Hikayat Marakarma (Bagian 2)

Hikayat Marakarma (Bagian 2)

Hikayat Marakarma (Bagian 2)

Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli. Hikayat Marakarma disebut pula dengan Hikayat Si Miskin merupakan karya sastra tulis melayu klasik Betawi, buah karya Muhammad Bakir. Beliau dan ketiga saudaranya dan Sapirin—yang sering juga disebut Guru Cit, adalah anggota keluarga Fadli yang aktif dalam proses menerjemahkan, menyadur dan penulisan. Mari kita baca Hikayat Marakarma.

Arkian berapa lamanya baginda itu duduk di atas tahta kerajaan itu, maka maharaja Marakarma itupun terlalu amat baik kepada segala raja-raja dan kepada segala inang pengasuhnya. Maka seluruh inang pengasuhnya itupun terlalu amat kasih sayangnya kepada maharaja Marakarma. Maka Tuan Puteri Ratna Dewi itupun hamillah pula. Maka segala istri raja-raja dan segala isteri menteri, hulubalang masuk membawa persembahan idam-idaman berbagai buah dan makanan.

Setelah beberapa hari lamanya antara daripada itu, maka sampailah kepada bulannya, maka datanglah pada ketika, yang baik, maka berputeralah seorang perempuan terlalu baik, akan parasnya gilang gemilang rupanya. Maka dimandikan oranglah di dalam katil emas. Setelah sudah ia mandi itu, maka diperbuat oranglah, betapa adat anak raja, yang besar-besar, demikianlah diperbuatnya. Maka baginda itupun keluarlah menyuruh orang memalu bunyi-bunyian pun terlalu ramai dipalu oranglah. Maka bagindapun keluar, memberi persalin segala anak raja-raja dan menteri, hulubalang, rakyat bersuka-suka.

“Hai, kamu sekalian, anakku ini, aku namai Tuan Puteri Nila Kesuma.” Ucap raja di tengah alun-alun istana. Maka dipungutkan baginda inang pengasuhnya, betapa adat anak raja, yang besar-besar, demikianlah diperbuat oleh baginda untuk anak keduanya.

Alkisah, saudagar yang dahulu dimintai tolong oleh si miskin, mendekar berita bahwa si miskin telah menjadi raja yang adil bijaksana. Mereka telah selesai mengerjakan apa yang diminta si miskin. Mereka berbondong-bondong masuk ke kerajaan Indera Angkasa membawa semua perkakas yang diminta. Saudagar dan para tukang itu pun sangat heran melihatkan tata krama adat maharaja Dewa Angkas, betapa adat raja yang besar-besar. Tercengang-cengang sekalian saudagar itu. Mereka lalu menyembah.

”Ampun, tuanku beribu-ribu ampun, harap akan diampuni duli syah alam. Seluruh permintaan yang tuanku pesan telah selesai patik kerjakan, telah selamat sempurna semuanya.” Sembahnya para saudagar dan tukang.

“Saudara, terima kasih aku haturkan kepada saudara sekalian.” Ucap baginda kepada seluruh saudagar dan tukang yang dahulu dimintai membuat semua keperluannya. Maka baginda menghadiahi beberapa persalin kepada sekalian saudagar dan tukang itu. Sungguh, bukannya orang ini si miskin, barang kali si miskin asalnya daripada raja juga, piker seluruh saudagar. Karena ternyata baginda memerintah terlalu adil, murah, dan lagi baik budi bahasanya kepada sekalian orang di bawah perintahnya. Maka terlalu kasih sayang dan hormat sekalian saudagar itu kepada maharaja Indera Angkasa.

Setelah beberapa lamanya saudagar sekalian itu duduk menghadap baginda itu, maka dijamu oleh paduka bagindapun dengan sepertinya makan dan minum. Setelah sudah makan nasi, lalu santap minuman pula, terlalu ramai orang main dihadapan paduka baginda, itulah yang tiada ingat lagi kepada hari kemudian.Telah sudah maka beberapa banyakpun yang bertatahkan ratna mutu manikam dikeluarkan orang di hadapan sekalian saudagar itu. Setelah makan sirih sekalian saudagar itu, maka ia pun lalu bermohon pulang.

Hatta kata hikayat, kemashuran kerajaan Puspa sari dengan maharaja Indera Angkasa yang adil bijaksana terdengar ke seluruh kerajaan yang ada. Maharaja Indera Dewa dari kerajaan Anta Beranta pun mendengar pula. Si miskin telah menjadi raja terlalu besar kerajaannya. Indera Dewa berfikir, jikalau demikian ini negeriku ini niscaya sunyilah. Maka baginda pun keluar memanggil seluruh punggawa, menteri, hulubalang, dan sekalian rakyat.

“Hai, menteri, punggawa, hulubalang sekalian, kamu tahu bagaimana si miskin sekarang ini, ia sudah menjadi raja. Seberapa banyak rakyat kita sudah berpindah ke negerinya. Jika dibiarkan, habislah rakyatku dan sunyilah negeri kita ini.“ ucap raja Indera Dewa khawatir.

“Benarlah seperti itulah sekarang ini. Itu semuanya disebabkan anaknya. Kami dengar raja itu sedang mencari nujum untuk mengetahui masa depan kedua anaknya, Marakarma dan Puteri Ratna Dewi.” Jawab punggawa dan menteri.

“Jikalau demikian, kumpulkanlah seluruh ahli nujum hari ini juga.” Perintah baginda.

Maka sekalian menteri dan punggawa segera bertindak melaksanakan titah rajanya. Tak seorang pun nujum luput dari undangan dan perintah datang ke istana kerajaan Anta Beranta. Semua ahli nujum berkumpul di aula istana.

“Hai, kamu sekalian, ahli-ahli nujum, jikalau kiranya datang suruan maharaja Indera Angkasa dari negeri Puspa Sari, hendak membuka nujum kedua anaknya, katakana oleh kamu, anaknya itu celaka.” Perintah raja kepada ahli nujum.

“Mana titah duli tuanku, patik sekalian junjung di atas kepala hamba.“ jawab ahli nujum menyembah. Raja gembira dan langsung menghadiahi pakaian indah dan harta emas melimpah ruah kepada seluruh ahli nujum.

Tersebutlah Maharaja Indera Angkasa, berfikir dalam hatinya, “Baiklah aku coba nujumkan kedua anakku.” Sambil berkata begitu ia masuk menemui permaisurinya.

”Adinda, sudah makan?” Tanya baginda pada permaisurinya.

“Belum, Kanda.”

Maka raja memerintahkan pembantu menyiapkan dihidangan. Setelah selesai makan, raja mengajak diskusi permaisurinya. Raja mengungkapkan keinginannya untuk mengetahui masa depan kedua anaknya. Permaisuri ragu atas keinginan suaminya, namun akhirnya menyerah kepada apa yang diinginkan raja. Keesokan hari, pagi-pagi sekali raja memanggil punggawa dan menteri.

“Hai, menteri, punggawa, carikan aku tujuh orang ahli nujum, yang benar-benar ahli dan tidak berbohong.” Perintah raja.

“Baiklah, Tuanku.“ jawab menteri dan punggawa seraya pergi ke berbagai penjuru negeri untuk mencari ahli nujum.

Singkat cerita, menteri dan punggawa masing-masing sampai ke rumah ahli nujum.

“Hamba ini disuruh oleh maharaja Indera Angkasa memanggil tuan datang ke istana.“ pinta menteri kepada ahli nujum.

“Baiklah, hamba datang beserta tuan menteri.” Jawab ahli nujum.

Maka menteri dan punggawa berhasil membawa tujuh ahli nujum dan dihadapkan ke hadapan raja Indera Angkasa. Berada di hadapan raja, ahli nujum hormat menyembah.

”Hai, kamu sekalian ahli nujum, aku minta kau lihat kedua anak.” Perintah raja.

“Apakah anakda laki-laki atau perempuan, tuanku.” Taja ahli nujum.

“Yang tua laki-laki dan adiknya perempuan.“

“Baiklah, tuanku. Hamba mencoba melihat keduanya.” Lalu ahli nujum membuka lembaran demi lembaran kitab nujumnya. Semua sibuk menghitung dengan berbagai keahliannya masing-masing. Beberapa di antaranya bahkan ada yang menarik nafas panjang. Ada pula yang hanya menunduk.

“Jangan engkau takut mengatakan yang sebenarnya. Katakan saja. Hasilnya baik atau tidak!” titah raja.

Maka segala ahli nujum itupun masing-masing menggelengkan kepalanya, lalu menangis.

“Apapun hasilnya, katakan dengan sebenarnya, jangan takut. Aku hendak tau untung dan masa depan anakku itu!” pinta raja.

Maka sembah semua ahli nujum, ”Ya, tuanku syah alam, selagi kedua ananda itu hidup, niscaya tidaklah akan kekal duli syah alam di atas tahta kerajaan.” Jawab ahli nujum menunduk.

“Kenapa begitu?” taja raja.

“Karena kedua anakda itu memiliki terlalu besar sifat jahat yang akan mencelaka tuanku syah alam.”

Sejenak raja menunduk mendengar jawaban ahli nujum bahwa kedua anaknya akan mencelakakannya, ia menarik nafas. Segara saja raja memerintahkan menteri untuk menghadiahi ahli nujum dengan mas permata. Maka sekalian nujum bermohonlah, lalu menyembah dan pulang masing-masing menuju kediamannya.

Bagindapun masuk ke dalam istana dan duduk dekat istrinya.

“Ya adinda, kakanda tadi memanggil ahli nujum melihat dan meramalkan kedua anak kita. Di dalam surat ahli nujum, dikatakan Marakarma dan Puteri Nila Kesuma akan mencelakakan kedudukanku. Sekarang, baiklah kita bunuh keduanya.” Ucap raja.

Mendengar ucapan raja, permaisuri langsung pingsan tiada sadarkan diri. Setelah ia sadar dari pingsannya, ia pun menangis.

“Betapa tega kakanda melakukan itu, melihat darah anak kita berhamburan karena dibunuh ayahandanya sendiri? Jikalau kakanda sangat benci, biarlah adinda suruh pergi, jangan dibunuh. Tetapi coba kakanda piker, dulu kita sangat miskin dan selama kita pempunyai anak, hidup kita terlepas dari kemiskinan bahkan menjadi mulia, memiliki kerajaan.” Ucap permaisuri.

”bagus begitu. Suruh mereka pergi. Jikalau tiada mau engkau menyuruh pergi, biarlah aku bunuh sekarang juga.”

“Sabarlah hulu kakanda. Ingatlah.“

Tapi raja sudah tidak dapat menahan amarahnya. Ia berdiri dan memanggil kedua anaknya dengan panggilan yang cukup keras. Melihat kemarahan baginda, permaisuri menangis sejadi-jadinya, lalu rebah pingsan.

Mendengar permaisuri menangis dengan keras, maka dayang datang berhamburan mendekat. Mereka mendapatkan permaisuri tergeletak pingsan. Dayang-dayang sibuk membawakan berbagai kebutuhan perawatan permaisuri. Ada yang membawa air mawar dan membasuh muka Tuan Puteri Ratna Dewi. Setelah permaisuri sadar, ia memanggil-manggil anaknya dan lalu dipangkunya sambil mencium Marakarma.

“Anakku, engkau berdua diramal oleh ahli nujum mencelakakan ayahandamu pada kemudian hari. Aku mohon sekarang kalian pergi, pergi kamana pun untuk menyelamatkan diri. Jangan sampai terlihat di istana ini.” Ucap permaisuri berleleran air mata.

Marakarma pun tunduk lalu menangis. Begitu pula Tuan Puteri Nila Kesuma, menangis. Marakarma menyadari bahwa apa yang dinujumkan itu hanya fitnah.

“Ibunda, ananda merasa ayahanda sudah dipengaruhi nujum, yang menfitnah hamba ini. Jikalau demikian, biarlah ananda berdua pergi dari kerajaan.” Ucap Marakarma sambil sujud. “Anakda minta ridha atas air susu bunda dan ayahanda yang telah memelihara ananda berdua. Ananda belum dapat membalas kebaikan itu.” Lanjut Marakarma sambil bercucuran air mata.

Orang-orang yang mendengar ucapan Marakarma, baik menteri, punggawa, semua dayang, ikut menangis tersedu-sedan. Terutama permaisuri yang hatinya merasa bagai disayat sembilu seperti hancur leburlah hidupnya.

”Cepat pergi!! Pergilah engkau dari sini. Jangan membawa apa-apa. Aku tidak sudi melihat wajahmu.” Ucap raja sambil mengibaskan tangan dengan wajah memerah.

“Sungguh tega baginda memperlakukan anak seperti ini!” kata permaisuri lalu menangis.

Melihat kejadian itu, seluruh inang pengasuh ikut menangis. Ingin berkata atau berbuat sesuatu, tapi apa yang hendak dikata dan diperbuat. Mereka diam membisu.

“Tinggallah tuan-tuan sekalian di istana, layani ayahanda bundaku dengan baik. Jikalau ada kesalahanku kepada kalian, maafkanlah, karena aku orang pembawa celaka, tiada dapat diterima di dalam istana. Biarkan aku pergi kemana kaki membawa untungku.” Ucap Marakarma kepada dayang-dayang yang mengelilinginya.

“Pergilah tuanku baik-baik, moga-moga selamat sempurna dimanapun tuan berada.” Ucap dayang bersamaan.

Maka gemuruhlah tangis orang di dalam istana Puspa Sari. Melihat anaknya melangkah meninggalkan istana, permaisuri berlari-lari membawa cincin dan kemala serta ketupat tujuh biji.

“Anaku, tuan, tiada sanggup bunda berpisah dengan engkau. Dimanakah kiranya kalian akan tinggal? Di hutan mana gerangan tuan berhenti? Di rimba mana tuan jalani? Gunung dan padang mana tuan lalui?” permaisuri berkata kemudian menangis sejadi-jadinya. Ia pun rebah pingsan, tiada sadarkan dirinya lagi.

Melihat ibundanya pingsan, Marakarma berlari dan menubruk dan memeluk ibundanya. Marakarma dan adiknya pun menangis sejadi-jadinya. Maka bundanya pun sadar daripada pingsan, maka dipeluk dan diciumnya seluruh tunbuh kedua anaknya berganti-ganti sehingga baju yang mereka pakai basah air mata. Diunjukkan cincin, kemala dan ketupat tujuh biji kepada Marakarma.

“Janganlah bunda bersusah hati. Relakanlah kepergian ananda demi kebaikan ayahanda. Janganlah bunda bermuram durja, jika bunda dimurkai oleh ayahanda itu. Oh… sekiranya sejak kecil ananda sudah dibuang, tentulah tidak seperti ini.” Ucap Marakarma.

Mendengar ucapan Marakarma, ibundanya menangis, menangis tapi sudah tidak mengeluarkan air mata, hanya isaknya terlalu berduka, seperti limbung tidak menapak di bumi. Marakarma pun pergi meninggalkan istana sambil mendukung adiknya. Berjalan menuju hutan rimba belantara itu. Semua yang ditinggal menangis termangu-mangu, seperti orang kehilangan raja. Maka sunyi senyaplah rupanya seperti orang yang tiada bersemangat lagi dan seperti negeri yang dikalahkan oleh musuh, demikianlah rupanya. (Bersambung)

Check Also

Hikayat Marakarma (Bagian 7)

Hikayat Marakarma (Bagian 7)

Tersebutlah seorang putra Betawi yang amat rajin menulis, yaitu Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *