9. Pantangan-pantangan yang harus dihindari.
Di dalam upacara Baritan ini tidak ada pantangan-pantangan khusus yang berlaku bagi para peserta maupun pengunjung umumnya kecuali pada waktu itu kami sebagai peneliti dilarang untuk memotret kuburan dair Embah Kudung dan Embah Uyut yang ada di ruangan dalam. Begitu juga yang boleh masuk ke ruangan tersebut hanya juru kunci sendiri atau keluarga terdekat. Dari warga masyarakat sendiri menyadari bahwa penyelenggaraan upacara Baritan merupakan suatu usaha bersama secara gotong-royong, dari masyarakat untuk masyarakat, baik masyarakat manusia maupun masyarakat makhluk halus. Oleh karena itu merekamulai dari awal sampai dengan penutupan upacara betul-betul mengikuti upacara secara tertib. Walaupun di dalam upacara itu sendiri tidak ada pantangan-pantangan yagn mengikat. Tetapi ad sesuatu kekhususan, karena upacara ini merupakan suatu perbuatan yang dianggap keramat, tidak seorang pun dari mereka yang berani menggunakan uang anggaran upacara bagi kepentingan peribadi. Alas an mereka takut trkena musibah, karna uang tersebut untuk keselamatan bersama. Begitujuga bila biaya untk hiburan terbatas, kelompok kesenian tetap menerimanya dengan segala senang hatiuntuk menghibur masyarakat baik manusia maupun makhluk halus. Biasanya pada alat-alat musik Tanji sebelum akan dimulai harus diberi suguhant erlebih dahulu, yang maksudnya tkut di antara para pemainnya terkena hal-hal yang tidak diinginkan seperti kesurupan, keluargnaya sakit dan sebagainya.
10. lambang-lambang atau makna yang terkandung dalam unsur Upacara Bebarit
nasi congcot putih dan kuning, sebagai lambang bendera Indonesia. Mengapa nasi Congcot putih dan kuning dinyatkan sebagai lambang bendera Indonesia ?
Karena menurut informasi dari informan di tempat upacara Baritan, warna kuning dari putih pada Nasi Congcot lambing dan maknanya sama dengan Nasi Bubur merah dan putih. Warna merah dan kuning sebagai lambang ‘bumi’ termpat manusia berada, sedangkan warna putih sebagai lambang ‘langit’ tempat para makhluk halus tinggal. Kedua alam itu harus bisa hidup rukun dan damai, saling memberi dan saling menghormati melalui upacara Baritan
