Selametan
( Selamatan Foto : Rudy_albdr )

Upacara Makanan Bersama Yang Disesuaikan Dengan Jenis Acara

Proses pembuatan dodol memakan waktu cukup lama, dua hari dua malam. Pekerjaan pertama adalah belanja membeli bahan mentah untuk dodol. Selanjutnmya mencari tukang ngaduk dan meminjam kawa atau wajan berukuran besar. Dulu kawa berukuran besar yang mampu menampung adonan dodol 25 kilogram hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Tukang ngaduk biasanya memahami tatacara pembuatan dodol. Perbandingannya (baik beras ketan maupun beras biasa) berkisar 1:2:4. Artinya jika beras satu kilogram, gulanya dua kilogram, dan kelapanya empat buah.

Sampai hari H, dilakukan ritual ngukup atau slametan memohon izin dan permohonan kepada Allah SWT agar dodol yang dibuat mendapat keberkahan. Di atas tumang atau tungku (tungku biasanya terbuat dari pangkal pohon pisang) ditancapkan sate berbahan cabe, bawang, dan terasi. Pada jaman dahulu (Pra-Islam) ritual ini ditujukan kepada Dewi Sri, dewi kemakmuran dan kesuburan.

Barulah kemudian aktivitas menumbuk beras, memarut kelapa untuk santan, membuat minyak kelapa, memasak gula merah, dan membuat adonan dikerjakan bersama-sama. Waktu menumbuk beras biasanya dimulai ampir siang (dini hari) berbarengan dengan waktu sahur. Keluarga yang ngaduk dodol dapat diketahui dari suara tumbukan beras di pane (lesung). Karena saat menumbuk beras merupakan waktu yang relatif sepi, maka bunyi alu beradu dengan lesung akan menciptakan suara amat ganjil. Dari bunyi itu orang tahu bahwa ada keluarga yang sedang membuat dodol.

Check Also

SEJARAH, FILOSOFI DAN BUDAYA MAKAN GEPLAK DI BETAWI (Bagian Pertama)

SEJARAH, FILOSOFI DAN BUDAYA MAKAN GEPLAK DI BETAWI (Bagian Pertama)

HUT Kota Jakarta ke – 495, Dinas Kebudayaan bekerjasama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi mengadakan rapat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *