4. Tempat Penyelenggaraan Upacara Bebarit.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kehidupan makhluk halus tak berbeda dengan kehidupan manusia. Mereka perlu mencari makan dan minum, merekapun perlu tempat tinggal. Hanya waktu mencarinya ada saatnya. Makhluk halus mencari mangsa/makan biasanya pada waktu pergantian antara siang dan malam, ada pula saat teriknya sinar matahari. Karena itu timbul kepercayaan dan larangan bagi manusia untuk tidak berkeliaran pada waktu tengah atau waktu maghrib. Tempat makhluk halus mencari makan biasanya di persimpangan/ di perempatan jalan atau tempat-tempat tertentu. Karena itu upacara Bebari menyajikan makanan bagi makhluk-makhluk halus di tempatkan di tempat-tempat persimpanganjalan, sumber air, pohon-pohon dan makam kremat. Bila suatu tempat dipakai untuk upacara Bebarit maka di tempat-tempat lain yang dianggap tempat tinggal para makhluk halus, harus disajikan pula sesajen setelah upacara pokok berakhir.
Tempat penyelenggaraan upacara Bebarit di Kampung Pondok Ranggon diselenggarakan di Pasarean makam Keramat Ganceng ,dan untuk pemasangan ancak yang dianggap tempat makhluk-makhluk halus di pertengahan kampung, empat penjuru kampung sesuai dengan arah mata angin Barat, Timur, Selatan dan Utara.
Mengenai tempat Pasarean Keramat Ganceng menurut ceritanya penduduk setempat mengenai asal usulnya tidak terlepas dari asal usul kampung Pondok Ranggon sendiri.
Diceritakan bahwa, pada suatu ketika datang ke kampung tersebut seorang kakek-kakek yang tidak diketahui identitasnya. Di tengah perjalanan bertemu dengan seorang nenek-nenek yangjuga tidak diketahui asal usulnya. Mereka akhirnya hidup berkeluarga sebagai suami istri dan mendirikan rumah di kampung tersebut yang bentuk bangunanya menyerupai “Ranggon”, yaitu rumah panggung. Bentuk bangunanrumah demikain di beberapa temapt masih ada, yang nampaknya bentuk bangunan tersebut pengaruh dair arsitektur rumah tradisional orang Sunda. Hal ini dimungkinkan karena lokasi Pondok Ranggon sendiri pada waktu lalu sebagian termasuk wilayah daerah Jawa Barat.
Akhirnya nama kampung tersebut oleh penduduk dinamakankampung Ranggon, si Kakek dan si Nenek oleh penduduk setempat terkenal dengan sebutan “Embah Santri”. Embah Santri ini orang yang mempunyai kekuatan sakti yang dapat “mencala putra mencala putrid”, bisa berubah menjadi laki-laki atau wanita. Sebelu meninggal dunia beliau berpesan supaya kelak nama darah tersebut dinamakan Pondok Ranggon dna penduduknya setiap tahun sekali harus mengadakan selamatan (mawar) dengan diramaikan tanggapan (tontonan) sebagai hiburan.
