Hikayat Marakarma (Bagian 3)

Hikayat Marakarma (Bagian 3)

Hikayat Marakarma (Bagian 3)

Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli. Hikayat Marakarma disebut pula dengan Hikayat Si Miskin merupakan karya sastra tulis melayu klasik Betawi, buah karya Muhammad Bakir. Beliau dan ketiga saudaranya dan Sapirin—yang sering juga disebut Guru Cit, adalah anggota keluarga Fadli yang aktif dalam proses menerjemahkan, menyadur dan penulisan. Mari kita baca Hikayat Marakarma.

Alkisah kata hikayat, tiga hari sepeninggal Marakarma, kerajaan Puspa Sari terbakar, satu pun tiada yang tersisa, habis pecah belah. Seluruh rakyat cerai berai, tiada berketahuan lagi perginya, masing-masing membawa dirinya. Sementara Maharaja Indera Angkasa bersama permaisurinya menyingkir di tepi hutan dekat istananya yang terbakar habis. Maka sadarlah ia akan perbuatannya, bahwa ia dihasut oleh orang yang dengki akan dirinya. Akhirnya ia pun kembali miskin, berjalan masuk hutan keluar hutan berusaha mencari anaknya. Matanya sembab karena tidak berhenti menangis. Maka sesalnya itu pun tiada berguna lagi, tiadalah terkata-kata lagi sesalnya itu. Ingin mati saja rasanya.

Alkisah, maka tersebutlah Marakarma berjalan berdua adiknya. Sore matahari hampir masuk ufuk timur dan hari mulai gelap. Tiba-tiba Tuan Puteri Nila Kesuma menangis hendak minum susu. Marakarma tiada mengerti harus berbuat apa. Ia pun menangis.

“Diamlah tuan, jangan menangis, karena kita orang celaka diusir oleh orang tua kita. Dimana pula kita beroleh susu?” sambil berkata begitu, Marakarma mengeluarkan ketupat dan dipotongnya lalu disuapi adiknya. Terasa kenyang, Puteri Nila Kesuma pun diamlah.

Kakak beradik Marakarma dan Puteri Nila Kesuma terus berjalan melewati hutan belantara, rawa, dan padang. Tidak perduli dingin, hujan, atau panas terik. Segala tempat yang belum pernah dilalui orang, diliwatinya pula tempat itu. Kata hikayat, setelah tujuh hari tujuh malam dilaluinya, ketupat yang tujuh biji itupun habislah dimakan oleh Puteri Nila Kesuma. Karena Marakarma memberikan kepada adiknya itu sebelah pagi, sebelah petang. Setelah habis ketupat itu, Puteri Nila Kesuma kelaparan dan menangis. Marakarma berusaha mencari bahan makanan yang dapat dimakan. Segala macan dedaunan muda dipetik dijadikan bahan makanan. Buah-buahan yang ditemui di hutan pun dipetik dan dijadikan makanan. Dengan sabar Marakarma merawat adiknya, member makan dan memandikannya dengan seksama.

Syahdan, beberapa lamanya Marakarma dan adiknya berjalan, gunung tinggi dan danau luas seperti laut telah dilewatinya. Dalam perjalanannya itu, Marakarma justru seolah-olah merasa mendapatkan pendidikan ilmu kesaktian. Sebab pada tempat sepi dan menyeramkan, tempat tinggalnya segala makhluk dewa-dewa, peri, mambang, raksasa, termasuk binatang buas, seperti harimau, macan, ular dan naga di sanalah Marakarma beroleh kesaktian, diajarkan ilmu kesaktian.

Marakarma menjadi semakin takjub melihat kekayaan Allah subhanahu wata’ala yang berbagai macam dan ajaib-ajaib. Suatu waktu Marakarma sampailah pada suatu tempat berbukit berjentera, tempat segala raja-raja bertapa. Di tempat itu pula dia berhenti dan mencari dan memperoleh ilmu kesaktian. Apabila ia bertemu dengan raja-raja yang juga bertapa mencari kesaktian, adiknya Puteri Nila Kesuma pun disembunyikan. Jikalau ia bertemu dengan segala binatang buas, adiknya didukung tiada sedetikpun dilepas daripada tanganya.

Kata hikayat, sampailah Marakarma ke sebuah pohon beringin yang terlalu amat besarnya. Di sebelah pohon beringin ada air terjun kecil turun dari atas gunung. Di sanalah Marakarma berhenti beristirahat dan memandikan adiknya. Persis pada saat itu, melayanglah seekor burung di atas kepalanya. Puteri Nila Kesuma melihat burung itu dan menangislah meminta kepada abangnya agar menangkap burung terbang itu. Marakarma pun melompat, lalu disambarnya burung itu lalu diberikan kepada adiknya.

“Kakanda, sembelihlah burung ini!” pinta adiknya. Marakarma pun menyembelih burung itu.

“Bakarlah, kakanda. Burung ini nanti kita makan bersama!” pinta adiknya lagi.

“Sabarlah dahulu, adikku.“ Marakarma bingung dimana mendapatkan api. Sekonyong-konyong didengarnya bunyi ayam berkokok sayup-sayup. Ternyata hutan itu dekat dengan perkampungan Negeri Palinggan Cahaya.

“Tuan, tunggulah dulu sebentar di sini, kakanda mau pergi mencari api untuk membakar burung ini.“ ucap Marakarma.

“Baiklah, kakanda. Aku akan menunggu di sini. Pergilah mencari api.” Jawab adiknya. Maka dipeluk dan dicium adiknya itu.

“Janganlah, tuan berjalan ke sana-sini sepeninggal kakanda ini. Tetap di sini sampai kanda datang. Jikalau tuan pergi nanti sesat, tiada bertemu dengan kakanda lagi.” Pesan Marakarma kepada Puteri Nila Kesuma.

“Baiklah, kakanda.“ jawab adiknya.

Marakarma pun pergi berjalan menuju arah suara ayam berkokok. Tetapi dalam hatinya terasa tiada enak, senantiasa berdebar-debar tidak karuan. Sesampai di perkampunga itu, dilihatnya daerah pertanian yang luas. Segala macam tanam-tanaman seperti, tebu, pisang, ubi, keladi, kacang, jagung, sungguh lebat berbuah. Iapun masuk berjalan keliling pagar pertanian itu sambil menunggu kedatangan orang yang punya kebun untuk meminta api.

Tidak berapa lama, pemilik kebun pun sampai. Dilihatnya ada orang di dalam kebunnya, ia pun membentak.

“Hai, si pencuri, sungguh biadab perbuatanmu. Habis semua tanamanku. Jagung dan pisang yang hilang ternyata perbuatanmu. Sekarang kemana kau akan lari. Memang sudah lama aku nantikan kedatanganmu.” Bentak pemilik kebun sambil mengejar dan menangkap Marakarma.

“Aku tidak akan lari, karena aku bukan pencuri. Aku sedang sesat, datang dari negeri orang, hendak meminta api kepadamu, tuan.” Ucap Marakarma.

“Bohong, engkau ini pembohong!!!” berkata pemilik kebun sambil menyeret tangan Marakarma. Karena diseret terlalu keras, kemala yang diikat di pinggangnya jatuh. Kemala itu diberikan oleh bundanya ketika Marakarma diusir dari kerajaan. Melihat kemala jatuh dari pinggang Marakarma, orang itu mengambilnya.

“Inilah kemalaku, engkau curi.” Bentak pemilik kebun.

“Nyatalah, engkau berbuat aniaya kepadaku ini. Itu kemala pemberian ibuku.” Jawab Marakarma. Pemilik kebun justru semakin membabi buta dan menganiaya Marakarma. Marakarma pun ingat kepada adiknya yang ditingalkan seorang diri di tengah hutan.

“Wah, adinda, tuan, apa gerangan yang akan terjadi kepada tuan sepeninggal kakanda, karena kakanda dituduh dan dianiaya orang, kakanda tiada bertemu dengan tuan lagi.“ Maka ia pun menangis lalu pingsan tiada sadarkan dirinya lagi.

“Itulah akibat mencuri dan memakan jagungku. Rasakanlah akibat perbuatanmu.”

Habislah tubuh Marakarma bengkak-bengkak berlumuran darah. Pemilik kebun menyangka  sudah mati, maka diikat dengan tali seperti orang mengikat lepat. Setelah diikat lalu dibuang di pinggir laut.

Alkisah, tersebutlah raja di dalam Negeri Palinggam Cahaya bernama Maharaja Puspa Indera. Permaisurinya bernama Tuan Puteri Maduratna. Ia berputera seorang laki-laki terlalu baik parasnya bernama Raja Mangindera Sari.

Syahdan, suatu hari putra mahkota Mangindera Sari berniat berburu ke hutan. Ia menghadap dan menyembah ayahandanya, memohon izin pergi berburu.

”Kapan, tuan hendak pergi berburu?“ Tanya ayahandanya.

“Pada esok hari, tuanku.” Jawab Mangindera Sari.

Maka bagindapun menyuruh segala raja, menteri, hulubalang untuk memperisapkan perlengkapan berburuan. Dinihari, bintangpun belum padam cahayanya, maka gong dipukul berkali-kali tanda persiapan keberangkatan berburu. Anak raja-raja, menteri, dan hulubalang bangun bersiap-siap mengenakan pakaian dengan selengkapnya.

Setelah memohon diri, Raja Mangindera Sari berangkat diiringi oleh segala anak raja-raja, menteri, hulubalang, masuk ke dalam hutan tempat perburuan. Namun kurang beruntung. Dari pagi-pagi sekali sampai tengah hari, jangankan beroleh kijang, menjangan, lalat pun tiada melintas terlihat.

Raja Mangindera Sari pun sangatlah dahaga. Ia menyuruhkan salah seorang punggawa pergi mencari air.

Adapun Tuan Puteri Nila Kesuma, sepeninggal abangnya, Marakarma, duduk di bawah pohon beringin, menanti kedatangan abangnya. Tunggu punya tunggu, tiada juga abangnya muncul sampai tengah hari. Takut karena sendirian, ia pun menangis.

“Wah, kakanda, sampai hati kakanda meninggalkan adinda, di dalam hutan rimba belantara ini. Matilah adinda dimakan oleh binatang buas di dalam hutan ini.” Ucap Puteri Nila Kesuma.

Sementara itu punggawa yang disuruh mencari air oleh Raja Mangindera Sari, sampai ke pohon beringin. Dia heran karena melihat ada seorang anak perempuan menangis, memegang seekor burung, terlalu baik parasnya. Ia pun segera mengambil air, lalu kembali menyerahkan air kepada Raja Mangindera Sari.

“Lama benar engkau pergi mencari air?” Tanya raja.

“Ya, tuanku, ampuni hamba. Di tengah hutan hamba melihat seorang anak perempuan, terlalu amat baik parasnya, duduk di bawah pohon beringin, sambil memegang seekor burung yang sudah disembelih. Ia menangis, tuanku.” Ucap punggawa.

Raja Mangindera Sari pun pergi melihat anak yang diceritakan itu. Setelah sampai kepada pohon beringin itu, dilihatnya sungguh kanak-kanak itu menangis, memegang seekor burung sudah disembelih. Terlalu baik parasnya, seperti anak-anak gadis rupanya.

“Mamanda, ambil kanak-kanak itu, kita bawa pulang, karena hari hampir petang, seekor binatang pun tiada kita peroleh. Ayo pulang saja.” Perintah raja Mangindera Sari kepada perdana menteri.

“Baiklah, tuanku!” Perdana menteri mengajak dan mendukung Puteri Nila Kesuma. “Diamlah, tuan, jangan menangis, marilah kita pulang ke rumah!” katanya pada puteri.

Raja Mangindera Sari pun pulang meski tidak seekor pun binatang buruan didapatnya. Ketiak rombongan Raja Mangindera sari meliwati pasar, orang-orang di pasar heran dan gempar karena raja mendapat anak di dalam hutan, terlalu baik parasnya. Puteri menjadi totonan orang di pasar.

Sesampai di istana diajaknya anak yang ditemukan di hutan menghadap baginda. Melihat putranya pulang membawa seorang anak perempuan, baginda menyusuruh anaknya duduk dekat ibundanya.

“Anak siapa gerangan ini? Terlalu amat baik parasnya.” Tanya baginda. Setelah itu permaisuri menyuruh inang memandikan anak itu.

Maka segala dayang-dayang dan inang membawa Puteri Nila Kesuma dan memandikannya. Masing-masing dengan tugasnya, ada yang membawa limau, ada yang membawa kain, ada yang membedaki, ada yang melangirinya, dan sebagainya. Setelah mandi, lalu dipakaikan baju dan didukung dibawa kembali ke hadapan baginda dan permaisuri. Permaisuri menyuruh ambil gelang, subang, cincin dan rantai untuk dipakaikan kepada kanak-kanak itu.

Setelah dirawat dan dirias sedemikian rupa, mangkin bertambah-tambah baik parasnya, seperti anak-anakan emas yang sudah disepuh, demikian rupanya. Maka terlalu suka cita hati baginda dan permaisuri melihat keelokan anak itu, maka baginda menamainya Puteri Mayang Mengurai.

“Rawat dan pelihara baik-baik anakku ini. Jangan sekali-kali engkau bedakan dengan raja Mangindera Sari.” Perintah baginda kepada inang pengasuh.

“Sungguh hati hamba merasa amat kasihan melihat Puteri ini, tuanku, amat belas kasihan melihatkan anak piatu ini, tuanku.” Ucap inang.

Hatta selang beberapa waktu, Tuan Puteri Mayang Mengurai tumbuh kian besar menjadi gadis, terlalu elok parasnya, gilang gemilang rupanya. Suatu hari baginda dan permaisuri duduk berbicara seperti biasa, datanglah Tuan Puteri Mayang Mengurai menghadap, minta izin pergi bermain ke taman Mandam Berahi.

“Marilah, tuan duduk dekat bunda. Apakah maksud tuan ini, katakanlah kepada bunda.” Puteri Mayang Mengurai menyembah kepada baginda dan permaisuri dan duduk dekat bundanya itu.

“Pangling sekali, ayahanda melihat tuan datang menyembah, hampirlah adinda bermenantu, karena anak kita ini telah besarlah sudah.” Kata baginda kepada permaisuri.

Tidak berapa lama, Raja Mangindera Sari pun datang menghadap ayahandanya.

“Marilah, tuan duduk dekat ayahanda.” Perintah baginda kepada putranya.  Mangindera Sari pun menyembah kepada ayah bundanya lalu duduk dekat bagindah, seraja memandang Puteri Mayang Mengurai. Tuan Puteri kemalu-malua dan berlindung di belakang bundanya. Pandangan mata Raja Mangindera Sari tiada lepas memandang Tuan Puteri Mayang Mengurai. Jika tidak di hadapan ayah bundanya, pasti Tuan Puteri Mayang mengurai sudah ditangkapnya.

Baginda hanya tersenyum melihat kelakuan putranya. Mengertilah baginda apa yang berkecamuk di dalam hati putranya. Baginda merasa bahagia karena ternyata putranya sudah jelas menyukai Puteri Mayang Mengurai.

”Maukah tuan akan bunga ayahanda itu?“ Tanya baginda kepada putranya. Raja Mangindera Sari pun duduk malu, tiada satu pun kata diucapkannya. Sementara Tuan Puteri Mayang Menguri menjadi salah tingkah dan memohon diri.

”Apa kehendak tuan, katakanlah kepada bunda.” Ucap permaisuri kepada Puteri Mayang Mengurai.

”Hendak bermohon pergi, bermain ketaman Mandam Berahi itu, tuanku.” Jawab Puteri.

“Baiklah, tuan, jika tuan hendak pergi ke taman itu, pergilah.” Kata permaisuri.

“Terima kasih, tuanku. Hamba memohon izin.” (Bersambung)

Check Also

Hikayat Marakarma (Bagian 1)

Hikayat Marakarma (Bagian 1)

Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *