Istilah Jago dan jagoan

Istilah Jago dan Jagoan dalam Masyarakat Betawi

Istilah Jago dan Jagoan dalam Masyarakat Betawi

Penulis : Yahya Andi Saputra

kebudayaan betawi – Istilah Jago dan Jagoan dalam Masyarakat Betawi. Dalam tradisi Betawi, istilah jago dan jagoan mempunyai arti yang berbeda. Seseorang yang dijuluki jagoan atau jawara itu sebenarnya tidak dapat disebut seorang jago. Begitu juga sebaliknya. Jika dilihat dari penampilan dan sifat-sifat yang ditonjolkannya, seorang jagoan atau jawara itu akan jelas terlihat  congkak, galak, ingin selalu dihormati, dan apa saja yang diinginkan harus dipenuhi, kalau keinginnannya tidak dipenuhi/terlaksana, maka jagoan atau jawara itu akan bertindak brutal, bringas, dan jahat.

Lain halnya dengan seorang jago, terutama jika dia juga seorang guru pukulan yang memiliki dasar yang kuat sekali, yakni dasar agama, ilmu luar dan dalam, percaya diri  dan keyakinannya kepada Allah SWT. Dia juga bijaksana, mau membantu orang yang sedang kesusahan, serta mau menolong orang yang lemah. Seorang yang disebut jago juga mau mendamaikan orang atau kelompok yang sedang ribut, sekaligus memberi nasihat yang baik. Dia pun tidak mau membuat kesalahan, seperti menyinggung perasaan hati orang lain, memaki, memukul, apalagi sampai melukai dan membunuh. Tentu itu semua sangat bertentangan dangan hati nurani seorang jago. Seorang jago mempunyai falsafah yakni hidup dan mati manusia tergantung bagaimana amal perbuatannya. Kalau selama hidupnya berbuat kebaikan, insya Allah matinya pun panggilan Allah SWT disebabkan karena sakit. Itulah filsafah seorang jago. Kalau selama hidupnya berbuat kemaksiatan dan kejahatan, maka matinya pun terbunuh atau dibunuh. Mengenaskan, itulah nasib akhir hidup seorang jagoan[1].

Jago atau jagoan dalam susunan masyarakat Betawi dianggap sebagai elite, artinya dia dapat dikelompokkan dalam jajaran pemimpin. Dalam pengamatan Ridwan Saidi[2], dalam masyarakat Betawi sejak abad ke-18, pemerintah kolonial Belanda membangun struktur kepemimpinan formal yaitu adanya seorang komandan (kumendan). Komandan dibantu oleh dua belas ajudan (ajidan). Ajudan membawahi bek yang memimpin kampung. Bek lebih dikenal oleh masyarakat daripada ajidan, apalagi kumendan. Hal ini mungkin disebabkan fungsi bek yang berhubungan langsung dengan masyarakat Betawi.

Masyarakat keturunan Arab dan Cina di Betawi masing-masing mempunyai pemimpin formalnya sendiri, disebut mayor yang dibantu kapiten. Sebutan mayor dan kapiten ini tidak ada hubungannya dengan jenjang kepangkatan dalam dunia kemiliteran.

Para pemimpin formal ini, baik untuk orang Betawi, maupun keturunan Arab dan Cina, diangkat secara resmi oleh pemerintah kolonial Belanda dengan besluit (surat keputusan/surat pengangkatan). Bek pada umumnya disegani, karena orang yang diangkat menjadi  bek memiliki kemampuan yang andal dalam ilmu bela diri (maen pukulan). Banyak bek yang amat dihormati di lingkungannya karena ilmu maen pukulan yang dimiliki sudah mumpuni dan terutama karena reputasinya sebagai jagoan. Misalnya Bek Mat Ali dari Kampung Duku yang amat terkenal pasca kemerdekaan.

Demang tidak dikenal dalam struktur formal administrasi komunitas Betawi yang dibentuk pemerintah jajahan. Demang dikenal dalam struktur sosial sebagian masyarakat Betawi di Mester. Meskipun kumendan berada dalam struktur tertinggi dalam kepemimpinan msyarakat Betawi, tapi kumendan sebagaimana ajidan, tidak mendapat pengakuan sebagai pemimpin orang Betawi. Pemimpin orang Betawi yang disegani dan diikuti kepemimpinannya adalah guru (kyai/ulama) dan muallim. Sedangkan pemimpin Betawi yang disegani saja adalah jago atau jagoan.

_____________________________________________________________________

  • [1] Wawancara dengan M. Ali Sabeni, 15 Juli 1999. M. Ali Sabeni adalah putra dari tokoh silat Betawi, Sabeni. Sabeni atau aliran Sabeni mengeluarkan jnis jurus seperti naga mengigel, kelabang nyebrang, dan sebagainya.
  • [2] Ridwan Saidi, Profil Orang Betawi, Jakarta : PT. Gunara Kata, cetakan I/1997,  hal. 86-87

Check Also

Sejarah Ancol Taman Impian yang Ditinggalkan hingga Menjadi Sarang Monyet

Pesona Ancol : Taman Impian yang Sempat Menjadi Sarang Monyet

kebudayaan betawi – Pesona Ancol sebagai tempat hiburan sudah dimulai sejak lama, bahkan sebelum Indonesia merdeka. …

Leave a Reply

Your email address will not be published.