Oleh : Tim Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi
GUNUNGAN DALAM WAYANG BETAWI – Gunungan memeliliki peran yang sangat penting dalam mendalang. Gunungan atau terkadang disebut kayon melambangkan alam dan seluruh unsur kehidupan di dalamnya.
Makna Gunungan
Menurut pemikiran Hindu, gunungan melambangkan penyatuan unsur-unsur kehidupan yang menjadikan seluruh alam. Unsur itu antara lain:
- Banu-sinar-udara-senthex
- Bani-Brahma-api
- Banyu-air
- Bayu-angin
- Bantala-bumi-tanah
Saat sang dalang memutar gunungan, itu berarti proses pemaduan unsur unsur kehidupan tengah berlangsung. Unsur air, api, tanah, cahaya dan angin menyatu. Menciptakan atau menjadikan alam dunia beserta isinya. Kehidupan pun dimulai.
Secara mikrokosmos, gunungan menggambarkan berputarnya pikiran dalang. Memikirkan bagaimana ia memulai pergelaran, merapal jampi-jampi, apa saja yang akan dipakai dan lain sebagainya.
Gunungan sering disebut kayon. Kayon berasal dari bahasa Arab (hayyun/ menurut Dr. Seno Amijaya: 1963) yang berarti hidup atsu kehidupan. Kayon bisa diartikan pohon kehidupan atau pohon Bodhi dalam ajaran agama Budha. Jadi kayon bisa diartikan pula sebagai pohon kalpataru.
Berbagai gambar dalam kayon melukiskan berbagai simbol. Gambar pohon dengan dedaunan yang rimbun dan dua ekor merpati, melambangkan ketentraman. Gambar macan, banteng, dan binatang-binatang buas lainnya menggambarkan perilaku, sikap dan watak-watak manusia.
Secara rinci makna gambar-gambar dalam gunungan adalah sebagai berikut:
Sayap (dalam bahasa Betawi, sepet): melambangkan api, simbol dari kondisi hidup manusia yang sering berkobar bagai api. Sebagian ahli berpendapat sepet menggambarkan matahari, lambang dari cahaya kehidupan.
Kalamakara: raksasa meled (menjulurkan lidahnya, di Bali disebut Barong), melambangkan hutan yang dengan binatang buas dan ruh-ruh jahat bergentayangan mencari mangsa. Secara makrokosmos Kalamakara melambangkan kondisi duniawi yang penuh dengan sifat angkaramurka. Secara mikrokosmos kalamakara melambangkan dalam diri manusia ada sifat-sifat jahat.
Gerbang atau gapura (dalam bahasa Betawi, kaca–kaca), melambangkan pintu masuk istana, pintu masuk ke pertapaan atau tempat pemujaan. Bisa juga diartikan sebagai pintu surga.
Dua butha (raksasa kembar) membawa gada dan perisai di kedua sisi gapura, ini melambangkan bahwa dalam kehidupan harus dibatasi oleh etika atau akhlak atau sopan santun.
Ular: ular menggantikan dua butha. Ada gunungan yang tidak memiliki gambar dua butha, digantikan oleh gambar ular naga. Konon ini adalah gambar Antaboga, penguasa Sapta Patala/bumi. Karena ia adalah ayah Dewi Sri, maka ada kepercayaan dalam masyarakat, tidak boleh membunuh ular sawah.
Pratala/Bantala: berarti bumi. Konon bumi ini terdiri dari tujuh lapis.
- Lapis pertama didiami oleh Ayu Ratna Pertiwi.
- Lapis kedua didiami oleh Dewi Gangga.
- Lapis ketiga didiami oleh Daram Palan.
- Lapisan keempat didiami Candula.
- Lapisan kelima didiami oleh Nakula dalam wujud kura-kura. Konon kura-kura ini adalah salah satu jelmaan Wisnu yang menyangga Himalaya saat
para dewa dan butha mencari air Amerta.
- Lapisan keenam didiami oleh raja naga
- Lapis tujuh didiami oleh Antaboga
Sebagian ahli berpendapat, tujuh lapisan bumi merupakan lambang tujuh larangan utama, antara lain:
- Minum
- Main
- Madon
- Madat
- Mateni
- Mangan
- mateni (?).
GUNUNGAN DALAM WAYANG BETAWI. Fungsi gunungan antara lain, membuka dan menutup pergelaran. Menandai batas negara, menandai batas antara babak satu dengan babak lainnya, menandai waktu istrirahat, latar belakang adegan-adegan tertentu, sebagai dekor untuk menggambarkan air, api, angin, gunung, matahari dan gedung.
Air. Dalam pedalangan terkadang ada adegan yang menggambarkan air. Contohnya saat wadyabala Kiskenda menyerbu Alengka. Mereka harus melalui laut. Untuk itu dipergunakan gunungan.
Api. Api juga terkadang harus dimunculkan dalam beberapa adegan tertentu. Contohnya dalam lakon Anoman Obong. Saat Anoman membakar Alengka, di sinipun digunakan gunungan untuk menggambarkan api.
Gunung. Gunungan memang berarti gunung. Maka untuk menggambarkan gunung, gunungan sangat cocok. Selain itu gunungan juga dapat dipakai untuk menggambarkan gelombang tenaga dalam atau ilmu kesaktian.
Layar. Dalam pedalangan Betawi gunungan bisa disebut babat. Artinya pemisah dari satu adegan ke adegan berikutnya.
Matahari. Sebenarnya dengan adanya blencong sudah cukup untuk menggambarkan matahari. Namun untuk adegan-adegan tertentu, terkadang diperlukan alat bantu lain untuk mempertegas. Contohnya untuk menggambarkan kemarahan Batara Surya, dipergunakan gunungan. Dalam pergelaran wayang ada adegan-adegan yang tidak menampilkan tokoh tokohnya. Dalang hanya mengucapkan prolog. Dalam adegan ini biasanya dalang menancapkan gunungan di tengah-tengah. ( Kembali Bagian 1)
