LAKON MAHARAJA GAREBEG JAGAT (Bagian 4)

LAKON MAHARAJA GAREBEG JAGAT (Bagian 3)

Maharaja Garebeg Jagat – Tersebutlah seorang Penyalin dan Pengarang Sastra Melayu di Tanah Betawi pada abad 19. tinggal di Pecenongan, gang Langgar, Betawi. Ia adalah Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli, yang lazim disingkat Muhammad Bakir. Beliau orang Betawi. Ayahnya dikenal dengan nama Syafian yang mempunyai nama kecil Cit. Ia adalah seorang pengarang juga. Dalam naskah-naskah, nama tersebut kadang dikenal dengan Cit Sapirin bin Usman bin Fadil. Ada keterangan yang menyatakan Muhammad Bakir memiliki anak tertulis dalam kolofon Hikayat Maharaja Garebeg Jagat. Mari kita baca Lakon Maharaja Garebeg Jagat.

Sang Arjuna berdiri termangu-mangu. Keris ditangannya masih berlumur darah. Para punakawan berlari mendapatinya. Semar anat cemas dengan keadaaan tuannya. Terdengarlah satu suara tanpa wujud.

“Cucuku, sudah kau buktikan keampuhan keris itu,” ujar suara itu. “Itulah

keris si Pancaroba, ganjaran tapamu.”

“Siapakah wahai engkau suara tanpa wujud?” tanya Arjuna.

“Akulah Patih Narada,” sahut suara itu. “Kedua raksasa itu adalah jelmaanku sendiri.”

Bersujudlah Sang Arjuna beserta para punakawannya. Arjuna menghaturkan sembah atas anugerah yang diterimanya. Saat itu Garubug merasa ada yang mengganjal lututnya.

Sang Arjuna, Semar, Gareng dan Anggalia telah bangkit. Garubug masih

duduk, ia meraba lututnya. Terkejutlah Garubug, ia menemukan sebentuk cincin yang gilang gemilang cahayanya.

“Aden, lihat ini,” seru Garubug. “Hamba menemukan apa?”

“Astaga, indah sekali,” sahut Arjuna. “Dari mana kau dapat?”

“Bukankah ini milik aden?”

“Tidak ini bukan milikku. Pasti ini milik Batara Narada.”

“Benar,” lanjut Semar. “Sewaktu aden memotong tangannya hamba lihat kedua raksasa itu bercincin.”

“Kalau demikian,” ujar Arjuna. “Pergilah kalian bertiga ke Suralaya, pasti kalian akan mendapat ganjaran atas dikembalikannya cincin ini.”

Maharaja Garebeg Jagat – Maka berpisahlah Garubug, Anggalia dan Gareng dengan Arjuna dan Semar. Satria Pandawa itu melanjutkan perjalanan ke Indraprasta. Garubug dan kedua adiknya ke kahyangan.

Alkisah saat itu tersiar kabar dari keindraan di kalangan raja-raja. Batara

Narada kehilangan cincinnya. Barang siapa yang dapat mengembalikan cincin itu

akan mendapat ganjaran, segala permohonannya akan dikabulkan.

“Ini kesempatan besar angger” ujar Patih Sangkuni. “Kalau angger dapat mengembalikan cincin itu, tak ada lagi Pandawa yang akan menghalangi kita.”

“Apa yang kukembalikan paman patih,” sahut Prabu Suyudana. “Sedang cincinnya saja tak ada padaku.”

“Jangan terburu-buru bicara anakku,” ucap patih. “Jagalah jalan menuju

Suralaya, hadang semua yang lewat.”

“Benar, sungguh benar,” cetus pendeta Dorna. “Pasti banyak raja-raja yang merasa menemukan cincin itu. Mereka semua pasti akan berbondong-bondong hendak mengembalikannya.”

“Naaah, saudaraku pendeta Dorna memang sehati denganku,” lanjut patih.

“Salah satu pasti ada yang membawa cincin itu. Ambil cincinnya, bunuh pemiliknya, ha..ha..ha..”

“Wua..ha..ha..ha, hebat, hebat,” Prabu Suyudana menepuk-nepuk paha. “Siasat paman memang selalu hebat.”

“He tunggu Kakang Prabu,” potong Arya Dursasana. “Siapa yang akan melaksanakannya?”

“He..he..he…, tentu saja angger tak perlu khawatir,” sahut Sangkuni seraya melirik Arya Dursasana. “Angger tak perlu meninggalkan selir baru angger itu he..he..he, bukankah ada saudaraku yang soleh pendeta Dorna?”

“Sampai hati saudaraku merepotkan tua bangka ini.” Doma bersungut sungut. “Kapan encok dan sakit pinggangku akan sembuh?”

“Tidak pendetaku, tidak seburuk itu, Tuan hanya memimpin, pelaksanaanya tentu bisa Tuan serahkan pada yang lain. Pilihlah satria-satria terbaik kita,” papar Sangkuni. (Bersambung)

Check Also

LAKON MAHARAJA GAREBEG JAGAT (Bagian 12)

LAKON MAHARAJA GAREBEG JAGAT (Bagian 10)

Maharaja Garebeg Jagat – Tersebutlah seorang Penyalin dan Pengarang Sastra Melayu di Tanah Betawi pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *