Hikayat Jaya Lengkara (Bagian 1)

Hikayat Jaya Lengkara (Bagian 1)

Hikayat Jaya Lengkara – merupakan karya sastra tulis melayu klasik Betawi, buah karya Muhammad Bakir. Beliau dan ketiga saudaranya dan Sapirin—yang sering juga disebut Guru Cit, adalah anggota keluarga Fadli yang aktif dalam proses menerjemahkan, menyadur dan penulisan. Tulisan ini disadur dari buku “Bunga Rampai Sastra Betawi”, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta Tahun 2002.

Jaman dahulu tersebutlah seorang raja besar bernama Maharaja Ajrang, bertahta di kerajaan Bantulu. Banyak kerajaan yang takluk di bawah kekuasaan Kerajaan Bantulu karena Maharaja Ajrang sangat perkasa dan sakti, ia bahkan mampu bicara dalam bahasa binatang.

Maharaja Ajrang memiliki seorang putri, Tuan Putri Mandu Dari namanya. Kini sang putri berusia remaja, kecantikannya makin nyata.

Pada suatu hari, Maharaja Ajrang mengumpulkan para ahli nujum dari seluruh negeri. Maharaja ingin mengetahui peruntungan nasib sang putri.

Maka berkumpullah para ahli nujum di paseban. Dengan berbagai cara mereka menilik kehari depan sang putri. Tetapi, wajah-wajah suram terlihat, para ahli nujum saling berbisik diantara sesamanya. Maka sabda Maharaja, “Tuan-Tuan sekalian, katakanlah apa yang kalian lihat.”

Para ahli nujum saling berpandangan, akhirnya seorang ahli nujum yang tertua maju ke hadapan Baginda, “Daulat Tuanku, hamba mohon ampun,” sembah ahli nujum. “Dari yang hamba lihat, pada bintang-bintang, pada angin dan gelombang di lautan. Nasib Tuan Putri telah digariskan. Yang Mulia Putri Mandu Dari kelak berjodoh dengan seorang pemuda miskin dari desa yang bernama Cinda Biya.”

Maharaja terhenyak mendengar perkataan ahli nujum itu.

Maharaja berpaling pada raja-raja bawahannya. “Siapa diantara kalian yang dapat membatalkan nasib perjodohan itu?”

Semua diam, raja-raja manusia, raja-raja dari kalangan jin dan raja-raja raksasa.

Akhirnya, Sang Garuda, raja segala hewan memberanikan diri. la maju lalu menyembah dengan kedua sayapnya.

“Ampun Baginda, izinkanlah hambamu mencoba.”

Sedikit rona cerah membersit pada wajah Sang Maharaja, sabdanya’

“Wahai raja segala hewan, lakukanlah apa yang menurutmu terbaik bagi putriku.”

Keesokan harinya, jauh sebelum matahari terbit, Garuda telah bersiap di keputren. la akan membawa Tuan Putri mengungsi menghindar dari nasib.

Hikayat Jaya Lengkara – Dengan bekal secukupnya dan ditemani dua dayang, sang putri naik di kepala Garuda, Diiring isak tangis seluruh penghuni istana, sang putri dibawa pergi menyeberang samudera luas.

Berita ramalan jodoh Tuan Putri Mandu Dari tersebar. Si miskin Cinda Biya di dusunnya telah mendengar. Cinda Biya menjadi takut, ia tahu orang semiskin dirinya tak layak bersanding dengan putri raja. Pikirnya sang raja tentu akan membunuhnya. Maka larilah Cinda Biya.

Berhari-hari Cinda Biya berjalan naik-turun gunung, keluar masuk hutan. Suatu hari sampailah Cinda Biya di tepi pantai. Dilihatnya ada bangkai kerbau yang masih segar. Cinda Biya mengeluarkan daging kerbau itu dan memakannya. Setelah kenyang timbul kantuknya, tertidurlah ia berselimut kulit kerbau.

Pada saat itu sang Garuda yang tengah terbang membawa sang putri melihat gundukan kulit kerbau. Pada sangkanya itu adalah kerbau utuh. Maka Garuda yang lapar itu segera menyambar kulit itu dan menelannya.

Saat terjaga, alangkah terkejutnya Cinda Biya, kegelapan melingkupi dirinya. Dengan merayap-rayap Cinda Biya akhirnya dapat keluar melalui lubang hidung Garuda.

Dari lubang hidung itu Cinda Biya menyadari kalau dirinya sedang terbang di angkasa. Tapi yang lebih mengejutkannya saat ia melihat ke puncak kepala Garuda, disana tampak tiga orang wanita cantik.

Sementara itu sang putri melihat seorang lelaki keluar dari lubang hidung Garuda. Dengan sangat terkejut ia bertanya, “Hai engkau yang keluar dari hidung Garuda, manusia atau jinkah gerangan?”

“Maafkan kelancangan hamba Puan, hamba adalah manusia, Jawab Cinda Biya. Lalu diceritakannya mengenai kejadian yang menimpa dirinya. (Bersambung)

Check Also

Buaya Buntung

Buaya Buntung

Cerita Rakyat Betawi Diceritakan kembali Oleh Rudy Haryanto Naskah disampaikan untuk mengikuti Sayembara Penulisan Cerita …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *