KOPYAH DAN SARUNG
MANISAN BERULUK

MELOCOHIN KACANG

CERITA PUASA ANAK BETAWI

Pengantar

Ahlan wasahlan syahri Ramadan.

Bulan puasa ini, laman www.kebudayaanbetawi.com menurunkan artikel berseri hal-ihwal atau sisik melik puasa dalam masyarakat Betawi. Artikel ini ditulis Yahya Andi Saputra, Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Bidang Penelitian dan Pengembangan. Semoga tulisan ini (ditulis dengan gaya bercerita) bermanfaat bagi pembaca dan peminat masalah-masalah kebetawian lainnya. Mari kita menyambut bulan suci Ramadan dengan girang. Dengan girang saja, Allah jamin haram jasad kita disentuh api neraka. Semoga ibadah puasa kita menjadi ibadah yang berdampak pada kehidupan sosial sehari-hari. Dampak wata’awanu ‘alal birri wattaqwa dan ketakwaan sosial yang nyata.

Salamat puasa. Raih predikat takwa.

MELOCOHIN KACANG

Bulan puasa, khususnya jika sudah melewati setengahnya, akan memunculkan gairah baru. Dimaksud gairah baru itu sebenarnya hanya ungkapan belaka. Yang ingin diungkapkan sebenarnya adalah bahwa konsentrasi masyarakat untuk melengkapi kebutuhan hari kemenangan meningkat 200 persen. Dengan demikian daftar belanjaan bukan saja untuk kebutuhan rutin harian, tetapi bertambah untuk kebutuhan lebaran. Mempercantik rumah memerlukan ongkos tidak kecil. Untuk tampil gagah, cantik, dan trendi saat lebaran kudu merogoh isi kantong cukup besar. Melengkapi dapur, meja makan, dan meja tamu membutuhkan biaya berkali lipat. Maka dulu sering kita dengar ungkapan “mencari sebelas bulan buat keperluan sebulan”.

Ketika masih anak-anak, saya sering ngerecokin (melibatkan diri) jika ada rame-rame (kegiatan atau kesibukan) yang sedang dikerjakan baik oleh enyak maupun empok di dapur. Sering ikut marut kelapa, ngadonin bahan-bahan kue (misalnya kue biji ketapang, satu, sagon, kembang goyang), ngiris-ngiris singkong, numbuk uli, melocohin kacang, dan lain sebagainya.

Melocohin (mengupas atau membersihkan kulit ari) kacang termasuk yang sangat sering saya lakukan. Atau enyak malah justru minta dibantuin. Melocohin kacang ini memang membutuhkan banyak orang agar lebih cepat selesai, karena jika dikerjakan sendirian memakan waktu lama. Terutama jika kacang yang diplocohin berjumlah banyak. Dan memang biasanya enyak menggoreng kacang (biasanya kacang bawang atau kacang telor dan pedes manis) lebih dari dua kilo. Kacang bawang yang gurih dan renyah ini memang menjadi salah satu cemilan lebaran yang paling banyak dicomot oleh tetamu.

Sebagai orang nani (petani), dulu babe pun menanam kacang (kita menyebutnya kacang tanah untuk membedakan dengan kacang panjang), dan juga jagung. Hasilnya dijual ke pasar. Terkadang ada sebagian yang disimpan untuk dimakan sendiri. Biasanya hanya dibuat kacang rebus untuk teman ngopi. Tetapi enyak sering membuat rempeyek dan tenteng kacang. Kalo tenteng kacang biasanya dititip di warung (untuk dijual).

Untuk dipelocohin, terlebih dahulu kacang direndem di air mendidih yang sudah dicampur dengan kapur. Setelah dingin barulah dipelocohin satu demi satu. Waktu melocohin kita diwanti-wanti agar jangan sampai kacang belah dua. Karena kalau terlalu banyak yang belah dua, hasilnya akhirnya kurang bagus.

Kacang Tanah kupas

Setelah semua kacang selesai dipelocohin, lalu dicuci dan ditirisin. Saya pehatikan kemudan enyak menyiapkan bumbunya. Antara lain bawang putih dialusin (ditumbuk halus), bawang putih diiris-iris tipis (bawang ini kemudian digoreng), garam, dan santen. Ukuran bumbu ini disesuaikan dengan sedikit atau banyaknya kacang yang akan digoreng. Orang yang sudah biasa masak, tentu memiliki perkiraan yang tidak diragukan.

Kacang dan semua bumbu ini dimasukan ke baskom dan ditambah air seperlunya. Kacang direndam di bumbu selama tiga atau empat jam. Setelah direndam lalu angkat dan tiriskan. Enyak kemudian menjerang penggorengan besar dan dituangin minyak goreng. Sekarang ini tahun 2022, terjadi krisis minyak goreng sehingga harganya melambung. Seorang perempuan perkasa menyarankan kepada emak-emak jangan menggoreng makanan. Apa kemampuan perempuan cuman bisa menggoreng, katanya. Makanan cukup direbus, dikukus, dipepes, dibakar, atau diapakan saja boleh, asal jangan digoreng. Ini jauh lebih sehat. Sungguh saran yang jitu, cerdas, dan aduhai. Wooow…

Ketika minyak sudah panas, maka gorenglah kacangnya. Goreng sampai warna kacang menjadi kuning keemasan dan teksturnya kering. Jika sudah digoreng semua, dinginkan. Abis itu (setelah itu) tambahkan atau campur bawang putih yang sebelumnya sudah digoreng. Saya ingat Enyak punya beberapa toples berbagai ukuran. Pada toples-toples inlah Enyak menyimpan kacang bawang untuk menjaga kestabilan kekeringannya. Jika kacang bawang sampe kemasukan angin, maka rasanya sudah tidak gurih renyah lagi.

Jika lebaran tiba, kacang bawang disajikan di meja tamu bersama kue-kue lainnya. Silakan menikmati kegurihan dan kerenyahannya. (Yahya Andi Saputra)

Check Also

GESAH ANAK BETAWI

Assalamualaikum warahmatullahwi wabarakuh Tabè…!   Sohib-Sohibat LKB yang mulia Kite bersyukur kepada Allah yang telah …

Leave a Reply

Your email address will not be published.