Siklus Hidup Orang Betawi
Sholat Jenazah, Foto Dokumentasi Lembaga Kebudayaan Betawi

Siklus Hidup Orang Betawi

kebudayaan betawi – Siklus Hidup Orang Betawi. Adalah  benar jika  ada yang menyinggung  bahwa kajian tentang Betawi telah banyak dikerjakan oleh berbagai kalangan dengan tinjauan dari berbagai aspek kehidupannya pula. Telah banyak disinggung  bahwa orang Betawi merupakan hasil asimilasi melewati rentang waktu yang panjang. Identitas mereka sebagai suku-bangsa sangat nyata dari ciri  budaya tertentu, apakah itu agama, sistem keyakinan, pakaian, makanan, bahasa, dialek, kesenian, dan lain-lain.

Sebagai suku-bangsa, sampai sekarang (Januari 2000) belum diketahui secara pasti berapa jumlah orang Betawi. Sensus penduduk yang dilakukan di Jabotabek tidak merinci secara jelas data suku-bangsa yang ada. Namun beberapa kalangan berani menaksir bahwa jumlah orang Betawi antara 3 – 4 juta. Taksiran ini tentu tidak dapat dijadikan patokan karena bukan hasil sensus penduduk. Sementara itu  secara nyata diakui bahwa terdapat daerah kantong-kantong yang didiami orang Betawi. Alhasil, untuk mengetahui berapa jumlahnya yang pasti memang kudu dilakukan sensus secara khusus.

Lepas dari jumlahnya, orang Betawi adalah hasil pembauran berbagai etnik yang datang dari pelosok Indonesia dan bahkan antar-bangsa yang prosesnya berbilang ratusan tahun. Dari proses pembauran itu lahirlah berbagai unsur budaya yang pada gilirannya disebut unsur budaya Betawi. Misalnya bahasa Betawi oleh para ahli bahasa digolongkan sebagai salah satu dielek dari bahasa Melayu. Dalam perkembangannya bahasa Betawi menjadi dua dialek, yaitu : dialek Betawi kota dan dialek Betawi ora.  Lalu agama Islam dengan segala sistem keyakinan, nilai-nilai, dan kaidah-kaidahnya telah memberi pengaruh yang amat kuat pada budaya Betawi. Orang Betawi termasuk orang yang taat beribadah. Dengan kata lain agama merupakan salah satu unsur penting yang mengikat dan memberinya ciri tersendiri sebagai suku-bangsa. Sehingga dalam bertindak dan melaksanakan upacara adat, orang Betawi senantiasa mengacu pada nilai dan norma budaya (Islam), meski pada beberapa segmen masih campur-aduk dengan unsur animis maupun Hindu/Budha. Memang pada dasawarsa terahkir ini terdapat kecenderungan sangat kuat menghapus segala macam unsur budaya non-Islam pada pelaksanaan upacara adat.

Betawi  memiliki khazanah seni budaya yang beragam, menarik, dan unik. Seni budaya itu telah terbentuk sejak jaman dahulu kala. Dimulai sejak jaman prasejarah. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya benda-benda arkeologis seperti alat-alat batu yang ditemukan di kawasan Condet. Maju ke jaman Hindu dengan bukti temuan Prasanti Tugu yang berasal dari abad ke-5 masehi. Jaman Hindu ini mulai dari abad ke-5 sampai abad ke-16 masehi. Pada akhir jaman Hindu ini terjadi peristiwa yang amat bersejarah, yakni berdirinya Kota Jakarta pada 22 Juni 1527. Tahun 1527 ini sekaligus menandai dimulainya jaman baru yakni jaman Islam. 92 tahun kemudian Jakarta direbut dan dikuasai oleh VOC Belanda dan Hindia Belanda sampai tahun 1942 dan dilanjutkan dengan pendudukan Jepang. Dengan perjuangan yang tidak kenal menyerah, akhirnya para pejuang kita – khususnya anak-anak Pegangsaan – berhasil  memproklamasikan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Sejarah panjang itu membentuk karakter tersendiri bagi seni budaya Betawi sehingga menjadikannya menarik dan unik. Namun kemenarikan dan keunikan itu belum seluruhnya memasyarakat, sehingga masyarakat, khususnya masyarakat Ibukota Jakarta masih memandang aneh manakala mereka menjumpai atau menemui salah satu upacara adat Betawi sedang dilaksanakan. Itulah sebabnya upaya penyebarluasan informasi seni budaya (adat-istiadat) Betawi menjadi keharusan dan tidak dapat ditunda-tunda. Dengan upaya penyebarluasan ini diharapkan unsur budaya Betawi yang sudah hilang atau nyaris hilang akan memdapat semangat baru dan kembali menghangatkan Jakarta dengan aneka rupa seni budayanya yang meriah dan bersahabat.

Siklus Hidup Orang Betawi – Dalam hidup orang Betawi terpatri upacara-upacara adat baik yang sakral maupun yang tidak. Upacara-upacara itu merupakan fase-fase atau fragmen-fragmen kecil yang sudah mendarah daging sehingga akan terasa ganjil jika orang Betawi tidak melaksanakannya dalam perjalannan hidupnya. Itulah siklus hidup orang Betawi, suatu perjalanan panjang penuh liku-liku yang dilalui orang Betawi sejak lahir sampai masuk liang lahat. Upacara-upacara adat itu antara lain: Akeke, Sunatan, Khatam Qur’an, Nikah, Bikin dan Pinde Rume, Nuju Bulan, Nazar, Lebaran, dan Alam Kematian. (Yahya Andi Saputra)

Pencarian Berdasarkan Kata Kuncihttps://www kebudayaanbetawi com/3491/siklus-hidup-orang-betawi/

Check Also

NUBA DAN NGUBEK EMPANG

NUBA DAN NGUBEK EMPANG

GESAH ANAK BETAWI Assalamualaikum warahmatullahi wabaratuh Tabè…! Kite bersyukur kepada Allah yang telah memberika rezeki …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *