
Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli. Hikayat Marakarma disebut pula dengan Hikayat Si Miskin merupakan karya sastra tulis melayu klasik Betawi, buah karya Muhammad Bakir. Beliau dan ketiga saudaranya dan Sapirin—yang sering juga disebut Guru Cit, adalah anggota keluarga Fadli yang aktif dalam proses menerjemahkan, menyadur dan penulisan. Mari kita baca Hikayat Marakarma.
“Mintalah tuan izin kepada kakanda, Raja Mangindera Sari, karena ia yang punya.” Kata baginda. Tuan Puteri Mayang mengurai pun tunduk, masam mukanya. Tiada satu pun kata diucapkannya. Lalu ia memohon kembali ke kamarnya. Tampak sekali wajah Raja Magindera Sari pucat menyesal dan gusar melihat Puteri pergi diiringi dayang-dayang dan inang pengasuhnya. Ia berkata dalam hati, “Aduh… tuan Puteri, ayolah aku antarkan bermain ke taman Mandam Berahi. Mengapa hatiku ini begitu sayang kepadamu.”
Melihat paras dan gerak-gerik putranya, baginda mengerti apa isi hati anaknya itu. Ternyata sangat mencintai Tuan Puteri Mayang Mengurai.
Keesokan harinya, permaisuri menyuruh memanggil Tuan Puteri Mayang Mengurai menghadap kepadanya. Tuan Puteri datang diiringi oleh dayang-dayang dan inang pengasuhnya. Setelah bertemu dengan permaisuri ia menyembah.
“Marilah, tuan duduk, dekat bunda.” Pinta permaisuri. Puteri pun duduk di sisi permaisuri.
“Santaplah sirih ini.” Pinta permaisuri. Puteri Mayang Mangurai menyembah lalu makan sirih.
“Sudahkah tuan pergi bermain-main ke taman Mandam Birahi?” Tanya permaisuri.
“Belum, bunda. Tiadalah jadi patik pergi ke taman itu.” Jawab Puteri.
“Janganlah diambil hati kata-kata kakanda itu, karena ia hanya bergurau. Janganlah marah dan jangan kecil hati.”
“Tidak, tuanku. Jangan paduka memarahi raja, karena memang patiklah yang tiada tahu adab.”
“Oh… sama sekali tidak, tuan. Kakandamu memang suka bergurau denganmu, tuan. Aku melihat dia sangat suka kepadamu.” Ucap permaisuri. Puteri Mayang Mengurai tunduk malu. Baginda kian bersuka hati melihat Puteri Mayang Mengurai. Budi bahasanya yang sedap manis.
Sementara itu di balairung, baginda mengumpulkan perdana menteri, menteri, hulubalang, punggawa dan orang kepercayaannya, melakukan pertemuan. Pertemuan itu khusus membicarakan rencana perkawinan Raja Mangindera Sari dengan Tuan Puteri Mayang Mengurai. Semua mendapat tugas sesuai dengan jabatan dan kedudukannya masing-masing. Menteri, hulubalang, punggawa langsung mengerjakan titah baginda, tidak menyia-nyiakan waktu.
Tidak beberapa lama, menteri, hulubalang, punggawa telah selesai mengerjakan tugasnya. Balairung dihias dengan indah. Begitu pula balai-balai lain yang akan digunakan sebagai tempat undangan terhormat atau tamu-tamu agung beristirahan sudah dihias demikian indahnya pula. juga tempat-tempat dan ruang untuk rakyat umum dipercantik. Undangan sudah disampaikan. Berbagai macam buah-buah-buahan disiapkan. Aneka makanan dan minuman disediakan. Berbagai jenis permainan ketangkasan dan hiburan sudah siap dipertontonkan.
Perdana menteri yang mengepalai tugas itu memberikan laporan kepada baginda, bahwa segala persiapan sudah selesai dengan sempurna. Baginda mentitahkan punggawa dan prajurit mulai berjaga-jaga selam empat puluh hari empat puluh malam. Juga memerintahkan membunyikan semua tetabuhan. Gegap-gempita segala bunyi-bunyian, masing-masing dengan ragamnya. Ramai segala anak raja-raja bermain catur, ada juga yang bermain ketangkasan kuda.
Setelah genap empat puluh hari empat puluh malam, permaisuri mendandani Puteri Mayang Mengurai dengan pakaian lengkap yang indah-indah. Maka terlalu indah elok paras Puteri Mayang Mengurai, makin bertambah gilang-gemilang kilau-kemilau seperti bulan purnama dipagar bintang. Begitu pula Raja Mangindera Sari dihiasi dengan segala kelengkapan pakaian yang indah-indah.
Maka diresmikanlah perkawinan antara Raja Mangindera Sari dengan Puteri Mayang Mengurai. Sesudah mengucapkan ijab kabul, penganten baru Raja Mangindera Sari dan Puteri Mayang Mengurai diarak keliling Negeri Palinggam Cahaya. Terlalulah ramai segala macam tabuhan dibunyikan. Sementara raja dan permaisuri menjamu segala raja-raja, undangan kehormatan, dan seluruh rakyatnya.
Raja Mangindera Sari dan Puteri Mayang Mengurai menjadi suami istri, duduk berkasih-kasihan dengan bahagia.
Suatu hari Raja Mangindera Sari memperhatikan istrinya tidak seperti biasa. Murung lalu menangis. Raja tidak mengetahui kalau ternyata istrinya ingat, terkenang kakaknya, Marakarma. Terlalu murung dan menangis tiada henti, lalu rebah pingsan, tiada sadarkan diri. Mendengar peristiwa pingsannya Puteri Mayang Mengurai, baginda dan permaisuri terkejut, lalu keluar dari istana, berlari-lari datang menengok puteri. Permaisuri mesapu wajah puteri dengan air mawar sambil menangis.
“Wah anakku, tuan, apa sebabnya tuan begini? Apakah yang tuan gusarkan? Mengapa tuan berdiam diri? Seharusnya katakan apa yang dikehendaki, biar nanti baginda mencarikan apa kehendakmu itu.” Ucap permaisuri sambil menangis seraya dipeluk dan diciumnya puteri. Puteri pun sadar daripingsannya, lalu bangun duduk dekat bundanya.
“Apakah sebabnya tuan begini, katakanlah kepada ayah bunda supaya ayahanda tau apa yang tuan inginkan.” Baginda menimpali.
“Ya, tuanku, patik ini dahulu dibuang oleh orang tua patik bersama bersaudara, tinggal di hutan tiada makan dan minum. Yang patik berdua makan hanyalah umbi-umbi dan daun-daun muda. Suatu hari patik melihat seekor burung maka patik suruh kakanda menangkapnya. Sesudah tertangkap patik suruh sembelih lalu minta dibakarkan. Karena tiada api maka pergilah saudara patik mencari api, sejak itulah patik tiada bertemu lagi dengan kakanda patik itu. Kemanakah gerangan ia pergi. Entah hidup atau matikah? Sampai saat ini patik tiada mendengar kabarnya. Itulah sebabnya patik ini menangis memikirkannya.”
Orang-orang yang mendengar cerita puteri itu pun menangis, kemudian memeluk Tuan Puteri.
“Oh, tuan, kenapa tiada ceritakan sejak dulu-dulu.” Ucap permaisuri
“Tenanglah adinda, dengar baik-baik. Aku akan pergi mencari kakanda itu. Tinggallah di sini bersama ibunda.” Ucap Raja Mangindera Sari.
“Sebaiknya ananda jangan pergi. Ayahanda akan menyuruh punggawa dan prajurit mencarinya. Jika tuan pergi, akan bertambah sedih Puteri Mayang Mengurai.” Cegah baginda. “Diamlah tuan, janganlah bersusah hati, janganlah bermuram durja, ayahanda suruh mencari sampai ketemu.” Pinta baginda kepada puteri Mayang Mengurai.
Baginda memerintahkan perdana menteri mengumpulkan menteri, punggawa, hulubalang, prajurit, dan rakyat untuk bersiap secepatnya mencari kakak Puteri Mayang Mengurai sampai ketemu.
