
Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli. Hikayat Marakarma disebut pula dengan Hikayat Si Miskin merupakan karya sastra tulis melayu klasik Betawi, buah karya Muhammad Bakir. Beliau dan ketiga saudaranya dan Sapirin—yang sering juga disebut Guru Cit, adalah anggota keluarga Fadli yang aktif dalam proses menerjemahkan, menyadur dan penulisan. Mari kita baca Hikayat Marakarma.
Bismillahirrahmannirrahim.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamien, wabihi nastaien, ‘ala umuuriddunya waddien, wasshalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyai walmursalin, wa’ala alihi wasahbihi ajmaien. Amma ba’du.
Ini hikayat diceritakan orang dahulu kala. Allah subhanahu wata’ala, menunjukan kekayaannya kepada hambanya. Maka diceritakan oleh orang yang tau ceritanya.
Tersebutlah sebuah kerajaan yang sangat besar bernama Ananta Beranta. Raja yang berkuasa bernama Maharaja Indera Dewa. Kerena kebesaran dan kekuatan balatentaranya, hampir semua kerajaan kecil berada di dalam pengaruhnya. Tiap tahun kerajaan kecil itu mengirimkan upeti secara rutin ke kerajaan Ananta Beranta. Meski begitu, di dalam kerajaan ini masih saja terdapat orang miskin.
Suatu hari Maharaja Indera Dewa sedang menerima segala raja yang mengantarkan upeti, si miskin (suami istri) datang ke hadapan baginda. Dengan rupa pakaiannya compang-camping. Orang banyak itupun ramailah tertawa serta mengambil kayu dan batu, dilemparkan ke arah si miskin. Tubuh si miskin suami istri bengkak berlumuran darah. Si miskin diusir dari istana dan lari ketakutan.
Si miskin itu, bila malam tidur di hutan. Siang hari, masuk ke dalam kota untuk mencari rezeki. Di segala kampung dan tempat tidak ada yang suka kepada si miskin. Selalu diusir dan dilempari bebatuan. Tak ada yang dapat diperbuatnya, kecuali menangis sepanjang jalan dengan lapar dan dahaga, seperti akan mati rasanya. Di pinggir pasar ada tempat sampah, berhentilah ia di sana. Mencari barang yang dapat dimakannya. Yang didapatnya ketupat basi, dan buku-buku tebu. Diambil ketupat, buku tebu, dan pisang busuk itu, lalu dimakannya. Sesudah makan makanan sisa dan busuk itu, ia merasa segar, sebab sudah beberapa hari tiada merasai nasi. Demikianlah nasib si miskin itu. Sore hari ia pulang ke hutan, tempatnya beristirahat dan tidur. Darah pada tubuhnya yang sudah mongering itupun dibersihkan. Sambil menahan rasa sakit, maka si miskin tidurlah di dalam hutan itu.
Pagi-pagi sekali si miskin sudah bangun. Meringis kesakitan menahan bekas luka lemparan batu dan kayu sebab lemparan orang-orang yang tidak menyukainya.
“Wah, matilah aku, sangatlah sakit rasanya tubuhku ini, tiada dapat berjalan lagi. Serasa hancur seluruh anggota badanku.” Ucap sang istri. Ia pun menangis tersedu-sedan.
Sang suami tidak dapat menyaksikan penderitaan istrinya, ia pun turut menangis. Sambil menangis sang suami mencari dan memetik dedaunan, lalu dimamahnya, kemudian disapukan ke seluruh tubuh istrinya.
“Diamlah, jangan menangis. Sudahlah untung kita seperti ini.” Kata sang suami. Istrinya pun diam.
Siapakah sebenarnya si miskin suami istri ini? Kata hikayat, si miskin itu asalnya dari pada raja keinderaan yang terkena sumpah Batara Indera. Karena sumpah itulah ia pun menjadi miskin, terlunta-lunta, kelaparan, dan menderita. Apa saja makanan yang mungkin dapat dimakan meski sudah busuk, maka dimakan demi mempertahankan hidup.
Hatta demikian, maka si miskin itu hamillah tiga bulan lamanya. Maka istrinya itu pun menangis hendak makan buah ampelam yang tumbuh di dalam taman raja itu. Maka suaminya itupun menangis terkenangkan untung, tatkala ia menjadi raja di ke inderaan itu, tiada mau beranak, akan sekarang telah melarat, maka baharulah hendak beranak, seraya berkata pada istrinya itu, “Adapun Tuan, rupanya adinda hendak membunuhku. Tiadakah tuan tahu, jangankan meminta barang, lewat saja mereka marah.“
Mendengar jawaban suaminya, sang istri sangat sedih dan menangis.
“Diamlah jangan menangis, biarlah kakanda pergi mencari buah ampelam itu.”
Istrinya pun diam. Suaminya pergi ke pasar mencari buah ampelam. Sesampainya di pasar, ia langsung menuju kepada pedagang ampelam. Ia hanya berani menatapi buah ampelam, tanpa berani berkata atau berucap meminta, karena takut dipukul oleh sang penjual.
“Mau apa kau miskin?” Tanya pedagang.
“Jikalau ada belas dan kasihan tuan, sudilah tuan memberikan buah ampelam yang busuk itu barang sebiji tuanku.”
Mendengar permintaan si miskin, pedagang sangat kasihan, seperti akan hancurlah rasanya. Maka seketika itu juga pedagang memberi buah ampelam. Pedagang lain memberi juada, ada yang memberi nasi, ada yang memberi kain dan baju. Si miskin takjub dan heran, mengapa para pedagang di pasar begitu berbaik hati. Dua bulan lalu, jangan dikasih, sekadar liwat di depan pedang, pasti sudah mendapat makian dan diusir.
Tak percaya apa yang didapatnya hari ini, segera ia berlari pulang menemui istrinya di hutan.
“Inilah, tuan, buah ampelam.” Dengan bangga diserahkan semua hasil perolehan yang didapat di pasar, pemberian para pedagang. Ia bercerita bagaimana semua pedagang sangat berbaik hati kepadanya.
Melihat buah ampelam beserta apa yang dibawa suaminya, sang istri bukan gembira, justru sedih dan menangis. Apa yang diminta tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Dia menginginkan buah ampelam yang ada di halaman taman istana.
“Biarlah aku mati!”
Terlalu belas rasa hati suaminya itu melihat kelakuan sedu-sedan istrinya bagai orang hendak mati. Dengan sangat berat, pergilah sang suami ke istana, menghadap Maharaja Indera Dewa. Di istana, baginda sedang beramah-tamah dengan raja-raja dan tetamu lainnya. Si miskin masuk dan menyembah.
“Hai, miskin apa kehendakmu datang kemari?” Tanya raja.
Maka si miskin sujud kepalanya sampai ke tanah.
“Ampun, tuanku, beribu-ribu kali ampun, jikalau kasih dan karunia dulisyah patih, hamba orang yang hina ini hendak memohonkan daun ampelam yang gugur barang sehelai, tuanku”. Ucap si miskin. Dia tidak berani meminta buah ampelam.
“Hendak engkau buat apa daun ampelam itu?”
“Hendak patik makan, tuanku.“ jawab si miskin tanpa ragu.
Baginda agak terkejut. Sesaat kemudian baginda memerintahkan pembantunya untuk memetik ampelam.
“Petikkan buah ampelam, berikan kepada si miskin itu.”
Sang pembantu segera menuruti titah baginda, memetik buah ampelam dan memberikannya kepada si miskin. Si miskin bukan alang-kepalang senang dan bahagia. Ia menyembah beberapa kali dan memohon diri. Baginda dan seluruh tetamunya meneruskan acara ramah-tamah itu.
Si miskin sampailah ke tempat tinggalnya, di hutan. Setelah dilihat oleh sang istri, suaminya pulang membawa buah ampelam, ia tertawa gembira, lalu dimakannya ampelam itu. Kata hikayat, tiga hari kemudian, sang istri pun menangis lagi. Kali ini ia menangis karena ingin makan nangka, yang juga tumbuh di dalam taman istana. Sungguh ngidam yang berat. Suaminya pun pergi ke istana memohon kepada raja. Raja mengabulkan permohonannya. Dipetiknya nangka itu dan segera dibawa pulang, diberikan kepada istrinya. Tentu istrinya berbahagia dan langsung memakan buah nagka itu.
Adapun selama istrinya hamil, segala makan-makanan, kain baju, beras padi, dan segala perkakasnya banyak diberi orang. Si miskin tidak kelaparan. Singkat cerita, genaplah bulan hamilnya istri si miskin. Tepat malam empat belas hari, ketika bulan sedang terang temaram, istri si miskin melahirkan seorang anak laki-laki. Terlalu elok parasnya. Dinamainya anak itu Marakarma, yang artinya anak laki-laki di dalam kesukaran. Marakarma dipelihara dengan penuh kasih sayang, tak sesaat pun berpisah dari pelukan ibunya.
Suatu hari si miskin berniat mendirikan rumah. Ia mulai menggali tanah. Dengan takdir Allah subhanahu wata’ala, ketika ia menggali tanah, cangkul yang digunakan menggali tanah, membentur benda keras. Ternyata sungguh si miskin tidak dapat mengiranya, apa yang dikenai oleh cangkulnya adalah emas, banyaknya tujuh batang tergolek-golek, yang semula disangkanya hanya akar kayu. Tak percaya apa yang dilihatnya, ia pun memanggil istrinya. Sang istri pun takjub tak mempercayai apa yang dilihatnya. Sang istri pun terkejut.
“Sampai anak cucu sekalipun tiada habis kita belanjakan.” Ungkap sang istri.
Sang suami hanya menggangguk seraya mengambil batangan emas itu. Dengan gembira dibawanya emas itu kepada seorang saudagar untuk dijual.
”Marilah tuan duduk. Apa maksud tuan datang kemari?” Tanya saudagar.
“Jikalau boleh kiranya tuan dapat menolong hamba.” Ucap si miskin.
“Baiklah, katakana saja.” Ucap saudagar.
Maka si miskin mengeluarkan sebatang emas yang dibawanya dan diperlihatkan kepada saudagar.
“Inilah emas, hamba minta tolong kepada tuan jika dapat dibeli atau ditukarkan dengan pakaian.” Pinta si miskin.
Saudagar heran melihat emas yang dibawa si miskin. Sungguh besar dan harganya pun tidak murah. Tidak mungkin saudagar membeli tunai emas itu.
“Baiklah tuan, tetapi hamba berjanji barang tujuh tahun lamanya barulah lunas, karena terlalu sukar pekerjaan ini.” Jawab saudagar.
“Baiklah tuan!” jawab si miskin.
Dari situ si miskin pergi ke saudagar lainnya memohon dibuatkan tongkat. Hatta dengan demikian, singkat cerita habislah semua saudagar yang ada di dalam negeri Ananta Branta itu. Ada yang disuruhnya membeli payung, ada yang disuruhnya membeli kendi, ada yang disuruhnya memberi lampit, ada yang disuruhnya membeli pedang, ada yang disuruhnya membeli utar-utar, ada yang disuruhnya membeli lembing, ada yang disuruhnya membeli keris, ada yang disuruhnya membeli kuda, ada yang disuruhnya membeli pelana kuda, dan sebagainya.
Maka kata hikayat, seluruh emas habis dibelanjakannya, ia pun pulang. Sesudah istirahat dan mandi, ia memanggil anaknya.
“Jikalau sungguh engkau anak dewa, turun hendak memuliakan ayah bundamu, jadikanlah sebuah negeri di dalam hutan rimba ini, lengkap dengan kota paritnya, istananya lengkap dengan menteri, hulubalang serta rakyatnya dan segala raja-raja, jang dibawahku.” Kata si miskin.
Maka dengan takdir Allah subhanahu wata’ala, menjelmalah sebuah negeri lengkap dengan seluruh perangkat ala kerajaan. Seolah takjub dengan apa yang dilihatnya, maka si miskin mengganti nama dengan gelar Maharaja Indera Angkasa, istrinya dinamai Tuan Puteri Ratna Dewi dan negeri baru itu dinamai Puspa Sari.
Maharaja Indera Angkasa menjadi raja dengan adil bijaksana. Tanpa pandang bulu, seluruh rakyatnya, mulai menteri, hulubalang, pedagang, saudagar, rakyat biasa, dan sebagainya mendapat penghargaan yang sama. Makmur dan sejahtera. Maka mashurlah wartanya kepada segala negeri mengatakan halnya si miskin telah menjadi raja sangat saktinya, dan dapat ia mencita negeri dengan selengkapnya. (Bersambung)
