
masyarakat, misalnya ketupat, nasi uduk, nasi ulam, tumpeng, lauk-pauk (semur daging, sate, opor, laksa, toge goreng, pesmol, ikan goreng/pepes, telor asin, sayur asem, sayur lodeh, sayur sambel godog, gado-gado, tahu, tempe, dan lain-lain), buah-buahan (pisang, rambutan, duku, apel, anggur, pepaya, pir, jeruk, mangga, jambu, dan sebagainya), dan macam-macam kue khas Betawi (dodol, geplak, cucur, uli, wajik, ketimus, cincin, apem, jongkong, kembang goyang, pepe, onde- onde, unti, lontong, lepet, dan lain-lain). Semua makanan itu bebas dimakan dan dibawa pulang oleh peserta yang datang mengikuti upacara, apakah warga sekitar atau masyarakat pada umumnya. Hari itu bukan hanya makhluk halus, khususnya Dewi Sri, yang bersenang-senang karena disuguhi sesajen, tapi masyarakat pun berbahagia dapat menikmati aneka santapan melimpah.
Dewi Sri yang dalam upacara bebarit maupun upacara bertani tidak divisualisasikan, ia hanya ada dalam alam keyakinan. Namun pada upacara mangkeng, menjelang pesta pernikahan, Dewi Sri divisualisasikan oleh dukun pangkeng. Dukun itu sengaja memvisualisasikan dirinya dengan berdandan secantik mungkin mendekati kecantikan Dewi Sri.