“Bawalah perlengkapan secukupnya. Carilah raja Marakarma sampai ketemu. Cari di segala pelosok tempat, hutan, dan gunung-gunung. Siapapun yang berhasil menemukannya, aku hadiahi tanah kerajaan.” Titah baginda.
“Daulat, tuanku syah’alam, titah baginda, patik junjung di atas batu kepala patik.” Jawab semuanya. Berbondong-bondonglah mereka keluar ke segala arah. Mencari ke hutan, gunung, padang, bukit, lurah, dan pelosok negeri. Tapi tak seorang pun bertemu dengan Marakarma. Wa’llahu’alam bis’sawab.
*****
Alkisah, tersebutlah Marakarma setelah sudah dibuang oleh orang dusun pemilik perkebunan itu ke laut, ia hanyut dibawa arus gelombang. Ia terdampar di tepi pantai sebuah pulau dengan tubuh masih terikat. Menurut kata hikayat, pulau itu kosong dan konon didiami raksasa. Raksasa berhasil menculik dan melarikan anak raja jin, seorang perempuan. Meski anak jin, perempuan itu amat cantik parasnya, bernama Puteri Cahya Khairani. Puteri Cahya Khairani ingin dimakannya, namun karena masih kecil, maka dipeliharakan supaya lekas besar. Di hutan rimba belantara di pulau itu, raksasa menjadi penguasa tunggal dan segala macam hasil buruannya dibawa ke pulau itu.
Bila raksasa meninggalkan pulau untuk pergi mencari makanan, Puteri Cahya Khairani memberanikan diri keluar menyusur pantai, berharap ada perahu atau kapal singgah di pulau itu. Kemudian dapat ikut pergi meninggalkan pulau. Namun tidak satu pun perahu atau kapal berani singgah di pantai pulau itu, karena mereka tahu bahwa pulau itu ditempati raksasa yang ganas dan pemakan manusia.
Berulang kali usaha itu dilakukannya, tapi tidak pernah ada perahu atau kapal singgah. Puteri Cahya Khairani putus asa dan menangis sejadi-jadinya.
“Matilah aku, dimakan raksasa.” Berjalan menyusur pantai sambil menangis. Tiba-tiba ia melihat ada seorang laki-laki terikat, terdampar di tepi pantai. Dihampiri dan dilihat laki-laki terikat dengan badan penuh luka. Laki-laki yang terlalu baik parasnya. Diamat-amatinya ternyata masih bernafas. Segera dibuka tali pengikat laki-laki itu.
“Moga-mogalah orang ini masih hidup supaya aku punya temanku.” Pikir Putri Cahya Khairani. Setelah tali ikatan dibuka, dibersihkan segala luka dengan air, sambil menangis terkenangkan ayah bunda dan saudara-saudaranya. Bercucuranlah air matanya ke muka Marakarma. Marakarma sadar dan pelan-pelan membuka matanya karena ada air terasa sejuk membasahi mukanya. Masih menahan rasa sakit, namun gembira karena sudah tidak terikat lagi.
Melihat Marakarma sadar, Puteri Cahya Khairani pergi berlari mengambil air tawar. Lalu air itu dititikkanya ke mulut MarakarmaMarakarma. Ia amat gembira, suka cita rasa hatinya melihat MarakarmaMarakarma masih hidup.
“Tolong, tuan, adindaku berilah lagi air.” Ucap Marakarma dengan suara terputus-putus, menganggap bahwa perempuan di hadapannya adalah adiknya. Juga, karena matanya masih kabur, belum dapat melihat dengan baik.
“Janganlah tuan banyak minum, tahan dulu. Perut kosong, aku takut barangkali jadi penyakit.” Ucap Puteri Cahya Khairani. Ia pun sibuk memasak nasi dan menyiapkan perlengkapan makan minum. Setelah nasi masak, disuapinya Marakarma.
“Makanlah tuan, supaya badan tuan menjadi segar dan sehat.” Dengan sabar disuapinya Marakarma. Sesudah beberapa saat, badan Marakarma mulai sehat kembali. Ingatannya pun sudah normal.
“Apa sebabnya tuan terdampar di pulau ini? Siapa yang telah berbuat jahat? Siapakah tuan ini dan dari mana asal tuan?” Tanya Puteri Cahya Khairani.
Marakarma mengamati orang yang bertanya, ternyata bukan adiknya. Ia merasa malu.
“Adinda, tuan, kakanda ini orang terbuang. Orang yang tiada berguna.” Jawab Marakarma berusaha menyembunyikan dirinya. Lalu ia menceitakan kisah dirinya sejak permulaan sampai terdampar di pulau ini. Puteri menangis mendengar kisah hidup MarakarmaMarakarma. MarakarmaMarakarma pun bertanya kepada Puteri, siapa dan kenapa sampai ada di pulau ini. Puteri Cahya Khairani menceritakan hal ikhwal jalan hidupnya sejak awal hingga akhir. Sambil bercerita, sambil pula ia menangis tiada henti.
“Sekarang di manakah raksasa itu?” Tanya Marakarma.
“Sekarang ia pergi mencari makanan. Sebentar lagi ia pulang.” Jawab puteri.
“Hai, adinda, ridlakah tuan bersuamikan kakanda, orang yang terbuang ini?“
“Ia, kakanda, ridlalah, adinda, jika terhindar dari raksasa itu. Biarlah adinda nantinya hanya memberi makan ayam tidak apa-apa.” Jawab puteri seraya tersenyum.
“Kalau sekedar raksasa, mudah bagiku menipunya untuk melepaskan tuan.” Ucap Marakarma. Puteri terenyum, terlalu suka cita mendengar ucapan Marakarma itu.
“Kanda, marilah pulang. Ini saatnya raksasa pulang.” Ajak puteri.
“Baiklah tuan.“
Pergilah keduanya dari tepi pantai, pulang ke rumah puteri. Rumah raksasa itu sungguh menyeramka. Atapnya daripada tulang dan dindingnya dari batu. Marakarma memeriksa semua tempat di dalam rumah itu. Lalu keduanya, suami istri, pergi mandi. Kemudian duduk makan minum sambil bercengkrama mesra.
“Jikalau raksasa datang, matilah kakanda dimakannya. Jika aku mati dimakan, tidak susah-susah adinda merawat kakanda ini.“ ucap Marakarma sedikit bergurau.
Mendengar ucapan suaminya, Puteri menangis seolah-olah kejadian itu benar-benar akan menimpanya.
“Kakanda janganlah berkata begitu. Selama ada kanda di sini, dinda merasa nikmat, nyaman. Seperti ada ayah bunda. Begitulah perasaanku saat ini.” Jawab Puteri sedih dan menangis.
Marakarma tertawa mendengar ucapan isterinya, seraya berkata, “Diamlah, tuan, jangan menangis. Kakanda bergurau, sungguh-sungguh bergurau. Rupanya tuan sayang kepada kakanda, orang yang terbuang ini. Akupun sangat sayang kepadamu, sehidup semati.” Tuan Puteri pun diam, berhenti menangis.
Setelah empat hari suami istri itu bahagia dimabuk cinta kasih, terdengarlah bunyi tongkat raksasa menghentak bumi. Terlalu kuatnya hentakan tongkat itu, seolah-olah bukit akan runtuh. Marakarma terkejut.
“Bunyi apa itu adinda?“
“Itulah bunyi tongkat raksasa kakanda, pertanda dia pulang. Bersembunyilah kakanda.” Jawab puteri.
“Tenanglah, dinda. Sekarang dengarkanlah ucapanku. Nanti tolong kau jalankan rencanaku ini. Jikalau raksasa menginginkan supaya engkau cepat besar, maka carikanlah cucumu ini hati segala binatang. Jika cucumu ini memakan hati binatang, niscaya cepat besar dan dapat dimakan. Itu kau katakan kepada raksasa. Jangan takut, katakan saja.” Ucap Marakarma. (Bersambung)
