LAKON MAHARAJA GAREBEG JAGAT (Bagian 12)

LAKON MAHARAJA GAREBEG JAGAT (Bagian 5)

Maharaja Garebeg Jagat – Tersebutlah seorang Penyalin dan Pengarang Sastra Melayu di Tanah Betawi pada abad 19. tinggal di Pecenongan, gang Langgar, Betawi. Ia adalah Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli, yang lazim disingkat Muhammad Bakir. Beliau orang Betawi. Ayahnya dikenal dengan nama Syafian yang mempunyai nama kecil Cit. Ia adalah seorang pengarang juga. Dalam naskah-naskah, nama tersebut kadang dikenal dengan Cit Sapirin bin Usman bin Fadil. Ada keterangan yang menyatakan Muhammad Bakir memiliki anak tertulis dalam kolofon Hikayat Maharaja Garebeg Jagat. Mari kita baca Lakon Maharaja Garebeg Jagat.

Pergilah Pendeta Dorna beserta keempat satria itu meninggalkan Garubug dan kedua adiknya. Anak-anak Semar itu hanya bersungut-sungut memandangi kelimanya. Para punakawan itu sudah babak belur dipukuli.

“Sial benar nasib kita Kang,” ujar Gareng.

“Tak apalah,” sahut Garubug. “Yang penting cincin selamat.”

“Tapi kakiku sakit sekali Kang.”

Terpaksalah Anggalia menggendong Gareng di punggungnya. Ketiga punakawan itu kembali melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba muncul seekor babi hutan sebesar kerbau.

“Huuuaaaa, lariii, lariiii,” anak-anak Semar itu tunggang langgang. “Awas di belakangmu.”

Gareng yang lamban terpincang-pincang jatuh tersangkut sarungnya

sendiri. Ia berteriak-teriak minta tolong. Babi hutan itu menerjang dan menggigit kaki Gareng.

“Kang, Gareng dimakan babi,” teriak Anggalia.

“Celaka, kau pegangi tangan si Gareng, aku urus babinya.”

Maharaja Garebeg Jagat – Anggalia menarik tangan Gareng. Babi itu menyeretnya. Garubug menarik ekor babi itu. Merasa terganggu babi itu melepaskan gigitannya. Terpentallah Anggalia dan Gareng. Babi terus berlari menyeret Garubug yang memegangi ekornya.

“Kang, cincin di jari kaki Gareng ditelan babi,” seru Anggalia. Maka Garubug terseret kian kemari. Babi kalap itu mendengus-dengus marah. Garubug mengaitkan kakinya pada sebatang pohon. Babi itu menarik sekuat tenaga.

Ekor yang dipegang Garubug melar karena tertarik. Anggalia segera menebas ekor itu dengan golok. Terdengar raungan keras, ekor babi itu putus. Muncul kabut asap menyelubungi tubuh babi hutan itu.

Perlahan kabut asap menipis, tubuh babi hutan itu lenyap. Gantinya adalah bangkai Raksasa Boga Widara. Garubug dan kedua adiknya tercengang melihat bangkai itu.

“Cincinnya ditelan raksasa itu Kang,” ujar Gareng. “Belahlah perutnya, pasti masih ada di dalam,” sahut Garubug.

Anggalia membedah perut raksasa itu. Tercenganglah ketiga anak Semar itu. Di dalam perut raksasa Boga Widara bukan hanya ada cincin Batara Narada, tetapi terdapat ratusan cincin lainnya. Rupanya raksasa yang menampakan diri dalam rupa babi itu telah menelan cincin setiap orang yang dihadangnya.

Gareng segera membersihkan cincin-cincin itu. Cincin Batara Narada ia pakai kembali di jari kakinya. Cincin lainnya disembunyikan di kopiahnya. Perjalananpun dilanjutkan.

Di depan gerbang kahyangan banyak raja-raja dan para satria, mereka membawa cincin yang dikira sebagai cincin Batara Narada. Di antara mereka tampak pendeta Dorna bersama keempat temannya. Bahkan Raden Samba dari Jenggala pun ada di sana. (Bersambung)

Check Also

LAKON MAHARAJA GAREBEG JAGAT (Bagian 12)

LAKON MAHARAJA GAREBEG JAGAT (Bagian 10)

Maharaja Garebeg Jagat – Tersebutlah seorang Penyalin dan Pengarang Sastra Melayu di Tanah Betawi pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *