Makruf Tukang Sol Sepatu (Bagian 16)

Makruf Tukang Sol Sepatu (Bagian 15)

Pengantar – Di ranah kesenian Betawi ada istilah Tukang Gesah yang tiada lain adalah Tukang Cerita. Pada pertengahan abad ke-19, muncul nama lain yaitu Sohibul Hikayat. Dan memang, ketika itu tumbuh dan dicintai kesenian Sohibul Hikayat ini. Seniman Sohibul Hikayat mendapat apresiasi atau ditanggap pada perhelatan masyarakat Betawi, khususnya untuk memeriahkan keriaan atau hajatan, terutama resepsi perkawinan, khitanan, dan sebagainya.

Rupanya seniman Sohibul Hikayat tidak dapat melayani banyak permintaan, sehingga muncul pengarang atau penyalin cerita hikayat. Kita kenal misalnya Muhammad Bakir yang menyalin dan mengarang cerita hikayat tidak kurang dari 70-an judul. Bakir menyewakan karyanya kepada khalayak. Ini menjelaskan kepada kita bahwa karya Bakir dibacakan di tengah khalayak. Artinya Tukang Gesah tidak lagi berkisah secara lisan cerita yang dihafalnya, tetapi sudah dengan membaca manuskrip karya Bakir.

Dalam novel Nyai Dasima (1896), ada menyebutkan tentang Sohibul Hikayat ini. Dasima yang galau dirayu dan dihibur  Samiun, dengan mengajaknya nonton pertunjukkan Sohibul Hikayat.

Sohibul Hikayat lalu lebih tersebar ke antero wilayah Batavia (masa kolonial) kemudian Jakarta (sesudah kemerdekaan) ketika Haji Ja’far lalu Haji Jaid dilanjutkan putranya ( Haji Ahmad Safyan Jaid) malang melintang ditanggap (sampai disiarkan di radio) membawakan Sohibul Hikayat.

Salah satu judul Sohibul Hikayat yang sering dibawakan oleh Haji Jaid dan Haji Sofyan Jadi adalah Ma’rup Tukang Sol Sepatu. Namun Cerita ini pun sudah ditulis ulang oleh Umar Djamil (PT. Dunia Pustaka Jaya, Tahun 1978), Selamat membaca.

Bagian 15 – Keesokan harinya Makruf memakai celana pakaian raja. kemudian ia pergi ke balairung. Maka berdirilah semua orang yang ada di situ menyambut dan menghormati kedatangannya. Ia duduk di samping raja serta menyuruh panggil bendaharawan. Setelah bendaharawan itu datang, ia memerintahkan supaya menyediakan pakaian sebanyak-banyaknya Maka disediakan oranglah segala apa yang dimintanya itu dan habis pula dibagikannya kepada tiap-tiap orang yang datang mengucapkan selamat kepadanya. Demikianlah diperbuatnya selama dua puluh hari. Sedangkan kafilah yang senantiasa disebut-sebutnya tak juga kunjung datang…

Akhirnya pergilah bendaharawan menghadap raja menyampaikan laporan bahwa semua perbendaharaan telah kosong

Raja bersabda kepada wazirnya, “Hai wazir, kafilah menantuku belum juga tiba, apakah yang terjadi?”

Maka wazir tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata, “Mudah-mudahan Tuhan mengaruniai Tuanku. Rupanya Tuanku telah tertipu oleh penipu ulung ini. Tak lain maksud … Kapankah menjanjikan kafilahnya itu hanyalah untuk menguras kekayaan Tuanku serta menikah dengan putri Tuanku akan sadar dari kelalaian ini?”

Raja menjawab, “Hai wazir, apakah akal kita untuk menyelidiki menantuku itu?” “Tuanku tak ada yang mengetahui rahasia seorang laki-laki selain istrinya. Kirimlah utusan kepada putri Tuanku supaya ia datang ke balik tabir karena hamba bermaksud menanyakan hal yang sebenarnya kepadanya.”

“Baiklah…! Kalau betul ternyata ia seorang pembohong,akan kuhukum seberat-beratnya.”

Kemudian-wazir itu dibawa raja ke tengah istana. Disuruh nya memanggil putrinya supaya datang ke balik tabir. Maka datanglah putri itu, sedang suaminya tak ada. Dia bertanya,

“Ada apakah ayahanda?”

“Bukan dengan baginda, tetapi dengan aku, wazir ayah mu,” jawab wazir itu. Putri itu bertanya pula, “Apakah keperluanmu, wahai wazir?”

“Hai Tuan Putri, suamimu telah banyak menghabiskan harta ayahmu dan ia telah menikah dengan tidak memberi mahar… sedang ia selalu menjanjikan kafilahnya kepada kita. Tetapi tidak menjelaskan kafilah apakah itu dan berapa jumlahnya. Kalau Tuan Putri tahu katakanlah kepadaku!”

Putri itu menjawab, “Katanya kafilah itu besar sekali. Tiap-tiap ia datang senantiasa ia menjanjikan kepadaku intan permata dan pakaian yang indah-indah. Tetapi…belum satu pun yang aku lihat

Wazir itu berkata pula, “Hai Tuan Putri, dapatkah Tuan bertanya kepadanya supaya ia mengatakan apa yang sebenarnya. Jika ia menceritakan rahasianya kepada Tuan, hendaklah Tuan laporkan kepada kami!”

“Baiklah!” jawab putri itu. (Bersambung)

Check Also

Buaya Buntung

Buaya Buntung

Cerita Rakyat Betawi Diceritakan kembali Oleh Rudy Haryanto Naskah disampaikan untuk mengikuti Sayembara Penulisan Cerita …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *