Si Mirah dari Marunda, Putri Bang Bodong Jagoan Kampung yang Pemberani
Ilustrasi Si Mirah

Si Mirah dari Marunda, Putri Bang Bodong Jagoan Kampung yang Pemberani

 

Alkisah, di masa pemerintahan Kompeni Belanda berkuasa di bumi nusantara ini, daerah Marunda sangat kacau. Daerah yang terletak pada bagian pantai kota Betawi ini, sering sekali didatangi oleh perampok-perampok, baik bagian lain dari kota Betawi ataupun dari seberang lautan. Mereka singgah di daerah ini, lalu merampok harta benda penduduk. Perampok mengambil ternak dan memperkosa istri-istri ataupun anak perawan penduduk. Bila mereka melawan langsung dibunuhnya. Di samping itu, sering pula daerah ini didatangi oleh jagoan yang berwatak jahat untuk memeras penduduk demi kepentingan diri mereka. Para penguasa Belanda yang berkuasa, kurang memperhatikan keamanan daerah tersebut. Mereka hanyalah mementingkan keuntungannya saja, dengan cara melakukan pemerasan yang dilakukan oleh kaki tangannya, ataupun melalui tuan-tuan tanah bangsa Belanda atau Cina yang ikut membantu memeras penduduk, lalu memberikan pajak atau upeti kepada para penguasa. Di kampung itu tinggal pula seorang jagoan yang berwatak baik, berani dan suka menolong penduduk yang dalam kesusahan, bernama Bang Bodong.

Bang Bodong ini terkenal akan keberaniannya di dalam menumpas para penggarong yang datang ke daerah ini, serta ditakuti oleh para penggarong serta disegani oleh penduduk Marunda dan sekitarnya. Tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkannya. Sungguhpun Bang Bodong ini adalah seorang jagoan yang berani, tetapi dia tidak pernah sombong serta mengacau rakyat, malahan sebaliknya selalu melindungi rakyat. Dia mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Mirah.

Ketika menginjak usia remaja, tumbuhlah Mirah menjadi seorang gadis yang cantik. Karena Bang Bodong merasa dirinya sudah bertambah tua, maka dipanggillah anaknya si Mirah dan berkata:

 

“Mirah anakku, aku sekarang sudah bertambah tua. Aku tidak punya anak laki-laki yang akan menggantikan diriku untuk menjaga keamanan di kampung ini.”

“Sedangkan perampok dan penggarong makin hari bertambah banyak. Aku merasa khawatir nanti kampung ini akan musnah bila tidak ada yang mempertahankannya dengan baik”.

Mendengar kata-kata ayahnya ini, Mirah termenung sejenak, kemudian berkata “Ayah, jangan khawatir akan hal itu.” .

“Biarpun aku seorang wanita tetapi tidak berarti bahwa aku tidak sanggup mempertahankan daerah tumpah darah kita ini dari gangguan para pengacau.”

“Ajarkanlah kepadaku ilmu beladiri seperti yang ayah miliki, niscaya aku akan sanggup meng hadapi para jagoan pengacau kampung kita ini.”

Terharulah Bang Bodong mendengar jawaban anaknya, karena biar pun anaknya seorang perempuan tetapi semangatnya cukup besar untuk membela kebenaran serta mempertahankan kampung halamannya dari gangguan para perampok yang ingin merusak dan mengacau keamanan penduduk.

Setelah melihat semangat putrinya yang berkobar-kobar itu untuk menuntut ilmu beladiri agar dapat mempertahankan kampung halaman-nya dari gangguan para pengacau, maka diajarkanlah putrinya dengan segala macam ilmu pengetahuan bela diri yang dimilikinya.

Akhimya seluruh ilmu silat Bang Bodong yang tinggi itu telah diturunkan kepada anaknya si Mirah. Mirah menjadi seorang gadis yang termasyur kepandaian bela dirinya. Tidak seorang laki-lakipun yang sanggup mengalahkannya. Karena parasnya yang cantik, banyak pula yang berminat untuk melamarnya, tetapi si Mirah tetap menampik dengan secara halus, walaupun usianya sudah cukup untuk mempunyai suami.

Pada suatu hari, berkatalah Bang Bodong kepada anaknya, “Mirah anakku yang cantik, sekarang kamu sudah cukup umur, telah menjadi seorang perawan, kenapa engkau tidak mau dilamar?”

“Menurut pendapatku bila ada yang melamar terima sajalah, jangan ditolak lagi.”

Mirah lalu menjawab: “Pak, Mirah memang belum mau kawin. Mengapa musti bapak paksakan agar saya menerima lamaran orang-orang, sebab bapak kan tahu, bahwa saya sangat menyayangi ayah. Nanti kalau Mirah kawin tidak ada lagi yang mengurus ayah sehari-hari”

Mendengar jawaban anaknya ini, Bang Bodong sangat terharu, karena begitu besar cinta anaknya, sehingga rela mengorbankan dirinya tidak kawin dengan pemuda pilihan hatinya.

Beberapa waktu kemudian Bang Bodong kembali berkata “Sudahlah Mirah. Kalau mengenai diriku tidak usah dipikirkan. “

“Ayah tahu bahwa engkau sayang pada ayah, tetapi Mirah harus juga memikir kan diri Mirah sendiri.”

Lagipula nantinya engkau tentu akan menjadi pera-wan tua serta menjadi buah bibir orang-orang di kampung, dikatakan tidak laku dan sebagainya.”

Mirah tersenyum kemudian menjawab: “Itu sebenarnya tidak menjadi persoalan bagiku. Biarlah mereka berkata semaunya, tetapi bila ayah menghendaki agar aku kawin juga biarlah aku turuti, tetapi ada syaratnya”.

 

Bang Bodong lalu berkata: “Mirah, katakanlah apa yang kau kehendaki, sebagai syaratnya. Engkau mau dibelikan apa? Rumah, perhiasan atau minta pertunjukan lenong. Nanti akan bapak usahakan”.

Mirah menjawab: “Bukan Pak, syaratnya ialah siapa yang sanggup mengalahkan aku dalam adu silat, itulah bakal menjadi suamiku. “

“Kalau tidak ada yang dapat mengalahkanku, maka aku tetap tidak akan kawin”.

Setelah mendengar jawaban anaknya itu, lalu Bang Bodong termenung sejenak, tetapi akhirnya menyetujui permintaan Mirah.

Beberapa waktu kemudian dalam suatu pertemuan kampung, Bang Bodong mengumumkan sebuah sayembara bahwa siapa yang dapat mengalahkan putrinya Mirah dalam adu silat, maka dia akan dapat diterima sebagai calon suaminya.

Mendengar pengumuman ini banyaklah para jejaka dari segenap pelosok daerah di Betawi yang datang ingin mencoba mengadu nasib bertanding adu silat dengan Mirah.

Tetapi tidak seorangpun yang berhasil mengalahkannya.

Salah seorang yang datang untuk mengadu kekuatan adalah seorang perampok yang terkenal dari Krawang yang menyamar sehingga tidak dikenal, bernama Tirta.

Tirta adalah seorang jagoan dan perampok yang jahat, sering mengacau keamanan kampung, yang menjadi sasarannya adalah kampung-kampung yang agak jauh letaknya dari tempat kediamannya seperti daerah Kamayoran.

Berhadapan dengan Mirah, terpaksa Tirta mengakui keunggulannya dan tunduk kepada gadis ini. Biarpun sebelumnya dengan angkuh mengatakan, bahwa secara gampang dia akan dapat mengalahkan gadis itu. Dengan kekalahannya ini, maka gagal pulalah rencananya untuk memperistri Mirah.

Pada waktu itu diceritakan juga, bahwa di daerah Kemayoran juga sangat kacau dan tidak aman karena banyak terdapat jagoan-jagoan perampok yang bertindak semau-maunya mengganggu rakyat. Penguasa Kompeni Belanda di daerah itu bernama tuan Rujis, mula-mula tidak begitu ambil pusing dengan tindakan-tindakan pengacauan dari jagoan-jagoan perampok ini selama kepentingannya tidak terganggu. Tetapi akhirnya kekacauan ini sudah sampai mengacau kepentingannya dan mengacaukan pemerintah Belanda. Maka terpaksa dia mengambil tindakan-tindakan yang keras dengan cara menangkap perampok perampok itu dan memasukannya ke dalam penjara. Pada suatu waktu terjadi suatu perampokan di rumah seorang Cina di daerah Kemayoran itu. Ketika Ruijs memerintahkan anak buahnya untuk menangkap para pengacau dan perampok itu, ternyata mereka sudah melarikan diri. Tetapi beberapa orang penduduk mengatakan, bahwa mereka melihat perampok itu mukanya mirip dengan Asni, seorang jagoan yang berwatak baik di kampung itu. Baik muka dan suaranya mirip sekali dengan Asni. Tetapi yang mengherankan, biasanya Asni di kenal sebagai seorang jagoan yang baik hati dan tidak pernah melakukan kejahatan-kejahatan.

Tuan Ruijs lalu menangkap dan memeriksa Asni yang dicurigai sebagai perampok tersebut, tetapi karena kurang bukti-bukti, lalu dilepaskan kembali dengan syarat, dia sebagai seorang jagoan di kampung itu harus sanggup menangkap perampok yang sebenarnya untuk membuktikan pula bahwa bukan dirinya yang melakukan kejahatan tersebut.

 

Asni jagoan terkenal dari Kemayoran selalu bertindak menumpas kejahatan, lalu merasa malu dan marah sekali kepada perampok yang telah mencemarkan dirinya itu. Lalu diputuskannya, bahwa dia akan mencari perampok yang selalu mengacaukan daerah Kemayoran itu, ke daerah sebelah Timur.

Maka berjalanlah dia menuju ke arah Timur. Setelah berjalan satu hari lamanya, sampailah Asni ke daerah Marunda. Di daerah Marunda ini didatanginya semua tempat-tempat perjudian. Karena tindakannya ini, maka kemudian Asni dicurigai oleh beberapa orang anak buah Bang Bodong jagoan yang terkenal di daerah Marunda. Akhir-nya karena saling mencurigai, terjadilah keributan antara Asni dengan anak buah Bang Bodong. Semula Asni berusaha untuk menghindarkan perkelahian, karena dia takut terjadi keributan dan tujuannya semula untuk mencari perampok yang mengacau di daerahnya. Tetapi tujuannya ini terpaksa gagal, karena dia tidak dapat menghindarkan diri dari perkelahian dengan anak buah Bang Bodong yang mencurigai tindakan-tindakannya.

Dalam perkelahian itu anak buah Bang Bodong dapat dikalahkan serta dipukul babak belur olch Asni, jagoan dari daerah Kemayoran itu. Salah seorang dari anak buah Bang Bodong, melaporkan kejadian ini kepada Bang Bodong. Mereka berkata: “Bang, ada orang asing datang mengacau daerah kita, tetapi kami tidak kuat melawannya”.

Bang Bodong yang sudah melihat anak buahnya yang sudah babak belur, lalu menjadi marah dan berkata: “Minggir kamu semua, biar aku yang akan menghajar orang asing yang berani mengganggu keamanan kampung kita ini”.

Lalu berangkatlah Bang Bodong mencari Asni.

Setelah bertemu, mereka lalu berkelahi dengan serunya. Tetapi sayang Bang Bodong yang sudah mulai tua itu dapat dikalahkan oleh Asni sehingga jatuh pingsan. Melihat kejadian ini, gemparlah anak buah Bang Bodong, karena jagoan kampung mereka dapat dikalahkan oleh pendatang itu.

Mereka lalu lari dan pulang mengadukan peristiwa tersebut kepada Mirah anak Bang Bodong yang juga seorang jago silat yang belum ada yang mengalahkannya. Mendengar kejadian ini, menjadi marahlah Mirah. Lalu berangkatlah gadis ini mencari orang asing tersebut. Setelah bertemu, lalu ditantangnya jagoan dari Kemayoran ini.

Mula-mula Asni menolak tantangan itu, karena dia merasa malu berhadapan dengan seorang wanita. Tetapi karena Mirah terus saja menantangnya, maka terpaksalah Asni melayani tantangan itu dan mereka berkelahi mempertahankan kehormatan masing-masing.

Setelah berkelahi mati-matian, rupanya Mirah kalah. Melihat kejadian ini, anak buah Bang Bodong datang membantu Mirah. Akhirnya mereka berhasil mengepung dan menangkap Asni yang lalu diikat kedua tangannya oleh anak buah Bang Bodong. Sebelum kedua tangannya diikat, Asni yang baik hati itu masih sempat menyembuhkan Bang Bodong dari pingsannya, sehingga Bang Bodong jadi siuman kembali. Melihat tindakan Asni yang baik ini, anak buah Bang Bodong menjadi heran. Setelah sadar akan dirinya, Bang Bodong kemudian berkata:. “Lepaskanlah orang ini. Dia memang seorang jagoan yang baik dan akan segera akan ku ambil sebagai menantu, sesuai dengan janji anakku Mirah bahwa dia akan memilih suami orang yang dapat mengalahkannya”.

 

Kemudian Bang Bodong berkata kepada Asni: “Hai orang asing yang gagah perkasa. Engkau boleh mengambil anakku si Mirah untuk calon istrimu, karena engkau sungguh-sungguh baik hati dan gagah perkasa”.

Mula-mula Asni menolak tawaran Bang Bodong itu. Hal ini dilakukannya, bukan karena dia tidak tertarik kepada Mirah yang cantik itu, tetapi adalah sebagai basa-basi ke Timuran yang tinggi, di mana tujuannya semula bukanlah untuk mencari istri tetapi adalah untuk mencari seorang pengacau yang sering mengganggu keamanan masyarakat di kampung halamannya.

Melihat keadaan ini Bang Bodong yang arif bijaksana itu berkata: “Kalau yang ingin engkau cari adalah pengacau yang sering mengganggu daerah Kemayoran, maka kami sudah tahu orangnya.” “Namanya Tirta yang tinggal di daerah Krawang. Untuk menangkap si Tirta itu perkara yang gampang, yang penting engkau kawin dulu dengan si Mirah, karena Tirta itu pernah dikalahkan oleh Mirah”.

Akhirnya Asni tidak dapat lagi menolak tawaran dari Bang Bodong, apalagi memang dia merasa tertarik dengan Mirah yang cantik dan pandai bermain silat itu. Maka dilangsungkanlah perkawinan antara Asni jagoan dari Kemayoran dengan mirah dalam suatu perjamuan yang ramai. Dalam pesta perkawinan itu diundanglah segenap lapisan masyarakat, juga Bek Kemayoran dan undangan lainnya. Pada waktu pesta itu berlangsung datang pulalah Tirta dari Krawang, karena dia menyangka bahwa dia tidak akan menjumpai orang yang mengenal dirinya sebagai seorang penjahat. Tetapi dugaannya ini meleset, karena Bek Kamayoran Serayan yang sudah lama mendengar tentang kejahatannya merasa curiga.

Apalagi wajahnya mirip sekali dengan wajah Asni, seperti penduduk yang pernah melihat-nya di Kemayoran. Tirta sendiri melihat wajah Bek Kemayoran Serayan menjadi kaget dan secara otomatis mencabut senjatanya, sehingga Bek Kemayoran itu tewas seketika.

Kemudian Bang Bodong ingin membantu, juga dapat dibunuhnya terlebih dahulu. Suasana perkawinan menjadi kacau. Melihat kejadian ini Mirah lalu menanggalkan pakaian pengantennya dan mengejar Tirta.

Tirta pernah dikalahkan oleh Mirah merasa ketakutan, lalu melarikan diri, tetapi sayang senjatanya sendiri, akibat pukulan Mirah mengenai lambungnya, sehingga darah bercucuran dari perutnya dan Tirta rebah ke tanah.

Sambil memegang perutnya yang terluka. Tirta berkata: “Mirah, saya mengaku kalah padamu, tetapi engkau harus ingat kedatanganku kemari sebenarnya bukan menantangmu berkelahi, tetapi ada-lah untuk menghadiri pesta perkawinanmu. Sebagai kado kenang-kenangannya ini aku bawakan sabuk yang berpending emas dan timangnya berukir diikat oleh tali, terimalah hadiah pemberianku itu Mirah”.

Melihat kejadian ini, Mirah menjadi terharu, dia mengetahui kejahatan perangai Tirta, tetapi melihat kejadian tersebut hati kemanusiaannya menjadi tersentuh. Rupanya Tirta yang jahat itu ingin berbuat baik kepadanya dan mungkin telah mulai insyaf akan kejahatan-kejahatan yang di perbuatnya selama ini.

Kemudian Mirah memanggil Asni dan memperkenalkannya kepada Tirta. Tetapi ketika Tirta melihat wajah Asni berkata: “Oh Tuhan, kalau tidak keliru engkau adalah adikku yang sudah lama tidak bertemu bernama Asni”.

“Benar, benar bang”, jawab Asni

 

Orang yang mirip wajah dan suaranya itu ternyata bersaudara satu bapak. Ibunya Asni berasal dari Daerah Cakung dan ibunya Tirta berasal dari daerah Banten dan setelah bapak mereka meninggal, maka hidupnya terpisah dan tidak pernah bertemu beberapa waktu lamanya.

Melihat kejadian itu menjadi heranlah orang-orang yang hadir. Kemudian kakak beradik Tirta dan Asni saling berpelukan karena telah lama sekali tidak berjumpa dan Tirta yang telah insyaf itu menyesali perbuatannya selama ini mengacau keamanan kampung dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Tetapi rupanya, ajal telah sampai dan pada saat-saat terakhir masih sempat berkata kepada adiknya: “Asni dan Mirah, maafkanlah abang yang telah sesat ini. Mudah-mudahan kalian akan berbahagia dalam hidup dan berbuatlah hal-hal yang berguna bagi masyarakat, janganlah meniru jalan hidupku yang salah ini”.

Setelah berkata demikian, karena kehabisan darah dari lukanya, tidak lama kemudian meninggallah Tirta dalam pelukan Asni adiknya.***

 

(diambil dari berbagai Sumber)

Ditulis kembali oleh Rudy Haryanto

Anggota Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi

Check Also

REBANA KETIMPRING TERLEGITIMASI SEBAGAI WARISAN BUDAYA TAKBENDA INDONESIA DARI TANAH BETAWI

REBANA KETIMPRING TERLEGITIMASI SEBAGAI WARISAN BUDAYA TAKBENDA INDONESIA DARI TANAH BETAWI

kebudayaanbetawi.com, Rebana Ketimpring merupakan kesenian musik tradisional masyarakat Betawi yang digunakan untuk pertunjukan ngarak dan untuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *