Tag Archives: Wayang Kulit Betawi

Ruwat

Ruwat

Oleh : Tim Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi Ruwat menurut KBBI, artinya pulih kembali sebagai keadaan semula; terbebas dari nasib buruk yang akan menimpa (tentang orang yang menurut kepercayaan akan tertimpa nasib buruk). Meruwat artinya memulihkan kembali sebagai keadaan semula atau membebaskan orang dari nasib buruk yang akan menimpa. Ruwat Dengan …

Baca Selanjutnya »

RENGGAN

RENGGAN

Oleh : Tim Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi Renggan bisa diartikan pemanis, atau penghias, bentuknya mirip suluk. Hal ini sangat terkait dengan olah vokal dan irama lagu sang dalang sendiri. Jika dalang bersuara indah, tentu sangat nikmat bagi pendengar atau penontonnya. Para dalang wayang kulit Betawi biasa mengucapkan renggan saat menjelang …

Baca Selanjutnya »

SULUK

Suluk

  Oleh : Tim Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi SULUK – Ada pendapat yang menyatakan bahwa suluk (bahasa Arab), kira-kira dapat diartikan seloka (bahasa Sanskrit, seloka artinya syair atau puisi yang mengandung ajaran). Sedang dalam pedalangan Betawi suluk kira-kira diartikan sebagai kekawin yang dikawinkan. Suluk diucapkan saat ki dalang mengeluarkan tokoh-tokoh …

Baca Selanjutnya »

KEKAWIN

KEKAWIN

Oleh : Tim Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi Kekawin atau kakawin sebenarnya adalah syair/puisi berbahasa Jawa kuno. Tapi dalam kaitan wayang kulit Betawi, bisa diartikan berbahasa Kawi (Jawa Kuno). Seberapa banyak bahasa itu digunakan, tergantung dari kemampuan masing-masing dalang. Kekawin figunakan saat: Murwa, saat akan memulai lakon. Jejer, saat akan mengeluarkan …

Baca Selanjutnya »

JANTURAN DALAM WAYANG BETAWI

JANTURAN DALAM WAYANG BETAWI

Oleh : Tim Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi JANTURAN DALAM WAYANG BETAWI – Dalam bahasa Jawa, janturan disebut simpingan atau posisi. Arti janturan atau simpingan adalah susunan wayang. Ada sebagian wayang tertentu di sisi kiri dalang, ada yang berada di sisi kanan dalang. Itu semua memiliki aturan yang sudah baku. Sisi …

Baca Selanjutnya »

GUNUNGAN DALAM WAYANG BETAWI

GUNUNGAN DALAM WAYANG BETAWI

Oleh : Tim Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi GUNUNGAN DALAM WAYANG BETAWI – Gunungan memeliliki peran yang sangat penting dalam mendalang. Gunungan atau terkadang disebut kayon melambangkan alam dan seluruh unsur kehidupan di dalamnya.   Makna Gunungan Menurut pemikiran Hindu, gunungan melambangkan penyatuan unsur-unsur kehidupan yang menjadikan seluruh alam. Unsur itu …

Baca Selanjutnya »

Keharusan dan Larangan dalam mendalang (Bagian 1)

Keharusan dan Larangan dalam mendalang (Bagian 1)

Oleh : Tim Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi Keharusan dan Larangan dalam mendalang (Bagian 1) – Mendalang adalah suatu keahlian yang mencakup bidang yang sangat luas. Di antaranya adalah kemampuan vokal, menabuh, kesusastraan, melawak, menari dan pidato. Memang, tak semua ketrampilan itu perlu dikuasai sepenuhnya. cukup sekedar tahu aturan-aturannya saja. Dalam …

Baca Selanjutnya »

TERTIB MENDALANG

Tertib Dalang

Oleh : Tim Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi   TERTIB MENDALANG – Untuk mendalang, ada tata tertib yang harus dipatuhi. Tata tertib itu disesuaikan dengan pandangan-pantangan dan kebiasaan umum di masyarakat. Tak ada dalang yang berani melanggar tata tertib itu. Ini tata tertib mendalang cara Betawi : Adab Sebelum Mendalang. Ki …

Baca Selanjutnya »

DOMINASI DALANG (Bagian 5)

DOMINASI DALANG (Bagian 5)

Oleh : Tim Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi   Hubungan Dalang-Anak atau Guru-Murid DOMINASI DALANG (Bagian 5) – Karena anak biasanya akan memulai kariernya sebagai dalang ketika ayahnya masih segar bugar, maka sebenarnya berarti ia akan menjadi ancaman terhadap kemasyhuran sang ayah. Dalam kenyataannya sampai pada taraf tertentu, persaingan di antara …

Baca Selanjutnya »