Malam itu Dewi Sri, seperti juga tuan rumah, sibuk mempersiapkan segala minuman dan makanan untuk menghormati dan melayani tamunya. Berbagai jenis minuman dan makanan disediakan.Tamu yang hadir bebas memilih makanan dan minuman apa yang disenanginya. Tidak ketinggalan sirih dengan bumbu nyirihnya untuk para tamu wanita, dan berbagai jenis dihidangkan untuk tamu pria.
Pagi sekali Dewi Sri sudah bangun dan mandi. Selanjutnya ia merias diri sebagaimana layaknya seorang wanita. Bedak diambil dan dipulaskan ke kulit wajahnya yang halus. Pewarna hitam dioles-oleskan ke alis dan bulu mata. Rambutnya yang ikal dan panjang disisir rapi, dibentuk sanggul sesuai selera. Giwang dan gelang dipakainya. Demikianlah Dewi Sri yang cantik kian bertambah cantik.
Dewi Sri kemudian keluar kamar, untuk memeriksa seluruh persiapan dan perlengkapan. Makan, minuman dan masakan yang bakal dihidangkan bila perlu dicicipi serba sedikit. Kadang- kadang ia memeberi petunjuk kepada pembantunya apa yang harus diutamakan. Ia berusaha agar semua persiapan dan pelayanan kepada tamu tidak mengecewakan. Setelah semua persiapan dianggap cukup kemudian ia menuju ruang tamu, dan duduk di atas tikar beralaskan kain putih. Sambil menanti kedatangan tamu, Dewi Sri makan sirih dengan sekali-kali diselingi minum dan makan makanan kecil yang tersedia.
