Hikayat Marakarma (Bagian 6)

Hikayat Marakarma (Bagian 6)

Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli. Hikayat Marakarma disebut pula dengan Hikayat Si Miskin merupakan karya sastra tulis melayu klasik Betawi, buah karya Muhammad Bakir. Beliau dan ketiga saudaranya dan Sapirin—yang sering juga disebut Guru Cit, adalah anggota keluarga Fadli yang aktif dalam proses menerjemahkan, menyadur dan penulisan. Mari kita baca Hikayat Marakarma.

Alkisah kata hikayat, nakhoda mendorong Marakarma dan jatuhlah ke laut. Di laut yang bergelombang, Marakarma tidak dapat berbuat apa-apa, melainkan pasrah dan menangis. Ia ingat istrinya dan sedih membayangkan apa yang akan menimpa orang yang disayanginya itu. Ia terombang-ambing di tengah laut. Saat itu dilihatnya seekor ikan hiu yang amat besar menuju ke arahnya. Lalu hiu itu mengelilinginya seolah akan memakannya.

“Hai, sang hiu, makanlah aku ini, tak kuasa aku menanggung hidup begini. Tak pernah sekalipun bahagia. Lebih baik aku mati saja. Ayo makanlah aku.” Ucap Marakarma kepada hiu.

Tapi tidak disangkanya, hiu itu menundukkan kepala seperti menyembah, katanya, “Ya, tuanku, maharaja besar, kembunglah perut hamba, lalu matilah hamba, jika menyantap tuanku Raja. Katakanlah kemana tuan hendak pergi, hamba akan mengantarkannya.”

Mendengar jawaban hiu seperti itu, gembira hati Marakarma. ”Jika demikian, hai hiu, bawalah aku mengikuti kapal itu. Di pelabuhan mana kapal itu berhenti, di sana pulalah kau singgahkan aku.”

“Baiklah tuanku.” Maka hiu menelan Marakarma dan dibawanya mengikut kapal nakhoda itu.

Ternyata nakhoda mengarahkan kapal ke palabuhan negeri Palinggam Cahaya dan di sanalah kapal itu berlabuh. Raja negeri Palinggam Cahaya, Maharaja Puspa Indera adalah sahabat baik nakhoda kapal itu. Kedatangan nakhoda disambut dengan ramah oleh maharaja.

Sementara itu ikan hiu sampai pula ke palabuhan negeri itu dan terdampar di pantai dekat rumah Nenek Kebayan. Sang nenek baru saja bangun tidur dan ingin membasuh muka. Seekor burung Rajawali terbang menghampiri nenek itu.

“Hai, Nenek Kebayan, lihatlah ikan hiu di sana itu.” Kata Rajawali. Nenek Kebayan melihat ada seekor ikan hiu besar terdampar tidak jauh dari rumahnya. “Ambil daun padi dan taruh di perut hiu itu, ada anak Raja di dalam perutnya itu”. Perintah Rajaw ali.

Mendengar ucapan Rajawali, Nenek Kebayan bergegas mencari daun padi, lalu ditaruhnya di perut ikan hiu. Maka Marakarma keluar dari perut ikan hiu, turun ke laut tempat ikan itu berada. Nenek Kebayan melihat Marakarma terlalu elok, gilang-gemilang, kilau-kilauan, seperti emas, yang sudah disepuh.

“Oh, sungguh luar biasa. Selama ini nenek makan tak kenyang, mandi seolah tak basah, berminyak tiada licin, rupanya nenek akan bertemu dengan tuan ini.” Seusai berkata begitu, Marakarma dipapah si nenek dibawa pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah, Marakarma dimandikan, dilangiri, dan bedakinya. Setelah selesai didandani, makin bertambah-tambah elok paras, bercahya-cahya.

“Hai nenek, negeri Raja mana ini dan apa nama negeri ini?” Tanya Marakarma kepada Nenek Kebayan.

“Cucuku, negeri ini bernama Palinggam Cahaya dan Rajanya bernama Puspa Indera.” Lalu panjang lebar Nenek Kebayan menceritakan keadaan kerajaan Palinggam Cahaya. Baginda mpunya seorang putra amat baik parasnya, bernama Raja Mangindera Sari. Ketika Raja Mangindera Sari pergi berburu, ia menemui seorang puteri di hutan di bawah pohon beringin besar. Puteri itu memegang seekor burung yang sudah disembelih. Kini puteri itu sudah dijadikan istri oleh Raja Mangindera Sari. Raja itu terlalu sayang dan sangat mencintai istrinya.

Mendengar cerita Nenek Kebayan, Marakarma mengetahui bahwa puteri yang diceritakan itu tidak lain adalah adiknya. Tanpa terasa air mata Marakarma bercucuran.

”Apa yang tuan tangiskan?” Tanya Nenek Kebayan.

“Tidak nenek, mataku kemasukan debu. Berceritalah lagi, aku senang mendengar cerita nenek.” Nenek Kebayan kembali cerita, sampai kedatang kapal yang membawa harta benda amat banyak. Nakhoda kapal itu sahabat baik Raja, dan nakhoda itu beristri sangat elok cantik rupawan.

“Pernahkah nenek melihat isteri Raja Mangindera Sari?”

“Belum pernah, tuan. Nenek hanya mendengar kabarnya saja.”

“Hei, nenekku, sungguh baik nenek memberiku makan dan merawatku. Seharusnya akulah yang merawat nenek. Untuk saat ini aku belum bisa merawat nenek, namun boleh aku tahu berapakah biaya nenek merawatku sehari?”

“Mengapa tuan berbicara seperti itu. Rezeki yang aku dapat, bukan hanya untukku, tapi juga rezeki tuan juga.”

“Benar apa yang nenek katakana. Tapi hendaklah kita cari jalan supaya dapat rezeki lebih banyak. Maukah nenek berjualan bunga, karena pohon bunga nenek itu banyak dan sedang berkembang. Biar aku yang merangkai.”

“Tuan, dahulu nenek pun berjualan bunga, tapi tidak nenek rangkai.”

“Sekarang petiklah bunga-bunga itu, nek. Nanti aku merangkainya.”

Pergilah nenek memetik bunga dan diserahkan kepada Marakarma. Marakarma dengan cekatan dan sabar merangkai bunga menjadi rangkaian yang indah. Beberapa waktu kemudian, rangkaian-rangkain bunga sudah selesai dikerjakan.

“Inilah, nek, masukkan ke bakul. Sekarang coba nenek bawa bunga ini ke kapal kepada istri nahkoda kapal, barangkali akan laku bunga-bunga ini, nek.”

“Baiklah tuan.” Nenak berjalan pergi ke kapal menjual bunga.

Orang-orang di kapal melihat seorang nenek berjualan bunga, cukup indah. Mereka menyuruh masuk nenek itu. Banyaklah anak buah kapal membeli bunga. Rupanya Tuan Puteri pun melihat nenek penjual bunga.

“Kemarilah, bawa bunga itu, nek!” pinta puteri.

Nenek Kebayan segera datang menghampiri Tuan Puteri dan dipersilahkan masuk ke kamarnya. Nakhoda melihat Nenek Kebayan masuk ke kamar puteri, ia pun ikut masuk bersama-sama Nenek Kebayan. Melihat nakhoda ikut masuk, Tuan Puteri segera mengambil pisau, menangis hendak bunuh diri. Nakhoda pun segera keluar.

“Hai, nenek, seringlah datang kemari, bawakan Tuan Puteri bunga.” Ucap nakhoda.

“Baiklah tuanku.” Jawab nenek. Pintu pun dikunci oleh Tuan Puteri.

“Duduklah, nek.” Ajak puteri.

Nenek Kebayan menyembah seraya katanya, “Baiklah Tuan Puteri.”

“Indah dan elok benar rangkaian bunga ini. Siapakah yang membuatnya nek. Anak nenekah?”

“Bukan, tuan, nenek sendiri menggubah bunga ini.“

“Sungguh pandai nenek menggubah bunga, ajarilah aku nek. Besok nenek datang lagi, ajari aku merangkai bunga.”

“Baik, tuanku.” Seluru bunga yang tersisa dibeli oleh puteri. Nenek Kebayan memohon diri. Sesampai di rumah, didapati cucunya sedang duduk di depan pintu. Melihat Nenek Kebayan pulang, Marakerama bangkit dan gembira.

“Cepat benar nenek pulang. Lakukah jualan nenek?”

“Laku tuan, laris manis. Bahkan banyak pembeli yang kehabisan.” Jawab nenek. Marakarma tertawa riang.

“Elok sungguh tuan, istri nahkoda kapal itu. Tapi perkawinan mereka tidak harmonis rupanya. Mereka berkelahi. Melihat nakhoda masuk ke kamar, istrinya itu mengambil pisau hendak bunuh diri.” Lalu diceritakannya segala perbuatan Tuan Puteri dengan nahkoda.

“Jika demikian, esok nenek kembali berjualan bunga kepada putri.”

Nenek Kebayan menangis mendengar cucunya bicara. ”Apakah nenek tangiskan? Apakah nenek takut pada nakhoda itu?”

“Tidak, tuan, nenek tidak takut pada nahkoda. Tapi nenek sudah berjanji kepada Tuan Puteri mau mengajarkan merangkai bunga. Padahal nenek tidak tahu caranya.”

Marakarma tertawa tergelak-gelak mendengar ucapan Nenek Kebayan. “Diamlah, nenek, jangan menangis. Nanti aku suruhkan lalat hijau mengajari nenek. Dimana lalat hijau hinggap, disanalah nenek ikuti masukkan dan rangkai bunga itu”.

Nenek Kebayan bahagia mendengar ucapan Marakarma. Keesokan harinya Nenek Kebayan memetik bunga dan dibawa kepada cucunya, Marakarma. Marakarma membuat sebuah rangkaian. Di dalam bunga rangkaian itu diletakkan cincin pemberian bundanya. Setelah itu Marakarma menulis surat.

“Surat ini dari kakanda maharaja Marakarma, kepada adinda, Tuan Puteri Cahaya Khairani. Jika ada belas  dan kasihan tuan kepada kakanda, janganlah tuan kembali lagi ke perahu itu. Ceritakanlah kepada Tuan Puteri Mayang Mengurai hal ikhwal kita ini.” Begitu isi surat Marakarma. Surat itu diberikan kepada Nenek Kebayan untuk disampaikan kepada tuan puteri.

“Jika bukan kepada isteri nahkoda, jangan jual jual rangkaian bunga ini pada orang lain.” Pesan Marakarma kepada nenek Kebayan. Nenek Kebayan mengangguk dan berangkat menuju kapal. Sesampai di kapal, ia langsung menemui puteri.

“Marilah nenek, mengapa nenek terlambat?”

“Nenek harus mengurus rumah, tuan. Mohon maafkan hamba.”

“Mari ajari aku mengubah bunga, nek.”

“iya, mari tuan.” Nenek mengeluarkan perlengkapannya. Lalat hijau pun terbang berdengung-dengung, lalu ia hinggap pada bunga itu. Maka barulah diturut oleh Nenek Kebayan menusuk bunga itu. Nenek Kebayan mengikuti petunjuk yang diberikan Marakarma, dimana lalat hijau hinggap di situlah dimulainya merangkai bunga.

“Sungguh pandai nenek ini. Lagi pula mendatangkan lalat hijau, maka lalatnya itu pun pandai juga mengubah bunga.”

“Bukan, mata nenek awas, lalat itu mengganggu.”

Tuan Puteri itu tertawa seraya katanya, ”Sungguh lalat itu terlalu jahat”. Setelah selesai Nenek Kebayan merangkai bunga, bunga gubahan Marakarma ditunjukkan puteri. Tuan Puteri melihat rangkaian bunga terlalu indah. Diperhatikan bunga dengan seksama, dilihatnya ada cincin dan surat dari suaminya. Diambilnya kedua barag itu, lalu dibaca surat dari suaminya. Tanpa terasa, air mata bercucuran dan suka cita hatinya, seolah-olah suaminya berada di hadapannya.

“Mengapa tuan menangis.” Tanya Nenek Kebayan.

“Tidak apa-apa, nek. Mataku dimasuki debu dari dalam bunga nenek itu. Dimanakah rumah nenek, aku ingin memetik bunga di kebun nenek.”

“Rumah nenek jauh dari sini. Tuan tidak sanggup berjalan ke sana. Lagipula banyak penyamun di tengah jalan.”

Tuan Puteri mengangguk lalu mengambil kain sutera dan diberikannya kepada Nenek Kebayan. “Inilah harga bunga nenek. Selagi perahuku bersandar di sini, sering-sering nenek datang kemari, bawakan aku bunga.”

“Baiklah, tuan.” Jawab Nenek Kebayan. Selain menerima kain sebagai pembayaran bunga, Nenek Kebayan masih menerima hadiah lainnya berupa anek makanan yang lezat.

“Mengapa nenek agak terlambat pulang?” Tanya Marakarma. Nenek Kebayan menceritakan semua kejadian bersama Tuan Puteri.

“Inilah harga bunga tuan itu.” Kata Nenek Kebayan menyerahkan kain sutera dari puteri. Marakarma mengenali kain itu milik isterinya. Matanya berlinang-linang. (Bersambung)

Check Also

Hikayat Marakarma (Bagian 7)

Hikayat Marakarma (Bagian 7)

Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *