. Apabila bambu yang akan digunakan baru dipotong, bambu tersebut harus dijemur kurang lebih 3 hari, dikarenakan kayu bambu yang baru saja   ditebang memiliki kadar air yang sangat banyak, sehingga membuat bambu sangat lentur. Sedangkan untuk menjadi material penggesek dibutuhkan kadar air yang    sedikit, menjadikan bambu masih terasa sedikit lentur tapi memiliki tingkat kepadatan yang tinggi.
  5. Proses Pewarnaan, Pada saat semua proses pembuatan dan penghalusan selesai, pada tahap terakhir Azmi melakukan proses pewarnaan. Pewarnaan untuk setiap      pesanan berbeda-beda, tergantung keinginan dari pemesan, dan pada tahap ini Azmi menggunakan pewarna plitur. Plitur merupakan cat transparan yang berbahan   utama oker, yang memunculkan serat dari kayu tersebut, dan pada tahap terakhir ini Azmi mewarnain dengan cat plitur pada semua media.
  6. Proses Perakitan, Pada tahap ini merupakan akhir dalam proses pembuatan alat musik tehyan, yaitu tahap perakitan bahan dan media yang sudah diproses menjadi   bagian bagian yang ada pada alat musik tehyan. Yang dilakukan pada proses perakitan ini ialah tahap merakit alat, tahap tunning alat, dan yang terakhir tahap             membunyikan alat. Pada tahap pertama yaitu tahap merakit atau merangkai bahan bahan yang sudah diproses, yaitu neck, batok, tuner, dan mahkota. Serta ada         beberapa bahan tambahan dalam perakitan alat tehyan yaitu pengunci batok yang terbuat dari kaleng alumunium dan pengganjal senar atau biasa disebut dengan     nut bridge yang terbuat dari kayu, serta penahan senar terbuat dari benang wol sebagai pembatas atas yang biasa disebut nut.
Gambang Kromong Sinar Pusaka

Tehyan yang masih bagian dari kelompok alat musik gambang kromong, merupakan salah satu bentuk dari dari akulturasi budaya Tionghoa dan Betawi. Asal-usul dari proses akulturasi ini tidak lepas dari nama Oen Sin Yang atau orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Mpe Goyong, beliau merupakan merupakan pewaris tradisi dari keluarganya, di mana ayahnya, Oen Oen Hok, dan ibunya, Masna, merupakan maestro Gambang Kromong di kawasan Pecinan Tangerang. Tehyan dibuat menyerupai alat musik yang berasal dari Cina yang bernama Erhu. Beliau mengatakan Tehyan secara sederhana dapat dipahami sebagai bentuk akulturasi dari dari alat musik Erhu milik bangsa Tionghoa zaman dulu dengan berbagai adaptasi. Pada alat musik Erhu, resonansinya berbentuk segi enam dan terbuat dari kayu serta penutup membrannya terbuat dari kulit ular. Sedangkan pada alat musik Tehyan resonansinya terbuat dari batok kelapa berbentuk bulat dan penutup membrannya menggunakan kayu yang ditipiskan. Dengan begitu, Tehyan merupakan alat musik khas Betawi. Namun, untuk nama Tehyan sendiri sudah muncul.

Sejak awal alat musik ini dikenal Masyarakat Betawi.Jauh sebelum kedatangan VOC di Batavia, kelompok masyarakat Tionghoa telah menetap di Jayakarta sebagai pedagang, penanam tebu, dan penyuling arak. Pada masa VOC, terjadi lonjakan populasi yang signifikan, dari 2.747 orang pada 1674 menjadi 4.389 orang pada 1739. Akibat dari krisis pasar gula dunia membuat ratusan kuli Tionghoa kehilangan pekerjaan, yang pada akhirnya memicu pemberontakan pada 1740. Dimana hal tersebut membuat banyak orang Tionghoa diusir dari Batavia, dan harus menetap di pinggiran kota seperti di wilayah Pondok Aren, Pondok Cabe, Pondok Jagung, Pondok Pinang. Di sekitar Tegal Pasir atau Kali Pasir mereka mendirikan perkampungan Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan, perkampungan ini terletak di sebelah timur sungai Cisadane, dan berkembang menjadi pusat perdagangan dan budaya.

Masyarakat etnis Tionghoa yang sudah lama menetap di Batavia ini membentuk akar kebudayaan baru, yang disebut Betawi-Tionghoa. Salah satu kesenian hasil dari akulturasi kebudayaan ini dengan munculnya Gambang Kromong. Gambang Kromong sudah dikenal pada era 1880-an saat Bek Teng Tjoe (seorang kepala kampung) menyajikan musik tersebut untuk menyambut tamunya. Kemudian berkembang seiring perkembangan waktu di kalangan Cina Benteng yang ada di sekitar pinggiran Jakarta. Penggabungan inilah yang kemudian membentuk suatu pola kesenian yang baru, dan alat musik Tehyan menjadi salah satu hasil dari penggabungan tersebut.

Kondisi Budaya terancam punah didasarkan pada kenyataan bahwa Maestro Tehyan tidak ada yang berusia diatas 50 Tahun (sesuai dengan standart usia Maestro) meskipun demikian sistem perwarisannya berjalan dengan baik, sehingga saat ini ada sekitar 20 orang pembuat sekaligus pemain Tehyan yang usianya rata-rata antara 20 – 45 tahun. Diantara mereka ada yang dianggap Maestro oleh komunitasnya walaupun dari segi usia belum memunuhi kriteria seorang Maestro. Namun kemampuannya seluk beluk Tehyan tidak diragukan lagi. Maestro yang dimaksud bernama Muhammad Hasan Azmi (31 Tahun).

Check Also

Dialect shift and cultural dynamism among Betawi community in urban Jakarta in Palang Pintu and Rebut Dandang traditional ceremonies

Pergeseran dialek dan dinamisme budaya masyarakat Betawi di perkotaan Jakarta dalam upacara adat Palang Pintu dan Rebut Dandang

(Artikel ini pernah tayang di Cogent Arts & HumAnities2024, VoL. 11, no. 1, 2410542) Penulis …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *