LAKON LAKON RAJUNA/ARJUNA BERULAH

LAKON RAJUNA/ARJUNA BERULAH (Bagian 4)

Oleh : Tim Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi

LAKON RAJUNA/ARJUNA BERULAH (Bagian 4) – Muhammad Bakir aktif menulis atau menyalin karya sastra antara 1884-1906, menghasilkan tidak kurang 14 manuskrip hikayat bertema wayang. Lakon Rajuna yang diturunkan di web LKB ini salah satu dari itu. Manuskrip ini hasil transkrip dari naskah Hikayat Wayang Arjuna. Selamat menikmati kisah Arjuna.

Ngamarta dalam keadaan kosong, yang tinggal di sana hanya Lurah Semar dan para putranya. Pada waktu itu Semar memberikan petunjuk dan nasihat kepada para putranya yang akan menyusul Sang Rajuna.

Sementara itu, diceritakan bahwa Rajuna itu mengamuk di Suralaya. Oleh karena itu, Batara Guru mengutus Bagawan Narada agar dapat mengatasi amukan Rajuna. Dengan bantuan para batara, akhirnya Bagawan Narada berhasil menangkap Rajuna. Berdasarkan perintah Batara Guru, Rajuna dipenggal lehernya karena ia telah membuat onar dan berbuat dosa besar. Kepala Rajuna dipancangkan di taman Bidadari, sedangkan tubuhnya dihanyutkan ke dalam sungai, tempat para bidadari mandi.

Pada suatu hari, sebanyak empat puluh bidadari mandi di sungai itu. Mereka menjadi heran mengapa air sungai itu harum baunya. Mereka mencari keterangan mengenai sebab-sebabnya. Ternyata di sungai itu ditemukan tubuh Sang Rajuna. Mereka dengan mengagumi kebagusan dan keelokan tubuh Rajuna sehingga mereka berusaha merebut bagian tubuh Rajuna itu. Pada saat tubuh Rajuna sedang menjadi rebutan para bidadari, seketika itu juga tubuh Rajuna gaib dan menjelma menjadi empat orang ksatria dengan wajah yang sama seperti Rajuna. Mereka itu bernama Sukma Rasa, Sukma Macan, Sukma Wama, dan Sukma Jenis. Keempat ksatria itu masing-masing menggandeng dan bercumbu rayu dengan bidadari itu.

LAKON RAJUNA/ARJUNA BERULAH (Bagian 4). Diceritakan bahwa kepala Rajuna yang dipancangkan di taman bidadari itu menjelma lagi menjadi dua orang ksatria yang serupa dengan keempat orang ksatria lainnya dan mereka kemudian bergabung menjadi satu, lalu bercumbu rayu dengan para bidadari di Suralaya. Sementara itu, para batara di Suralaya tiba-tiba berubah menjadi lesu dan letih.

Oleh karena itu, Batara Guru mengutus kepada para batara agar melakukan pemeriksaan di Suralaya kalau-kalau ada sesuatu yang kurang beres. Pemeriksaan terus dilakukan ke segenap penjuru negeri Suralaya. Akhirnya, para petugas pemeriksa itu mengetahui bahwa sumber malapetaka itu sebenarnya ulah bidadari yang asyik bercumbu-rayu dengan kelima orang ksatria penjelmaan para l Rajuna. Mereka bercumbu-rayu itu sampai melupakan segala-galanya.

Ulah para bidadari itu, menimbulkan kemarahan Bata Guru dan Narada sehingga terjadi perang tanding melawan Rajuna berikut keempat orang ksatria itu. Kedua batara yang melawan Rajuna itu untuk meminta pertanggungan jawab perbuatan Rajuna di Suralaya. Meskipun Rajuna dianggap sebagai orang yang bersalah, Rajuna tetap mernpertahankan dirinya, dan melawan para batara sampai mereka tidak dapat mempertahankan amukan Rajuna itu merasa kewalahan. Batara Guru dan Narada bersembunyi di Gunung Parasut. Akan tetapi, sebelum Batara Guru dan Narada sampai ke tujuannya, Rajuna telah sampai lebih dulu. Di sana ia telah menjelma sebagal’ Batara Agung Sakti.

Hal itu merupakan kesempatan bagi kedua batara itu untuk minta perlindungan kepada Batara Agung Sakti. Akan tetapi, ketika mereka berdua sedang menyembah kedua kaki Batara Agung Sakti, sekonyong-konyong Batara Agung Sakti itu menjelma kembali sebagai Rajuna. Dengan demikian, Batara Guru dan Narada menjadi sangat malu: dan terus melarikan dirinya sampai ke tepi laut.

LAKON RAJUNA/ARJUNA BERULAH (Bagian 4). Batara Guru dan Narada, karena tidak berhasil minta perlindungan kepada Maharaja Danu Sagara, melarikan diri ke hutan, meminta perlindungan kepada raksasa Lobat Karawang. Raksasa itu ternyata tewas juga oleh tangan Arjuna dan menjelma kembali menjadi batara sambil mengakui kekuatan Arjuna. Sementara istrinya menahan Arjuna untuk dicumbu raya. Dan patara Duru dan Narada diusir ke bumi. Pada suatu hari, Batara Guru dan Narada bersama-sama Pendeta Dorna dan Prabu Jenggala, serta Ratu Ngastina bersembunyi di sebuah hutan dan bertemu dengan seorang bagawan yang sedang bertapa dalam keadaan yang sangat menyedihkan karena seluruh tubuhnya sudah dililit akar kayu dan sudah ditumbuhi ilalang. Di samping itu, rambut di kepalanya sudah dipakai sebagai sarang seekor burung manyar. Pada waktu itu, Batara Guru beserta pengikutnya telah sepakat untuk minta pertolongan kepada bagawan itu dan mereka dengan sangat terpaksa bersedia menyembah kedua kakinya. Pada saat mereka sedang menyembah kedua kaki bagawan itu, tiba-tiba sang bagawan melontarkan makian dengan ucapan yang sangat kotor kepada Batara Guru dan Narada serta ketiga orang pengikutnya. Dengan sombong dan bangga ia mengatakan bahwa dialah yang bernama Rajuna adalah satu-satunya lelaki yang paling hebat dan sakti di alam dunia dan alam kayangan. Dialah lanang sejagat dan sejagat tiyang lanang. (Bersambung Bagian 5)

 

Check Also

LAKON MAHARAJA GAREBEG JAGAT (Bagian 12)

LAKON MAHARAJA GAREBEG JAGAT (Bagian 10)

Maharaja Garebeg Jagat – Tersebutlah seorang Penyalin dan Pengarang Sastra Melayu di Tanah Betawi pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *